TERKINI
SPORT

Generasi Terakhir Perempuan Dayak Berkuping Panjang (Bagian 1)

BAGIAN 1 Bertaruh Nyawa Menuju Kampung Kami terkejut saat seseorang menyebut angka Rp 5 juta untuk jasanya memenuhi keinginan kami menuju Long Apari, sebuah kampung…

DETIK Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 16 menit
SUDAH DIBACA 1.4K×

BAGIAN 1

Bertaruh Nyawa Menuju Kampung

Kami terkejut saat seseorang menyebut angka Rp 5 juta untuk jasanya memenuhi keinginan kami menuju Long Apari, sebuah kampung paling ujung di Kalimantan Timur. Saat itu, pada pertengahan Oktober 2016, kami baru saja tiba di Tiong Bu'u, Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu.

Ces atau sampan bermotor katinting khas Dayak pedalaman yang mengantar kami dari Long Isun, Kecamatan Long Pahangai, tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Long Apari. “Terlalu berisiko,” ujar Jiuq, motoris ces dari Datah Suling, Long Isun.

Seminggu telah lewat, saat Kompas.com bersama penulis buku Kuping Panjang, Ati Bachtiar, fotografer travel Ebbie Vebri Adrian, dan petualang wanita Ria Bazoeki menyambangi kampung-kampung di sepanjang aliran Sungai Mahakam bagian hulu. Kami ditemani pemandu asal Dayak, Claudia Sarita Naning.

Keinginan merekam generasi terakhir perempuan Dayak berkuping panjang membawa kami menempuh perjalanan beribu kilometer hingga ke ujung Sungai Mahakam. Sungai yang di tepinya dihuni kampung-kampung suku Dayak itu telah menjadi urat nadi pergerakan masyarakat yang hidupnya bergantung dari aliran air sungai.

Sungai itu pula yang menentukan lancar dan tidaknya arus transportasi dari Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur, hingga ke berbagai pelosok di pedalaman.

“Jika air sedang pasang karena ada banjir, perjalanan akan sangat berisiko karena banyak kayu hanyut yang sewaktu-waktu menghantam speedboat. Sementara kalau sedang surut saat kemarau, speedboat tidak bisa jalan karena bisa menabrak batu,” kata Alex Tekwan, pemilik speedboat Irari yang melayani rute Long Bagun ke Tiong Ohang.

Kondisi permukaan air sungai yang bisa berubah setiap saat itu membuat biaya transportasi sungai ke Mahakam Ulu menjadi sangat mahal. Setelah mencari informasi di sana-sini, kami akhirnya bersepakat menggunakan ces yang lebih besar dengan mesin katinting 31 PK.

Kami mendapat setengah harga Rp 2,5 juta setelah bernegosiasi cukup lama dan mengutarakan keinginan kami untuk sebuah pendokumentasian. Namun, bagi warga Long Apari, tidak ada pilihan selain menerima kondisi ini apa adanya. 

Ces yang dikemudikan oleh Mansyah (29) dan Belareq (23) secara bergantian itu bertolak dari Tiong Bu'u pukul 12.00 waktu setempat dan menempuh perjalanan selama tiga jam. Ces itu hanya bisa memuat lima penumpang yang duduk saling berdesakan tanpa bisa bergerak leluasa.

Arus yang berputar di beberapa riam serta gelombang yang ditimbulkannya memaksa Mansyah dan Belareq harus cekatan dan tepat mengemudikan ces. Hilang konsentrasi atau terlambat sedikit, ces bisa terbalik dan akan fatal bagi penumpangnya.

Di salah satu riam yang diberi nama Riam 611, kami diminta turun. Hal ini harus dilakukan karena arusnya cukup kuat dan ombaknya besar serta tidak beraturan.

“Riam ini dinamakan sesuai dengan nama Batalyon Infanteri 611 yang kala itu menjaga pos perbatasan di Long Apari. Waktu itu, anggota TNI yang melewati riam ini, perahu mereka terbalik dan satu anggotanya hilang diseret arus,” jelas Mansyah.

Perjalanan dilanjutkan ke Long Apari hingga kami tiba pukul 15.00. Walau perjalanan cukup ekstrem, tetapi semua itu terbayarkan oleh pemandangan memesona di sepanjang rute yang dilewati.

Long Apari adalah sebuah kampung paling ujung yang berbatasan dengan Malaysia. Di kampung ini telah dibangun Pos Pengamanan Perbatasan RI-Malaysia. Pos ini dijaga oleh 16 prajurit TNI.

