SEPERTI banyak kisah sebelumnya, setiap saat kita mendengar tentang kisah gajah masuk perkampungan. Kasusnya terus berulang. Saat sudah terjadi pemerintah akan bergerak mengusir mereka kembali ke hutan.
Kita tidak tahu berapa lama lagi mereka akan kembali mengobrak-abrik perkampungan. Konflik manusia dan hewan sudah berlangsung amat lama. Walau terus berulang para pemangku kepentingan tetap seperti pemadam kebakaran.
Apakah gajah makhluk jahat? Apakah mereka membenci manusia? Apakah mereka ingin mengusir manusia? Untuk semua itu kita tak perlu menjawabnya. Sebab semua juga tahu jawabannya.
Namun sampai sekarang tidak ada jalan keluarnya. Mengherankan, miris dan menyedihkan. Korbannya tetap masyarakat kecil. Benarkah tidak ada jalan keluarnya? Tidak adakah solusinya?
Yang jelas gajah ataupun binatang lain di hutan tidak memusuhi manusia. Manusianya yang telah merusak habitat mereka. Bilapun mereka mengamuk lebih karena keterdesakan. Sebagai makhluk tentu mereka punya naluri. Naluri mempertahankan hidup mereka. Mempertahankan habitat mereka.
Seperti kasus asap, kasus keganasan gajah juga sebab yang sama. Pemerintah yang berpikir linier lebih menggunakan naluriah daripada berpikir cerdas. Pembukaan hutan atas nama ekonomi. Menggenjot produksi. Terpaku pada pemanfaatan sumber daya alam, berpikir paling pendek untuk mendapat akses ekonomi.
Padahal banyak cara lain bila mereka mau. Bukankah negera-negara maju saat ini bukan bertumpu pada sumber daya alam. Seperti kita belum juga keluar dari pikiran primitif. Bahwa menjual alam dengan merusak hutan cara paling mudah mendapat uang.
Pemerintah bangga mengekpose produksi sawit yang meningkat. Di lain pihak kerusakan alam tidak terkendali. Kekayaan hayati kita tergerus. Alam kita yang hancur. Rasanya terlalu mahal harga yang harus kita bayar.
Perkebunan terbukti hanya memperkaya segelintir orang. Rakyat pekerja tetap miskin dan terbelakang. Pembangunan kebun bukan hanya menyebabkan kehancuran flora dan fauna. Namun juga pertentangan pemilik modal dengan rakyat jelata.
Pada kenyataannya negara selalu berpihak pada pemilik modal. Untuk kasus Aceh dengan gajahnya. Ini tidak lepas juga lemahnya penegakan hukum. Hukum dicampur aduk antara kepentingan ekonomi dan politik. Kasus gajah tidak lepas dari perkebunan resmi. Perkebunan ilegal dan pembalakan hutan.
Ketiga penyebab ini tidak lepas dari ketidaktegasan pemerintah. Hutan menjadi sumber daya bagi para politisi. Mereka memberikan izin pemanfaatan lahan untuk meraup uang. Bagi rakyat kecil membangun kebun untuk kepentingan ekonomi. Pembalakan hutan juga karena faktor ekonomi. Dan menjadi bukti hukum tidak tegak di sini.
Banyaknya perusakan hutan menyebabkan gajah kesulitan hidup. Sehingga mereka merusak perkampungan. Semua juga tahu ada hukuman bagi pelaku. Ada penegak hukum yang tahu ini terus terjadi. Lantas kenapa konflik satwa dengan manusia masih juga terjadi? Jawablah dengan nurani.[]