SABTU malam 9 Januari lalu, RS Indonesia di Gaza diserahkan Mer C kepada pemerintah Palestina. Penyerahan berlangsung di Gedung Theater Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Jakarta. Penyerahan itu turut di hadiri Wapres Jusuf Kalla. Terlihat hadir sejumlah menteri. Di antaranya menteri Pendidikan Anies Beswedan, menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Sejumlah mantan menteri dan petinggi negeri. Dari pihak Palestina hadir menteri Kesehatan Jawwad Awed dan Dubes Pelestina untuk Indonesia Faris Mahdewi. Rumah Sakit berbiaya hampir 130 miliar rupiah ini juga dibangun murni dengan sumbangan rakyat Indonesia. Juga dikerjakan oleh relawan asal Indonesia.
Aceh juga turut menyumbang dalam jumlah yang lumayan besar. Ada sekitar 6,5 miliar yang disumbang rakyat Aceh melalui posko Humas Aceh dan harian Serambi Indonesia. Ada juga melalui Komite Nasional Rakyat Palestina kabarnya mencapai lebih 2 miliar. Sumbangan posko humas Pemerintah Aceh dan Serambi Indonesia digunakan untuk pembelian peralatan rumah sakit. Sehingga di Rumah Sakit Indonesia di Gaza ada dua ruang bernama pahlawan Indonesia asal Aceh. Ada ruang yang diberi nama Cut Nyak Dhien dan Ruang Teungku Chik Ditiro. Prasedium Mer C Jose Rizal Jurnalis mengatakan bahwa memang di Republik ini rakyat Aceh terkenal amat suka membantu. Mulai dari persiapan kemerdekaan Indonesia sampai ke kasus Palestina.
Saya mendapat undangan hadir ke acara tersebut. Alasannya pengurus MER C Aceh Ibu Ira Hadiati menilai karena saya dulu yang mengkoordinir pengumpulan bantuan itu bersama pimpinan harian Serambi Indonesia. Ketika itu saya adalah Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh. Sebenarnya, kabar yang saya terima Gubernur Aceh lah yang datang ke acara itu. Namun sehari menjelang acara saya dapat kabar ternyata Wagub Mualem lah yang datang. Seperti biasa bila Wagub yang datang maka beliau pasti 'kesepian' dari dampingan pejabat Aceh. ?Hanya ada Kepala Biro Humas Aceh Frans Delian dan Kepala Perwakilan Aceh di jakarta .
Ketika saya datang ke acara itu, Wagub sudah di ruang tunggu bersama tamu dari Palestina dan lainnya. Wagub terlihat menyendiri. Tidak ditemani oleh seorangpun pejabat dari propinsi di ruang tunggu itu. Saya masuk dan mendampingi. Walaupun desas-desus di luar gara-gara saya mendampingi Wagub di ruang tamu itu menimbulkan kedongkolan Kepala Perwakilan Badri Ismail. Mungkin saja menurut beliau saya tak pantas berada di ruangan itu. Maklumlah saya cuma pejabat di kabupaten. Lagipula saya kenal baik dengan Wagub. Kebetulan di ruangan itu semua tamu berwajah Arab dan tidak berbicara dalam bahasa Indonesia. Makanya saya berinisitif mendampingi walaupun tak pantas menurut pandangan mereka.
Kami berbincang banyak hal. Mulai persoalan APBA, dan tentu saja persoalan bantuan untuk Palestina. Di sela sela itu saya juga memperkenalkan beliau satu persatu pada para tamu. Kami juga berbincang tentang MER C. Di masa perang MER C banyak membantu kombatan GAM. Mualem langsung menimpali, “iya saya ingat, mereka (MER C) dulu juga membantu beberapa GAM yang luka termasuk mengobati istri almarhum Ishak Daud,mereka juga banyak mengirimi kami obat obatan,” jelas Mualem.