*Syamsiah Ismail, M.Pd.

Peserta pelatihan angkatan kedua ketika itu berlangsung di ruangan adem aula mini Dinas Pendidikan Provinsi mengingat jumlah peserta pelatihan masih tujuh belas orang. Namun sayang, banyak peserta gelombang pertama mengundurkan diri dengan alasan, “Saya gak ada bakat menulis. Bakat saya tinggal di laut.”

Hal itu terungkap ketika saya menelepon seorang teman yang bertempat tinggal di Kabupaten Gayo Lues. Saya menanyakan ketidakikutsertaannya dalam angkatan kedua. Sebenarnya angkatan pertama tulisannya sudah mulai teraba ke mana arahnya. Namun  sayang, beliau tidak tergerak menyelesaikan karya perdananya.

Pada kegiatan tersebut semua peserta diajak mencari buku online. Para peserta diarak menuju ke sebuah warung internet (warnet) yang beralamat di Peunayong.

Pertama sekali dalam hidup saya mencari berita di internet. Sungguh luar biasa ternyata sangat mudah dalam mengakses data yang dibutuhkan. Dari warnet, lalu kami diajak ke toko buku Zikra beralamat di Jalan Muhammad Jam. Toko buku yang lumayan besar itu sering saya kunjungi kalau ke Banda Aceh.

Setibanya di toko buku tersebut, para peserta diingatkan oleh Pak Budianta, “Carilah buku yang menurut Anda menarik. Lalu bawa pulang, kita akan bahas di ruang diklat.” Maka saya pun memilih dua buah buku. Satu judul cerita untuk anak-anak dan satu lagi buku motivator.

Hari telah siang. Usai sudah waktu mengunjungi toko buku. Kami segera ke mobil yang disiapkan panitia. Usai istirahat dan salat zuhur, peserta diberi beberapa pertanyaan yang ditulis di white board.

  1. Berapa buah buku yang Anda bawa pulang?
  2. Apa saja judulnya?
  3. Mengapa Anda membeli buku itu?

Pertanyaan yang terpampang di white board kemudian menjadi bahan diskusi yang menarik. “Saya memilih buku cerita untuk anak-anak karena pekerjaan saya guru SD. Bagi anak-anak usia SD guru yang menarik adalah yang pintar bernyanyi, menari, dan bercerita. Saya beli buku motivator karena buku itu membahas keberhasilan hidup seseorang. Buku tersebut dapat menjadi motivasi bagi saya.” Demikian jawaban saya atas dua buku yang saya bawa pulang.

Ada jawaban yang menggelikan, “Saya beli karena sudah dipesan Pak Eka,” “Saya suka melihat sampulnya yang warna-warni. Begitu buka halaman seperti kertas fotokopi. Kecewa saya!”  Beraneka jawaban teman-teman saat itu. Diskusi menjadi semangat, tak terasa suasana Puasa.

Ketika itulah saya mengerti, mengapa sebuah buku menjadi menarik untuk dikonsumsi publik? Apa kriteria sebuah buku masuk kategori best seller (penjualan laris)? Banyak jawaban yang saya dapatkan di luar sepengetahuan saya.

Para peserta diklat diberi waktu 15 menit untuk menulis apa yang ingin ditulis. Bebas mencari tempat yang nyaman untuk menemukan ide. Saya memilih duduk luar, duduk di bawah pohon tanjung yang berada di halaman belakang sebagai taman penyejuk kantor.

Pulpen bertinta silver merk bazic menyertai tulisan saya. Saya suka pulpen warna metalik dengan aneka warna. Dalam durasi 15 menit lahirlah tulisan saya dengan judul Puisi untuk Anak. Dalam puisi itu saya buatkan background (latar) setiap puisi dengan warna-warni metalik sehingga menurut saya itu sudah menarik.

Waktu yang ditentukan habis. Semua tulisan peserta sebanyak 17 judul kemudian diapresiasikan oleh anak-anak usia SD. Mereka berjumlah sepuluh orang dijemput dari sebuah sekolah yang sedang berlangsung pendidikan Ramadan.

Anak-anak tersebut diberi ruang untuk membaca dan memutuskan mana tulisan terbaik menurut usia mereka. Alhamdulillah, karya saya masuk 3 pilihan terbaik. Dari tiga itu menjadi the best lagi sehingga buku Pohon-Pohon Budianta sah menjadi hadiah buat saya, langsung dari penulisnya, Pak Eka.

Sungguh gembira hati saya. Jika kali ini talenta menulis saya mulai ada wadah tempat berlatih. Terpenting lagi hal menjadi pukulan gong pertama saya untuk mengasah menulis.  

Konsep Dasar Menulis

Seandainya disadari dengan sebenarnya, menulis merupakan pekerjaan yang mengasyikkan. Kita dapat menuangkan ide pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan. Ide yang tertulis tersebut dapat dibaca sendiri oleh penulisnya tanpa ragu hilang atau diketahui orang lain (jika dianggap rahasia).

Saya pribadi senang menulis semenjak duduk di kelas 2 MIN. Saya masih ingat persis, ketika waktunya tiba pelajaran Bahasa Indonesia saya paling bersemangat.

Saya sangat menikmati tulisan halus kasar menyusun kata menjadi kalimat yang benar, mengisi kalimat rumpang (belum selesai), membuat cerita bergambar, membuat kalimat berdasarkan kata yang tersedia, menjodohkan kalimat sesuai dengan kata yang tersedia, dan lain-lain materinya. Yang membuat saya lebih tertarik adalah ketika guru Bahasa Indonesia memberi tugas kepada murid berupa membuat karangan berdasarkan gambar.

