Oleh Muhajir

Kicauan burung dan nyanyian hewan-hewan kecil di pagi yang cerah, Senin, 27 Desember 2004, membuat saya tetap semangat bersekolah hari itu, walau sehari sebelumnya, Ahad, negeri tempat di mana saya dilahirkan dan dibesarkan diguncang bencana gempa bumi yang mencapai 9,1 SR (skala Richter) dan disusul gelombang dahsyat, yang dikemudian hari dikenal dengan smong, (tsunami -Jepang).

Dengan langkah penuh semangat, saya berbaju putih dan bercelanakan abu-abu berjalan kaki menuju ke sekolah, setelah setengah jam lebih bergantungan di labi-labi (angkutan kota) dari Beureuneuen sampai ke Tijue. Sesampai di komplek sekolah SMP (Sekolah Menengah Pertama) negeri 4 Sigli, saya tersentak karena kelas kami, kelas yang terletak di lantai dua SMPN 4 Sigli yang dipinjam pakai oleh SMA Unggul Sigli (Sekolah di mana saya terdaftar sebagai siswa dengan NIS – Nomor Induk Siswa – nomor 020), dipenuhi oleh warga yang sebagian dari mereka rumahnya sudah hancur oleh hempasan smong.

Proses kegiatan belajar mengajar yang tidak memungkin dilakukan, membuat saya dan teman-teman harus berkumpul dan duduk di kedai warga yang berada di depan sekolah kami. Di situ kami saling berbagi cerita tentang bencana gempa dan smong yang terjadi kemarin hari.

“Ada beberapa kawan kita yang rumahnya terkena musibah,” ujar salah seorang kawan saya.

“Musibah ini pun banyak menelan korban, sudah mencapai lima ribu yang meninggal dunia (jumlah yang baru dikabarkan saat itu -red),” ia menambahkan.

Perbincangan itu membuat kami tertarik untuk melihat langsung bagaimana kondisi kota Sigli setelah diguncang gempa dan dihempas gelombang smong. Karena labi-labi dan kendaraan tidak dibolehkan menuju ke kota Sigli, akhirnya kami berjalan kaki dari komplek pelajar Tijue yang jauhnya hanya sekitar 2 kilo meter.

Ratusan orang berkerumunan dan tertahan di jembatan yang menghubungkan Gampong Blok Sawah dan Gampong Keuramat Dalam. Akses masuk ke pusat kota Sigli tidak diizinkan, karena proses evakuasi sedang dilakukan. Di tengah kerumunan itu, saya mencoba mencuri-curi pandangan dan sekali-kali melompat untuk menyaksikan bagaimana keadaan di tengah kota.

Puluhan mobil dikerahkan untuk evakuasi korban smong baik itu mobil ambulance maupun mobil bak yang terbuka. Suara sirine mobil ambulance pun tak henti-hentinya meraung. Sesekali terdengar ucapan warga.

“Sudah puluhan mayat ditemukan di Pasi Rawa, di Benteng juga ada.”

Setelah berbasah peluh, saya dan kawan-kawan satu sekolah pun balik ke sekolah. Namun di pertengahan jalan, kami pun tertarik untuk melihat kondisi korban yang sudah dievakuasi ke RSU (Rumah Sakit Umum) Sigli, yang kini sudah berganti nama menjadi RSU Tgk Chik di Tiro.

Silih berganti mobil evakuasi korban datang. Korban-korban itupun segera didata oleh petugas. Ratusan mayat dari berbagai kecamatan berdatangan yang sebagian besar dibawa dengan mobil bak terbuka. Selain mayat yang terus berdatangan, ratusan mayat pun disusun berbaris dan rapi  di teras dan gang-gang RS (rumah sakit), tanpa adanya kelengkapan informasi siapa, dari mana dan berapa umurnya. Kondisi mayat pun berbagai macam, ada yang perutnya sudah kembung dengan bau yang menyengat dan tidak sedikit mayat yang masih bagus dan tidak berbau.

Dengan hati pilu dan terenyuh, saya terus menyusuri setiap gang, lorong dan teras rumah sakit hanya sekedar untuk melihat kondisi korban smong. Isak tangis warga yang mencari saudara, sanak kerabat, orang tua dan anaknya terdengar di berbagai sudut RS. Ibu-ibu berteriak menangis histeris saat melihat anaknya sudah terbaring dengan damai. Anak-anak yang meratapi dan meraung melihat Ibu yang pagi kemarin memandikannya sudah ditutupi dengan kain yang tidak lama lagi akan dikuburkan dan meninggalkan dia selamanya.

Isak tangis dan ratapan anak-anak itu membuat hati saya semakin pilu, walau tidak ada kerabat dekat saya yang menjadi korban smong di situ. Namun mendengar suara-suara yang bersedih dan mayat yang berjejeran di gang dan teras RS tersebut, saya terpikir bagaimana nasib Abua  (Abang Ibu) saya yang berada di Meulaboh, bagaimana nasib Cek Ismail dan Cek Harun yang berada di Banda Aceh.

Setelah berkeliling dan melihat kondisi korban gempa dan smong saya dan kawan-kawan pun kembali ke rumah masing tanpa lagi balik ke sekolah.[]

Oleh Muhajir, Saksi dahsyatnya akibat bencana smong (tsunami) Aceh, Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri