Italia – Meski legal, di Amerika sendiri, ganja medis hanya boleh direkomendasikan untuk mereka yang mengidap kondisi yang sangat berat. Namun seiring berjalannya waktu, makin banyak ilmuwan yang berhasil mengungkap manfaat lain dari tanaman herbal ini.
Yang terbaru adalah hasil penelitian di Jerman, di mana peneliti bisa membuktikan bahwa ganja medis dapat mengurangi gejala yang dirasakan pasien ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), terutama yang dewasa.
Dr Eva Milz dari Medical Practice for Psychiatry and Psychotherapy, Berlin dan timnya menemukan manfaat ini setelah melakukan pengamatan pada 30 pasien ADHD dewasa yang tidak memperoleh akses pengobatan konvensional.
Dengan seizin Kementerian Kesehatan setempat, ke-30 pasien ini diperbolehkan untuk mengonsumsi ganja medis dalam kurun 2012-2014. Namun sebelum percobaan dimulai, peneliti juga memberi mereka stimulan seperti yang biasa dipakai untuk mengobati pasien ADHD sebagai perbandingan.
Ternyata partisipan yang mengonsumsi ganja medis dilaporkan mulai memperlihatkan gejala pemulihan, di antaranya terlihat dari peningkatan konsentrasi, kualitas tidur, serta menurunnya tingkat impulsivitas mereka.
“Bagi pasien ADHD dewasa, mereka yang mengalami efek samping ketika diberi obat standar, atau tidak merasakan manfaat dari pengobatan tersebut, ganja rupanya dapat menjadi alternatif yang efektif dan dapat ditolerir dengan baik,” simpul Dr Millz seperti dikutip dari Daily Offbeat, Sabtu (31/10/2015).
Terbukti dari 30 partisipan, hanya 8 orang saja yang memutuskan untuk terus mengonsumsi ganja medis berikut pengobatan konvensional untuk ADHD. Sedangkan 22 orang lainnya tetap bersedia menggunakan ganja medis saja untuk pengobatan.
Di sisi lain, tim Dr Milz juga menemukan pengobatan dengan ganja seringkali dipandang sebelah mata mengingat ada beberapa kasus di mana pasien mengalami gangguan perilaku seperti ADHD setelah mengonsumsi ganja. Bisa karena cara konsumsi mereka yang keliru, atau yang bersangkutan memilih membeli ganja sendiri secara ilegal.
“Akibatnya ketika psikiater atau dokter mereka tahu, gejala terapeutik yang dialami pasien justru tidak dianggap serius. Sebaliknya tim medis juga enggan mendengarkan keluhan pasien-pasien ini,” papar Dr Milz.
Dengan adanya temuan baru ini, Dr Milz optimis tak hanya pada manfaat ganja medis untuk penyandang gangguan perilaku seperti ADHD, tetapi juga meningkatkan penggunaan ganja untuk keperluan medis yang selama ini masih disangsikan.
Sebelumnya ganja medis diketahui dapat digunakan untuk mengurangi efek kemoterapi, autisme parah, kejang, PTSD (post traumatic stress disorder), serta memulihkan nyeri atau sebagai obat penghilang rasa sakit.[] Sumber: detik.com