Long Apari dihuni oleh 158 kepala keluarga yang terdiri dari 602 jiwa. Mereka merupakan subsuku Dayak Penihing dan Ahoeng.

“Kami sangat jarang kedatangan orang (dari) kabupaten. Nanti kalau masa kampanye, baru mereka datang,” ujar Anyeq (42), seorang pedagang di Long Apari.

Jika air sungai sedang normal, bensin berharga Rp 25.000 per liter, gula pasir Rp 20.000 per kilogram, dan semen Rp 400.000 per zak. Namun, jika air sedang surut atau banjir, harganya bisa dua kali lipat.

“Tidak ada dokter di sini. Yang ada hanya puskesmas pembantu yang dijaga perawat dan bidan. Jadi, jika sakit berat, kami harus ke Tiong Ohang atau ke Ujoh Bilang,” keluh Anyeq.

Dari Samarinda

Mahakam Ulu adalah sebuah daerah otonom baru di Kalimantan Timur. Kabupaten ini dimekarkan dari kabupaten induknya, Kutai Barat, pada Desember 2012. Memiliki luas 15.314 kilometer persegi, wilayah Mahakam Ulu terbentang di sepanjang pesisir Sungai Mahakam bagian hulu.

Di Sungai Mahakam sepanjang 920 kilometer itu, transportasi utama warga di lima kecamatan kabupaten tersebut adalah transportasi air. Dari Samarinda, akses dapat dilakukan dengan dua cara, yakni menggunakan taksi air atau pesawat terbang.

Jika menggunakan taksi air, warga harus menghabiskan waktu selama sehari semalam sampai di Melak, Kabupaten Kutai Barat. Masih tambah semalam lagi ke Ujoh Bilang, ibu kota Mahakam Ulu.

Dari Ujoh Bilang menuju ke kampung-kampung lainnya dapat menggunakan speedboat atau longboat dengan tarif sangat mahal.

Penerbangan dari Samarinda ke Bandara Datah Dawai di Long Lunuk, Kecamatan Long Pahangai, sangat terbatas. Saat ini hanya ada satu maskapai milik Susi Air dengan pesawat tipe propjet yang melayani transportasi udara. Itu pun hanya dua hari sekali. Sekali jalan hanya mampu mengangkut 12 penumpang.

Rute sungai dari Ujoh Bilang atau Long Bagun ke kecamatan-kecamatan di bagian hulu adalah perjalanan yang cukup berisiko. Hanya motoris terlatih yang bisa melewatkan speedboat atau longboat mengatasi riam-riam ganas, seperti Riam Udang dan Riam Panjang.

Risiko itu membuat tarif sekali angkut penumpang bisa mencapai Rp 500.000 per orang, belum termasuk barang bawaan. Ketika air pasang, tarif sewa speedboat bisa mencapai Rp 22 juta sekali tempuh.

Lewati Riam

Dari Ujoh Bilang atau Long Bagun, perjalanan sesungguhnya dimulai.

Ada dua pilihan untuk menuju ke Tiong Ohang, yaitu menumpangi speedboat dengan kecepatan hingga 400 PK atau memilih menggunakan longboat yang lebih lambat. Dengan speedboat, waktu tempuh antara empat sampai lima jam dan untuk longboat dua kali lipatnya.

Melawan arus aliran sungai dari hulu adalah perjalanan penuh tantangan. Baik speedboat maupun longboat akan melewati beberapa arus besar kala bertemu riam.

Melawan arus upstream dan menyelinap di antara batu-batu raksasa merupakan pengalaman tak terlupakan. Beberapa penumpang yang bersama kami tak tahan untuk tidak berteriak. 

“Kepenatan tubuh karena terbanting-banting selama perjalanan niscaya akan terbayarkan oleh pemandangan yang dilewati.”

Di kala permukaan air sedang naik, beberapa riam akan menjadi ganas. Rintangan kayu-kayu raksasa yang hanyut adalah risiko berikutnya.

Saat air surut karena kemarau, perjalanan juga akan terhalang dengan permukaan batu yang menonjol dan siap menghantam badan speedboat.

“Yang paling pas jika airnya sedang-sedang saja,” ujar Alex Tekwan, motoris berpengalaman yang membawa kami. 

Kepenatan tubuh karena terbanting-banting selama perjalanan niscaya akan terbayarkan oleh pemandangan yang dilewati. Dinding batu raksasa dari batuan karst, hutan yang masih hijau, kicau burung-burung, serta beberapa air terjun sulit untuk tidak membuat kita kagum.