Menulis dapat dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja berada. Menulis tak hanya dilakukan oleh orang yang memiliki bakat minatnya saja, tetapi juga dapat dikerjakan oleh orang yang tak buta aksara. Seseorang tidak akan mengetahui dirinya mampu menulis jika tidak pernah mencobanya.

Menulis sebuah proses yang harus dilalui oleh seseorang. Apa pun yang ditulis tidak ada yang sia-sia karena  suatu saat kelak yang ditulis akan menjadi ilmu yang sangat bermanfaat bagi diri dan orang lain. Bagi saya menulis merupakan salah satu hobi. Saya dapat menulis benda yang mati menjadi hidup.

Tulisan ini juga bagian dari yang pernah saya tulis empat tahun lalu, tetapi belum saya akhiri. Jika hari ini Anda baca, berarti tulisan yang telah lahir 4 tahun lalu ini tak sia-sia. Subhanallah!

Kata Imam Ali, “Ikatlah ilmu dengan cara menuliskan”, artinya menulis merupakan kegiatan menuangkan ide, gagasan, pengetahuan secara tertulis untuk mengikat ilmu yang dimiliki sehingga lebih abadi dan dapat diwariskan kepada pembacanya. Demikian narasumber Pak Adnan menyampaikan pada diklat tersebut.

Berbicara dan menulis memiliki kesamaan, yakni sama-sama mengeluarkan ide dan pendapat. Cuma bedanya, kalau bicara itu mengeluarkan ide dengan melafazkannya melalui lisan atau isyarat/gerakan. Menulis mengeluarkan gagasan melalui tulisan.

Menulis tak dapat dipisahkan dengan kegiatan intelektual dan kemasyarakatan sebab dalam pelaksanaannya diperlukan bentuk ekspresi ide, pikiran, dan gagasan yang dituang ke dalam media tulis.

Melalui tulisan-tulisan itulah pikiran-pikiran tersebut dapat dibaca dan dipahami orang lain. Oleh karena itu, menulis merupakan ekspresi diri yang dapat dilakukan setiap orang segampang ngomong sebab tulisan merupakan curahan hati, perasaan, dan pikiran seseorang sebagaimana yang diomongkan. Penulislah yang memiliki ide, memilih kata, menentukan tema, dan menyusun kalimat dari awal sampai akhir sehingga menjadi ide yang utuh.

Menulis dan membaca merupakan dua elemen yang saling mendukung dan tak dapat dipisahkan. Menulis tanpa membaca ibarat orang buta berjalan. Artinya, dalam proses penulisan, seseorang akan mengalami banyak kesulitan, tertatih-tatih, dan sekali-kali berjalan, lalu berhenti karena tidak tahu arah selanjutnya.

Sementara itu membaca tanpa menulis seperti orang pincang. Artinya, pengetahuan yang dimiliki tidak bermanfaat untuk orang lain. Ilmu yang ada tidak dikembangkan dan disampaikan kepada orang lain melalui lisan atau tulisan kiranya kurang memberikan makna dalam kehidupan.

“Motivasi merupakan sesuatu yang membuat Anda mulai melangkah, sedangkan kebiasaan adalah apa yang membuat Anda terus melangkah/ Motivation is what gets you started. Habit is what keeps you goin.” Begitulah kata Jim Ray yang pernah saya baca di sebuah buku motivasi.

Motivasi merupakan modal utama seseorang untuk tulis menulis. Agar bisa dan mau menulis, harus ada dorongan dari diri sendiri yang datang dalam jiwa terdalam. Tak boleh ada yang memaksa dan melakukannya tidak karena tekanan.

Menulis merupakan kreativitas yang didasarkan pada fungsi berpikir, merasa, dan mengindera. Unsur-unsur tersebut diperlukan agar tidak kehabisan tema yang akan ditulis. Kreativitas dalam hal ini tidak sekadar menciptakan tema-tema baru, tetapi juga diperlukan kemauan dan keberanian berpikir divergen, yaitu pikiran yang tidak biasanya, bahkan dalam keadaan tertentu harus berani melawan arus.

Motivasi akan menghasilkan produk tinggi apabila dibarengi dengan kemampuan (ability) yang tinggi. Tanpa kemauan dan keberanian untuk mencoba, seseorang tidak akan mengetahui bakat dan kemampuan dirinya. Menulislah selagi Anda mampu menggerakkan jari-jari Anda.

Jangan hanya menyimpan tulisan di catatan hati saja sebab ketika hati sakit, sedih, gembira, ingin dimanja, dan sebagainya, Anda masih dapat membaca kapan Anda buka tulisan Anda.

Guru SD juga bisa bermimpi menjadi penulis. Jawaban ada pada diri si guru tersebut.  Saya sudah berani buktikan. Step by step (selangkah demi selangkah) dan slowly, but sure (pelan, tapi pasti) itu yang sering saya ingat.

Pastinya, tulisan saya sudah pernah meraih juara nasional pada Sayembara Menulis Buku Bacaan Anak Kelas Rendah SD (1,2,3) hajatan Kemendiknas. Saya telah membuktikan bahwa guru SD bisa menulis. Saya takkan berhenti menulis.

Semoga tulisan kecil ini bermanfaat buat saya dan orang lain serta menjadi sumber inspirasi buat guru dan ladang-ladang amal dalam hidup saya. Amin![]

*Syamsiah Ismail, M.Pd. adalah guru SDN 7, Banda Sakti, Lhokseumawe.