BANDA ACEH – Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Aceh mengatakan Aceh saat ini berada dalam enam krisis atau kondisi darurat yang harus segera disikapi. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Aceh, Munawar Syah dalam siaran persnya kepada portalsatu.com, Selasa, 13 Oktober 2015.
Pertama, kata dia, adalah krisis keteladanan pemimpin. Dia mengatakan Pemuda Muhammadiyah Aceh prihatin dengan kondisi pecah kapal kepemimpinan Aceh.
“Hubungan antara Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh akhir-akhir ini semakin terang benderang menunjukkan ada persoalan yang belum selesai antara kedua pemimpin ini. Pemuda Muhammadiyah Aceh menghimbau kepada pemimpin Aceh (Gubernur dan Wakil Gubernur) untuk mengutamakan kemaslahatan rakyat dari pada kepentingan-kepentingan lainnya di luar kepentingan memperjuangkan apa yang menjadi visi kepemimpinan keduanya, saat kontestasi Pemilukada Aceh 2012 lalu,” ujar Munawar Syah.
Menurutnya membangun Aceh tidak bisa sendiri, kepemimpinan harus saling bersinergis, saling percaya dan saling mendukung. Dia mengingatkan pemimpin Aceh saat ini memiliki sisa waktu 2 tahun lagi untuk merealisasikan janji pembangunan dan kesejahteraan rakyat Aceh.
“Kami berkeyakinan pemimpin Aceh dapat keluar dari pertentangan, asalkan keduanya mengedapankan prinsip-prinsip musyawarah. Bila para pemimpin tidak akur dan saling tuding, ini menunjukan bahwa persoalan keteladanan kepemimpinan di Aceh masih menjadi barang mahal,” katanya.
Dia mengatakan konflik bersenjata yang 30 tahun saja dapat diselesaikan dengan rembuk, berunding dan memilih berdamai. “Mengapa pula ketika kepemimpinan telah berada di tangan dan kesempatan membangun Aceh terbuka lebar, lalu kembali berkonflik sesama,” katanya.
Selain itu, kata Munawarsyah, permasalahan Aceh saat ini adalah daruratnya ukhuwah antara sesama muslim.
“Benturan perbedaan pemahaman keagamaan yang diikuti dengan sikap fanatisme yang terjadi akhir-akhir ini, sesungguhnya sedang menggiring kita kepada runtuhnya bangunan ukhuwah Islamiyah. Karenanya, Pemuda Muhammadiyah Aceh berkomitmen dan mengajak umat Islam Aceh untuk bersikap tawasuth dan tasamuh (toleran),” ujarnya.
Menurutnya keimanan tanpa tasamuh membawa ke arah eksklusivisme dan ekstremisme. Sebaliknya tasamuh tanpa keimanan berujung pada kebingungan dan kekacauan.
“Karenanya, Pemuda Muhammadiyah Aceh menolak secara tegas segala tindak kekerasan atas nama agama dalam memperjuangkan dan menegakkan agama Islam. Ajaran Islam harus disampaikan dengan cara damai, santun, dan beradab agar Islam dan ummatnya benar-benar tampil sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam,” katanya.
Di sisi lain, Aceh saat ini juga darurat korupsi. Menurut Munawar Syah, korupsi adalah problem akut bangsa ini. Dia kemudian merincikan setidaknya ada 158 perkara tipikor yang ditangani oleh Kejaksaan Tinggi Aceh periode Januari hingga Desember 2014.
“67 perkara telah selesai, 38 perkara dalam penyidikan dan 53 perkara penuntutan. Menyadari dampak kerugian besar dari tingginya praktik korupsi, Pemuda Muhammadiyah Aceh mendukung keberadaan Perwakilan KPK di setiap Propinsi sebagai langkah tepat untuk penegakan hukum dan menyelamatkan uang rakyat. Pemuda Muhammadiyah Aceh menghimbau semua komponen di Aceh untuk menggelorakan gerakan berjamaah lawan korupsi,” ujarnya lagi.