Anaknya hampir setiap hari meminta ikut orang tuanya ke ladang. Namun, orang tua mereka tidak pernah mengizinkan.
Perkutut adalah salah satu jenis burung yang paling digemari oleh masyarakat Aceh dan Indonesia pada umumnya. Bentuk bulunya yang rapi dan suaranya yang merdu terkadang sangat relevan jika diidentikkan dengan simbol feminisme dalam kehidupan manusia. Jika diperlakukan dengan baik dan diajarkan cara bersiul, perkutut dapat hidup jinak dan menghibur pemiliknya dengan suara-suaranya yang merdu.
Simbol feminisme itu memiliki kaitan dengan cerita rakyat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Dalam cerita tersebut, perkutut adalah jelmaan dari seorang gadis kecil yang sedang putus asa. Dalam kehidupan masyarakat Aceh, kisah Asal Mula Burung Perkutut dikenal dengan Haba Leuk. Dongeng ini sering diceritakan kepada anak-anak oleh orang tua atau neneknya dengan tujuan agar si anak cepat tidur.
Kisah ini terjadi di sebuah pelosok desa terpencil di Aceh. Di sana hiduplah sebuah keluarga kecil dengan dua orang anak, anak pertama adalah perempuan berumur 6 tahun dan adiknya laki-laki berumur 3 tahun. Kedua anak ini tumbuh dalam keluarga miskin yang hidupnya serba kekurangan. Orang tuanya bekerja sebagai petani padi ladang. Pertanian padi ladang merupakan pekerjaan yang umum dilakukan masyarakat pelosok pedesaan yang kehidupannya sangat tergantung pada alam.
Bapak dan ibunya setiap hari pergi bekerja di ladang, kesibukannya mencari nafkah membuat mereka terpaksa harus meninggalkan kedua anaknya di rumah setiap hari. Terkadang tebersit dalam pikiran orang tuanya untuk membawa anak-anaknya ke ladang. Namun, mereka khawatir anak-anaknya akan menyita waktu mereka jika dibawa serta sebab harus menjaganya. Apalagi, anaknya yang masih kecil sungguh tidak mungkin untuk dibawa ikut ke ladang yang jauh di tepi rimba.
Anaknya hampir setiap hari meminta ikut orang tuanya ke ladang. Namun, orang tua mereka tidak pernah mengizinkan. Setiap kali anaknya meminta, mereka selalu membujuknya agar tidak ikut dan berjanji akan mengizinkan mereka pergi ke ladang suatu saat. Bulan berganti dan tahun berlalu, sang anak hanya mendapat janji dari ibu dan bapaknya, janji yang tidak pernah ditepati.
Bocah-bocah kecil ini nyaris tidak mendapat perhatian orang tuanya. Kesibukan keduanya mencari nafkah saban hari telah mengabaikan perhatian terhadap tumbuh kembang sang anak. Pergi saat pagi buta dan pulang menjelang senja seakan telah menyita waktu untuk bercengkerama dengan anak-anaknya. Permintaan sang anak untuk ikut bersama ke ladang dibalas dengan janji-janji yang selalu menghibur. Tidak heran jika anaknya yang tua selalu melepas kepergian bapak dan ibunya dengan air mata kesedihan.
Pada awal tahun musim berladang, keluarga ini kembali membuka ladang baru. Sang anak dengan tidak bosan kembali meminta ikut ke ladang pada orang tuanya. Pada suatu pagi sebelum bapak dan ibunya pergi, anaknya kembali mengutarakan permintaan. Dengan suara rendah dan mengiba sang anak meminta, Ibu
bolehkah kami ikut bersama ibu dan bapak? pinta sang anak. Sudah lama ibu dan bapak berjanji..apa ibu tidak sayang sama kami, selalu ibu tinggalkan kami berdua di rumah. Sang ibu hanya terdiam kehabisan kata untuk membuat janji, sedangkan bapaknya hanya terduduk diam menatap anak laki-lakinya yang sedang lincah bermain. Sambil memegang tangan ibunya, sang anak kembali meminta, Bolehkan Ibu..kami ikut Ibu, di rumah sepi tanpa Ibu dan Bapak.…Bersambung [] (*sar)
Penulis adalah Zulkipli R. Angkop, peminat budaya dan tinggal di Nagan Raya.