Bergantung pada Ces

Persahabatan Jiuq dan Bang begitu akrab. Dua pemuda suku Dayak Bahau Busang ini tinggal di Datah Suling, Long Isun, sebuah kampung di tepi hulu Sungai Mahakam.

Bang mewarisi kecakapan leluhurnya memainkan sapeq, alat musik petik khas Dayak. Ia juga mahir menggunakan seruling yang disebut selingut. Dia pun lihai memanah ikan di sungai dan berburu rusa di hutan.

Walau tak sepintar Bang dalam memainkan alat musik, Jiuq tak kalah jago mengemudikan ces atau sampan khas Dayak pedalaman. Raungan mesin katinting dari buritan ces seolah mengukuhkan bahwa mereka adalah pewaris Dayak Bahau.

Dayak Bahau merupakan salah satu subsuku Dayak yang mendiami wilayah pedalaman dan memilih bermukim di tepi Sungai Mahakam. Semua pria Dayak Bahau terlatih mengemudikan ces, bahkan ketika masih berusia bocah.

Dahulu, kala leluhur mereka belum mengenal mesin katinting, dayung adalah penggerak utama ces. Amai Ding (72) bertutur, kala itu perjalanan ke satu kampung tetangga bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu, bahkan berbulan-bulan jika kerabat mereka jauh di hilir.

“Kami selalu membawa kayu pengait. Saat arus kencang, kayu itu kami kaitkan ke akar atau cabang pohon yang menjorok ke sungai. Lalu kami menariknya agar ces bisa melawan arus, begitu seterusnya,” cerita Amai Ding.

Sama halnya Jiuq dan Bang, semua rumah tangga di Dayak Bahau setidaknya mempunyai satu ces. Sarana transportasi utama ini digunakan untuk pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari ke kampung yang lebih besar. Ces juga digunakan untuk mengantar anak ke sekolah ataupun mengunjungi kerabat. Dan, yang tak kalah penting, ces dipakai untuk pergi ke ladang serta mencari ikan di sungai.

Dengan ces yang dimilikinya, Jiuq dan Bang kini bersiap pergi ke Long Tuyoq, ibu kota Kecamatan Long Pahangai. Mereka berdua menjadi bagian dari kampung Long Isun yang akan mengikuti ritual Hudoq Pekayang.

Di sana mereka akan bergabung dengan ribuan warga lain dari 13 kampung di Kecamatan Long Pahangai. Semalam suntuk mereka akan lewati dengan menarikan Ngarang, sebuah tarian persahabatan Dayak Bahau.

Kegundahan dari Ladang Meraseh

Seusai menjala ikan di Sungai Meraseh, cabang Sungai Mahakam di bagian hulu, Amai Ding (72) dan Yek Tipung (66) melepas letih di pondok yang mereka bangun di atas ladang di tepi sungai berair jernih itu.

Sebagaimana kebiasaan Dayak Bahau yang bermukim di sepanjang tepi sungai, Amai Ding dan Yek Tipung mulai membuka lahan pada bulan Juni. Mereka menebang pohon besar dan membabat pohon-pohon kecil..

Amai Ding tinggal di Datah Suling, Kampung Long Isun. Jarak antara Long Isun dan ladang mereka di Meraseh cukup jauh. Ces, sebutan sampan khas Dayak pedalaman, menjadi transportasi utama untuk pergi ke ladang.

Penduduk Datah Suling sering meninggalkan rumah mereka berminggu-minggu dan hidup di ladang yang menjadi sumber pangan mereka.

Mereka tak mempunyai ukuran presisi ladang. Luas ladang diukur dari seberapa banyak bibit padi bisa ditanam. Bibit padi ladang yang siap ditanam disimpan dalam kaleng biskuit berukuran besar.

Kegiatan menugal atau menanam padi biasanya dilakukan pada Agustus dan September, dan itu hanya berlangsung setahun sekali. Amai Ding harus memperhitungkan betul luas ladang dan kebutuhan beras selama setahun bagi keluarganya.

Menugal merupakan momen yang dinanti. Orang-orang kampung akan datang membantu secara gotong royong. Mereka akan menginap di ladang dan inilah waktu bagi mereka untuk bergembira bersama merayakan anugerah Yang Mahakuasa.

