SIGLI – Persoalan konflik gajah liar dengan masyarakat sepertinya belum kunjung berakhir. Pemerintah seakan sebelah mata memandang hal tersebut. Sampai kini belum ada solusi konkret dari pemerintah untuk mengusir gajah dari areal perkebunan warga.
Laporan terbaru yang diperoleh, dalam sepekan terakhir binatang bertubuh besar itu kembali memporak-porandakan areal perkebunan produktif warga di kawasan Gle Barat Gampong Jijiem Kecamatan Keumala, Pidie. Akibatnya, sejumlah tanaman dirusak oleh Pomeurah tanpa tersisa, seperti pinang, pisang, kakao, kelapa, dan tebu.
Dua pekan sebelumnya, sekelompok gajah liar itu juga menduduki kawasan Gle Barat. Namun jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 8 ekor. Kini, jumlah gajah yang menduduki Gle Barat disebut-sebut telah bertambah dengan turunnya gajah liar lain sebanyak 20 ekor, pada Sabtu (1/10/2016) malam. Saat ini gajah liar yang berada dalam kawasan perkebunan warga di Glee Barat diperkirakan 28 ekor.
Kelompok gajah sejumlah 8 ekor yang sejak Desember lalu membabat tanaman milik warga itu pun kini turun dan menyebar ke perkebunan warga setelah pernah diusir jauh ke tengah hutan oleh pihak Rangers, Dinas Kehutanan dan Perkebunan yang dibantu warga. Sebanyak 5 ekor mulai kembali menduduki areal perkebunan di Alue Puntong, Cot Seutui dan 3 ekor lainnya berada di Kareung Ampa, Keumala.
Marzuki, Ketua Kelompok Tani Kecamatan Keumala, Senin (03/10/2016) mengatakan sejak mendapat kabar turunnya gajah liar lain Sabtu malam, siangnya tidak ada lagi warga yang berani pergi berkebun. Ia sangat mengharapkan pemerintah segera memberikan solusi konkret terkait hal ini. Menurutnya, sumber utama pendapatan warga di sana ialah dari hasil perkebunan.