ENTAH bagaimana awalnya, Recep Tayyip Erdogan, terkenal dengan cepat ke seluruh dunia, termasuk ke negara yang tidak dikenal seperti Indonesia, dan Aceh.
Ia pertama kali dikenal ke seluruh Turki setelah membaca puisi yang membela Islam dan mengumandangkan azan di Istanbul, sesuatu yang dilarang saat itu.
Saat itu ia menjabat sebagai Wali kota Istanbul, tahun 1990-an.
Hal itu mengejutkan pemerintah Turki yang merupakan kaum sekuler saat itu, dan mengejutkan kaum muslimin dan islamik Turki yang berjumlah sekitar enam puluh persen penduduk dari delapan puluh juta orang.
Saat itu, Aceh tidak mendengar kabar tersebut. Saat itu Aceh berada dalam kungkungan DOM (daerah operasi militer). Jangankan kabar tentang walikota Istanbul, tentang gubernur sendiri saja hampir tidak diketahui.
Masyarakat Indonesia pun mengalami nasib serupa. Mereka baru tahu tentang Erdogan setelah jatuhnya Suharto. Di saat informasi dari dalam dan luar negeri bisa masuk seperti angin, tidak ada penghalang.
Aceh lebih telat lagi. Aceh mengenal Erdogan setelah tsunami, tepatnya setelah MoU Helsinki. Di dalam masa damai. Di masa perang, Aceh terlalu sibuk untuk memikirkan keselamatan diri.
Pertama kali, Aceh dikejutkan dengan kehadiran Erdogan di Banda Aceh, setelah tsunami, sebelum BRR dibentuk. Saat itulah orang Aceh mulai teringat pada kisah Lada Sicupak. Sultan Aceh mengirim kapal berisi lada dan barang berharga lainnya ke Konstantinopel (Istanbul), dan membawa pulang senjata serta para ahli beberapa bidang.
Namun, orang Aceh mengenal Erdogan sekira setelah tahun 2010. Sebelumnya, karena perasaan anti Barat secara politik, Aceh mengagumi Saddam Hussein dari Iraq (Persia), Muammar Khadafi dari Libya, dan Mahmoud Ahmadinejat dari Iran (Persia).
Yang mengejutkan, ketertarikan orang Aceh pada Erdogan berbeda dengan ketertarikan terhadap Khadafi, Saddam, atau Ahmadinejat. Ketertarikan orang Aceh pada Erdogan, selain perasaan anti Barat sehingga mencari tokoh di negara muslim untuk dikagumi, juga perasaan sejarah. Bahwasanya Turki adalah saudara tua Aceh selama ratusan tahun, di zaman Aceh Darussalam dan Turki Usmani (Ottoman).
Erdogan menjadi buah bibir di setiap kedai kopi kedai kopi di Aceh. Dan kita tahu bahwasanya ada puluhan ribu kedai kopi di seluruh Aceh.