PROFESI sebagai dokter hewan mungkin belum terlalu umum di kalangan masyarakat Aceh. Sama seperti profesi lainnya, menjadi seorang dokter hewan memiliki keunikan dan keasyikan sendiri. Drh. Fandi Akbar, pria kelahiran Meureudu 2 Februari 1989 ini membagikan sedikit pengalamannnya selama menjadi dokter hewan sejak 2013 lalu. Seperti apa kisah menariknya?
Dulu saat selesai kuliah saya menjadi dokter hewan dan bekerja (praktek) dokter hewan bidang praktisi pada salah satu klinik hewan di Jakarta, kata Fandi Akbar saat berbincang dengan portalsatu.com melalui surat elektronik, Jumat, 1 Januari 2015.
Saat ini, anak dari pasangan drh. Sofyan dan almarhumah Nurlina ini menjalankan praktek sistem house call di Banda Aceh. Sebelumnya, pria yang hobi mancing ini berdomisili di Jakarta namun ia kembali terpanggil ke Banda Aceh untuk mengembangkan profesinya tersebut.
Saya kembali ke Banda Aceh karena saya merasa terpanggil untuk mengabdikan ilmu profesi saya ini untuk Aceh, khususnya dunia pets animal atau hewan kesayangan, kata alumni Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah ini.
Sebelumnya, pencinta olahraga badminton ini sejak dari kecil sudah tertarik menjadi dokter hewan. Hal itu juga disebabkan karena ayahnya juga merupakan seorang dokter hewan. Saya sering diajak mengikuti ayah hendak menangani atau mengobati pasien. Jadi dari sejak itulah saya mulai tertarik jadi dokter hewan. Selesai SMA, sengaja saya masuk perguruan tinggi Fakultas Kedokteran Hewan karena ingin mengetahui secara lebih detail dunia kedokteran, katanya.