Sebagaimana orang Dayak Bahau lainnya, Amai Ding tidak sembarang memilih waktu membuka ladang dan menugal. Leluhur mereka telah mewariskan kalender kebudayaan yang menjadi tolok ukur bagi mereka.

Hari itu, pada pertengahan Oktober, ladang Amai Ding telah selesai ditanami padi. Ia juga menanam berbagai tanaman lainnya, seperti sayur-sayuran, pisang, pepaya, semangka, duku, jagung, singkong, tebu, sirih, pinang, bahkan tanaman tahunan seperti cokelat.

Kini mereka sedang menanti ritual Hudoq. Ini adalah sebuah tradisi dari para leluhur Dayak Bahau yang dilakukan seusai menugal..

Semua warga Dayak Bahau yang mempunyai ladang wajib mengikuti hudoq. Biasanya hudoq dilaksanakan di setiap kampung. Namun, kali ini sedikit berbeda. Long Tuyoq akan menjadi tuan rumah pergelaran hudoq.

Oleh Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu, tradisi ritual leluhur itu telah dijadikan kegiatan resmi tahunan. Festival Hudoq Pekayang namanya. Sebanyak 13 kampung di Kecamatan Long Pahangai akan berpartisipasi di Hudoq Pekayang.

“Tetapi, kami tetap akan menggelar hudoq kawit di kampung. Itu sudah jadi titah leluhur,” jelas Amai Ding.

Hutan yang terampas

Semestinya Amai Ding dan Yek Tipung bergembira karena Yang Mahakuasa melalui alam telah memberikan segalanya. Mereka hanya perlu bekerja dan berupaya mengolah alam untuk keberlangsungan hidup mereka.

Namun, mereka tidak bisa menyembunyikan kegundahan hatinya. Sambil menemani Yek Tipung yang sedang memomong cucu mereka, Jaang, orangtua ini menceritakan kegelisahannya.

“Hutan kini telah banyak berubah, kayu banyak ditebang dan dijual. Dulu untuk menebang kayu harus ada musyawarah adat. Tak sembarang. Tapi kini, sembarang orang bisa menebang kayu,” ujar Amai Ding dengan wajah muram.

Musyawarah adat kampung hanya bisa mengizinkan warga menebang pohon untuk keperluan kayu di kampung atau membangun rumah. Setiap kampung di Dayak Bahau dulunya mempunyai batas teritori hutan adat mereka.

Kini kondisinya berbeda. Orang luar kampung bisa datang menebang pohon tanpa bermusyawarah. Mereka mengantongi izin dari pemerintah kabupaten tanpa mengindahkan klaim hutan adat kampung. Padahal, sama halnya dengan sungai, hutan bagi Dayak Bahau adalah jantung kehidupan.

Hidup sekarang sudah lebih dari cukup. Asal bisa membuka ladang, menanam padi, mencari ikan, dan berburu di hutan.

“Sekarang, kalau butuh kayu, kami malah beli ke kampung lain, padahal kami mempunyai hutan dengan pohon yang begitu banyak. Itu dulu,” ujar Amai Ding.

Warga kampung sebenarnya berusaha menolak ekspansi para perambah hutan dan perusahaan yang mengantongi izin hak penguasaan hutan (HPH). Sayangnya, mereka tidak tahu harus menyampaikan protes itu kepada siapa.

“Orang kabupaten tidak pernah ke sini untuk melarang orang menebang pohon sembarangan,” kata Amai Ding.

Pembukaan lahan untuk perkebunan sawit juga menambah kegelisahan Amai Ding dan warga kampung Long Isun. Mereka beberapa kali menghadapi teror. Salah satu pemuda kampung yang menentang rencana itu bahkan pernah ditangkap aparat dan dibawa ke kabupaten.

Alam ini telah memberi kami hidup dan makan. Kami tidak butuh lebih,” tutur Amai Ding.

Orang Dayak Bahau diajarkan turun-temurun untuk mengambil secukupnya saja dari alam. Sebuah kearifan yang diwariskan agar alam tetap terjaga. Bagi mereka, alam adalah bagian dari siklus hidup yang harus dihormati. 

Di tengah kegelisahan akan masa depan yang tak bisa ditebak itu, Amai Ding tetap bersemangat mempersiapkan diri menyambut Hudoq Pekayang. Terlebih lagi bagi Yek Tipung, perempuan pewaris tradisi Dayak kuping panjang ini akan menjadi bagian dari ritual tahunan yang dinanti seantero orang Dayak Bahau itu.

