Pulau Samosir tak hanya menawarkan keramahan penduduk dan pesona Danau Toba yang memanjakan mata, tetapi juga budaya masyarakatnya yang adiluhung. Tim Liputan6.com, Rabu (10/3/2016) mendapat kesempatan untuk mengenal dan membuktikan apakah benar suku Batak adalah komunitas kanibal? Melalui perjalanan singkat, kami mengunjungi kampung adat Sialagan atau yang dikenal dengan Huta Sialagan di Pulau Samosir.
Tarian adat Tor-tor menyambut kami saat tiba di pulau yang menjadi salah satu lokasi penyebaran suku Batak dan kerajaan marga Sialagan. Kerajaan Sialagan sudah ada sejak tahun 1.500-an, kini di kawasan ini banyak ditemui berbagai bangunan peninggalan kerajaan yang masih berdiri, seperti deretan rumah Bolon dan makam para tetua adat dan kerajaan.
Tak hanya itu, kerajaan Sialagan juga identik dengan patung Sigale-gale. Konon patung yang dipercaya memiliki ruh saat ada alunan musik taganing dan gondang Batak ini, sengaja dibuat oleh Raja Sialagan untuk memperingati anak tunggalnya yang wafat dalam perang.
Untuk menjawab rasa penasaran akan keberadaan mitos orang Batak kanibal, Opung Sialagan, salah seorang tetua adat desa tersebut mengajak kami ke suatu pelataran batu yang dahulu digunakan untuk eksekusi pemancungan orang sakti. Pada saat itu masyarakat Batak belum banyak yang menganut agama dan masih menyembah ruh orangtua.
“Sebelum agama Kristen masuk yang dibawa oleh misionaris asal Jerman, Nommensen, orang Batak masih menyembang roh orang tua mereka,” ujar Opung Sialagan.
Sehingga pada masa itu, banyak orang yang mengisi raga mereka dengan kesaktian untuk perlindungan atau bahkan niat buruk. Sebagai bentuk perlindungan, setiap orang sakti yang berniat jahat pada pihak kerajaan dan berhasil ditangkap akan mendapat hukuman pancung.