SEMUA jamaah haji pada dasarnya berharap ibadah hajinya terhitung sebagai haji yang Mabrur di sisi Allah Azza Wajalla, betapa tidak demikian, surga yang menjadi pahala dari haji Mabrur betapa adalah satu tujuan yang sangat dirindu dan didambakan oleh setiap muslim kini sebab-sebabnya seolah telah berada di depan mata. Akan rugilah jika kesempatan meraih surga menjadi sia-sia.
Dalam hadits disebutkan: Dari Abu Hurairah beliau berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda: Haji yang Mabrur tiadalah baginya pahala kecuali surga. (HR: An-Nasai dan Ath-Thabrani dalam Al-Mujamul Kabir dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu.)
Haji Mabrur juga adalah pemupus dosa-dosa, sehingga siapa saja yang mendapatkan haji Mabrur maka seolah ia kembali sebagaimana seorang bayi yang baru terlahir kembali, bayi tentunya lahir tanpa membawa salah dan dosa.
Dalam Hadits disebutkan: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu beliau bertutur: Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Siapa saja yang berhaji karena Allah (lalu kemudian ia) tidak melakukan Rafats (baca: berbicara atau berbuat tidak senonoh menjurus ke arah nafsu birahi) dan tidak berbuat kefasikan, ia akan kembali seperti hari dimana ibu melahirkannya. (HR: Bukhari.)
Berdasarkan hadits ini sekaligus sebagai penjelas yang nyata akan jalan dan cara meraih haji yang Mabrur, yaitu dengan menjauhi segala macam ucapan dan prilaku yang dapat mengurangi atau mencederai keutuhan ibadah haji itu sendiri, terlebih lebih jika sampai merusaknya karena mencampur adukkannya dengan maksiat.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathulbary menukil dari Imam Al-Qurthuby mengatakan: Dan berkata Al-Qurthuby: pendapat-pendapat yang telah disebutkan dalam hal tafsirnya (baca: haji Mabrur) satu dengan yang lainnya memiliki makna yang berdekatan, yaitu; sesungguhnya haji Mabrur ialah haji yang ditunaikan hukum-hukumnya dan pelaksanaannya terlaksana sesuai dengan apa yang diperintahkan atas seorang Mukallaf (baca: seorang yang telah mencukupi syarat-syarat menjadi seorang yang wajib menjalankan perintah Agama) dengan cara yang paling sempurna. Wallahu Alam.
Lalu apakah ada tanda atau ciri ciri seorang mendapat haji Mabrur? Untuk mengetahui jawabannya, marilah kita hayati hadits berikut ini yang disebutkan oleh Al-Mundziry Rahimahullah dalam kitabnya At-Targhib Wat Tarhib;
Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Nabi bersabda: Haji Mabrur tiadalah baginya pahala kecuali surga, (Nabi) ditanya: dan apakah (bentuk) kemabrurannya? Nabi menjawab: memberi makan dan ucapan yang baik. (Imam Al-Mundzry berkata) Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrany dalam Al-Austah dengan Sanad (baca: rantai periwayatan) yang Hasan, dan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, dan oleh Albaihaqy, dan oleh Al-Hakim secara ringkas dan ia (Al-hakim) berkata: Sanadnya Shahih.
Berdasarkan dari hadits di atas bahwa sebagian dari tanda mabrurnya haji seseorang yaitu: Pertama, santun dalam bertutur kata (thayyibul kalam). Kedua, menebarkan kedamaian (ifsyaus salam). Ketiga, memiliki kepedulian sosial yaitu mengenyangkan orang lapar (ithamut thaam).[]