Suami istri yang hidup harmonis dengan alam ini segera bersiap pulang ke kampung.Mempersiapkan hudoq adalah kegembiraan bagi mereka.

Dari Gaharu, Sawit, hingga Hutan

Jelang tengah hari, speedboat yang dikemudikan Alex Tekwan melewati Kampung Long Lunuk. Raungan mesinnya membelah permukaan air Sungai Mahakam sejak dari Tiong Bu'u di Kecamatan Long Apari, wilayah paling hulu di Kabupaten Mahakam Ulu. 

Dari Tiong Bu'u, kapal cepat itu mengangkut 10 penumpang, termasuk Kompas.com dan beberapa pejalan yang melakukan ekspedisi mendokumentasikan keberadaan perempuan bertelinga panjang.

Tak lama melaju dari Datah Dawai, Alex, yang sudah 8 tahun mengoperasikan speedboat, tiba-tiba menurunkan kecepatan salah satu transportasi utama di pedalaman ini tersebut. Kapal itu menepi. Ada sekelompok orang yang melambai, jumlahnya tujuh orang.

Mereka membawa beberapa karung berisi penuh dan padat. Beberapa karung lainnya masih terlipat rapi. Wajah mereka tak menyiratkan karakter wajah orang Dayak, yang mendominasi permukiman di tepi Sungai Mahakam.

Setelah berada di dalam speedboat, ketujuh orang asal Jawa ini menceritakan bahwa mereka telah mengelana di dalam hutan selama berbulan-bulan. Tujuan mereka adalah mencari “emas beraroma dari hutan”. Itu sebutan bagi kayu gaharu.

Harga tinggi dari gubal gaharu adalah godaan dahsyat pencari keuntungan di pedalaman hutan Mahakam Ulu. Penetrasi mereka telah merasuk hingga ke kawasan perdesaan hutan. Gaharu adalah produk hutan yang sangat unik dan terbentuk dari resin kayu genus Aquilaria.

Mahakam Ulu dikaruniai potensi alam luar biasa. Gaharu tersedia dalam hutan di wilayah ini. Karena eksploitasi tanpa memperhitungkan daya dukung alam, gaharu kini sudah mulai sulit dicari. Saat ini, pencari gaharu harus bekerja keras masuk ke pedalaman hutan untuk mendapatkan gubal gaharu berkualitas prima.

Kisah para pencari gaharu ini menemani perjalanan yang memacu adrenalin melewati beberapa riam hingga ke Long Bagun. Kapal cepat milik Alex hanya berhenti di sini. Warga yang ingin melanjutkan perjalanan ke Samarinda, ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, harus pindah menggunakan moda transportasi lain.

Kompas.com menyeberang ke sisi lain Sungai Mahakam yang semakin lebar itu. Tujuan kami adalah Ujoh Bilang, ibu kota Kabupaten Mahakam Ulu. Di sana kami bertukar speedboat yang lebih kecil menuju Tering, Kabupaten Kutai Barat.

Menjelang sore, saat speedboat meraungkan mesinnya mengejar waktu, seorang pemuda melambaikan tangannya di tepi Kampung Mentiwa. Dia adalah Bernadus Apa (22), mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Eben Haezer Tanjung Enim di Palembang, Sumatera Selatan. Bernadus adalah calon pendeta asal Alor, Nusa Tenggara Timur, dan sedang menunaikan tugas melayani karyawan di kamp milik sebuah perusahaan sawit di Mentiwa.

Usaha perkebunan sawit oleh perusahaan-perusahaan besar telah mengonversi beberapa hutan di Mahakam Ulu menjadi lahan untuk ditanami komoditas alam yang rakus air ini. Sawit juga menjadi salah satu andalan di Mahakam Ulu.

Mahakam Ulu

Mahakam Ulu punya luas 15.315 kilometer persegi. Wilayah ini menjadi tempat hidup 27.923 jiwa di lima kecamatan dan 49 kampung. Kelima kecamatan itu adalah Long Apari, Long Pahangai, Long Bagun, Laham, dan Long Hubung.

Mahakam Ulu punya karakteristik unik sesuai dengan sumber daya manusia dan alam yang dimilikinya. Mayoritas warga Mahakam Ulu adalah masyarakat tradisional berbagai suku Dayak, di antaranya Busang, Kenyah, Kayaan, Bahau, Penihing, Aoheng, Modang, Laham, dan Long Kelat.

Sebagai kabupaten baru, Mahakam Ulu menghadapi berbagai permasalahan, antara lain keterbatasan infrastruktur, moda transportasi, listrik, air bersih, akses pelayanan publik, lapangan pekerjaan, dan tata kelola pemerintahan.

Salah satu prioritas yang perlu dibangun adalah masalah transportasi antarkampung. Saat ini, tarif speedboat sekali jalan untuk menuju ke Long Apari di perbatasan Malaysia antara Rp 350.000 dan Rp 500.000 per orang. Ini belum termasuk barang bawaan dalam jumlah banyak.

Untuk keperluan mendadak, speedboat milik Alex bisa disewa dengan harga Rp 12 juta hingga Rp 22 juta. Nominalnya tergantung kondisi permukaan air Sungai Mahakam. Semakin berisiko, semakin mahal biayanya.

Mahakam Ulu dari sisi konstruksi sosial memiliki akar sejarah panjang. Wilayah ini muncul kali pertama dalam kaitan penataan wilayah administratif oleh Hindia Belanda terhadap Kesultanan Kutai, menyusul berlakunya Decentralisatie Wet 1903. 

Pada tahun 1905, di Kesultanan Kutai dibentuk dua wilayah administratif, yaitu Hulu Mahakam dengan pusat pemerintahan di Long Iram dan Vierkante Pall dengan pusat pemerintahan di Samarinda. 

Pada 1930, wilayah Kesultanan Kutai dipecah lagi menjadi 4 onder afdeeling atau kewedanaan, yakni Zuid Kutai berkedudukan di Balikpapan, Oost Kutai berpusat di Samarinda, West Kutai di Tenggarong, dan Boven Mahakam berkedudukan di Long Iram.

Pada era kemerdekaan tahun 1946, wilayah Kesultanan Kutai dibagi dalam dua kepatihan, yaitu Kutai Barat dan Kutai Tengah. Saat Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 berlaku, Kutai ditata ke dalam tiga daerah tingkat II, yakni Kotapraja Balikpapan, Dati II Kutai, dan Kotapraja Samarinda.

Menuju era reformasi, saat UU Nomor 22 Tahun 1999 berlaku, Kabupaten Kutai Kartanegara dimekarkan menjadi empat wilayah administratif, yaitu Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, dan Kota Bontang.

Wilayah eks Boven Mahakam menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Kutai Barat. Bekas Boven Mahakam yang sempat terbagi menjadi dua kecamatan, yaitu Long Iram dan Long Pahangai, belakangan dimekarkan menjadi tujuh kecamatan, yaitu Long Hubung, Laham, Long Bagun, Long Pahangai, dan Long Apari. Long Apari kini masuk Kabupaten Mahakam Ulu.

Wilayah Mahakam Ulu bagian utara berbatasan dengan Malaysia dan Kabupaten Malinau. Belahan timur bersinggungan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Daerah selatan berdekatan dengan Kabupaten Kutai Barat dan Provinsi Kalimantan Tengah, sementara di barat menempel dengan Provinsi Kalimantan Barat.

Wilayah Kabupaten Mahakam Ulu didominasi kontur tanah bergelombang dengan ketinggian nol hingga 1.500 meter di atas permukaan laut dan kemiringan tanah hingga 60 persen.

Karet, kakao, kelapa, dan sawit adalah komoditas utama di Mahakam Ulu. Selain itu, produk hutan berupa kayu dan gaharu juga merupakan andalan kabupaten ini. Di beberapa batang Sungai Mahakam sering pula dijumpai para penambang emas.

Pemerintah Mahakam Ulu kini mencoba mengembangkan potensi kepariwisataan yang dimilikinya. Keunikan alam di Mahakam Ulu, jalur petualangan, serta kekayaan kebudayaan merupakan kekuatan utama pengembangan pariwisata Mahakam Ulu. Keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Mahakam Ulu serta batuan karst yang membentuk ekosistem karst yang unik adalah potensi yang tidak dijumpai di kabupaten lain.[]Sumber:Kompas.com

WRITER, PHOTOGRAPHER, VIDEOGRAPHER: Ronny Adolof Buol. EDITOR: Laksono Hari Wiwoho, Erwin Kusuma Oloan Hutapea, Dimas Wahyu Trihardjanto, Eris Eka Jaya. COPYWRITER: Georgious Jovinto. GRAPHIC DESIGNER: Cassandra Etania. DEVELOPER: Nurhaman. Copyright 2017. Kompas.com. 

BERSAMBUNG BAGIAN 2

DETIK
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar