*oleh Helmi Abu Bakar El-Langkawi
Islam sebagai agama rahmatan lilalamin, dalam mengimplementasikan nilai syariat mencakup seluruh aspek kehidupan. Bentuk dan metodenya pun tidak kaku, tetapi selaras dengan perkembangan zaman.
Kehidupan umat manusia sebagai khalifatul ardhi dalam setiap bangsa dan kelompok sosial kemasyarakatan memiliki ciri-ciri tersendiri, baik dari segi agama, kebudayaan, adat istiadat, maupun berbagai bentuk kesenian lainnya. Aktualisasi dan pengungkapan ekspresi mereka pun menggunakan media yang berbeda-beda pula. Rasa keindahan diekspresikan melalui bentuk kesenian, baik seni tari, seni pahat, seni, maupun seni suara.
Kesenian dalam kosmos peradaban manusia merupakan suatu bentuk penyangga kebudayaan agar tetap ekses di tengah-tengah masyarakat (Umar Kayam, 1981).
Seperti yang kita maklumi bersama bahwa kesenian tradisional telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Di samping berfungsi sebagai media hiburan, kesenian juga berperan sebagai media komunikasi untuk menyampaikan nilai dan pesan kehidupan.
Beranjak dari sinilah letak unsur kebudayaan menjadi sangat penting, baik sebagai media komunikasi antarsesama maupun sebagai media komunikasi informasi kepada orang lain di luar. Pemahaman ini kemudian dikenal sebagai sebuah kumonikasi kultural.
Kebudayaan, kesenian, dan masyarakat, merupakan tiga unsur yang memiliki hubungan erat dalam dinamika kehidupan sosial sehingga tidak heran jika dikatakan bahwa kebudayaan dan kesenian suatu daerah atau suatu kelompok manusia sering dijadikan tolak ukur atau salah satu indikator untuk mengetahui tingkat peradaban suatu komunitas sosial masyarakat.
Salah seorang sufistik dan juga teolog terkemuka di dunia berkebangsaan Iran bernama Sayyed Hossein Nasr (1933 M) menyebutkan, bahwa sebuah nilai dari kesenian Islam tradisional mengandung dan menyampaikan inti suatu pesan yang bernuansa islami melalui bahasa yang abadi.
Salah satu aspek yang paling berkaitan dengan pesan spiritual seni Islam adalah kemampuannya menyampaikan syiar Islam secara langsung dan mudah dipahami, dibandingkan dengan penjelasan yang bersifat ilmiah.
Kesenian menjadi media komunikasi yang paling mudah dan efektif dalam mengubah dan menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada masyarakat. Karakter seperti ini akan bernilai tinggi bagi sebuah unsur kebudayaan karena tidak memerlukan banyak alasan atau argumen.
Pola perubahan yang diharapkan adalah dari segi afektif dan kognitif individual, yang selanjutnya juga ikut mempengaruhi kehidupan sosial secara kolektif. Kekayaan kebudayaan di nusantara ditandai dengan keberagaman adat istiadat dan kesenian tradisional masing-masing daerah.
Salah satu kesenian nusantara yang berasal dari Aceh, tepatnya daerah dataran tinggi Gayo di antaranya adalah seni Didong. Didong merupakan suatu kesenian yang memadukan antara seni suara dengan sastra dan sedikit diwarnai dengan tarian dengan syair-syair puisi sebagai unsur utamanya.
Seni Didong adalah suatu kesenian yang dimiliki oleh masyarakat Gayo, yang mendiami wilayah Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh.
Kesenian Didong merupakan salah satu jenis seni sastra yang berkembang dalam masyarakat Gayo di Aceh Tengah, di samping beberapa bentuk seni sastra yang lainnya seperti saer (syair/puisi Islami), Kekitiken (teka-teki), Kekeberen (prosa berbentuk lisan), Melengkan (pidato adat), Sebuku (puisi bertema sedih), dan Guru Didong.
Pertunjukan didong sebagai salah satu bagian dari tradisi masyarakat Gayo yang masih berkembang hingga saat ini menjadi sebuah kajian yang menarik ketika di dalamnya dapat menjelaskan berbagai makna yang mampu merepresentasikan gambaran masyarakat pendukungnya, yaitu masyarakat Gayo.
Makna-makna yang terkandung dalam pertunjukan Didong dapat ditemukan dalam berbagai bentuk syair yang didendangkan oleh ceh yang berada pada garda terdepan setiap kelop Didong dan juga dari berbagai simbol-simbol yang ada dalam pertunjukan Didong. (Agung Suryo Setyantoro, 2014)
Sebuah kesenian dan kebudayaan mempunyai sejarah tersendiri. Begitu juga dengan kesenian Didong. Syukri menjelaskan bahwa Didong pada mulanya berasal dari sejarah Gajah Putih yang digembalakan oleh Sangeda (1610 M) dari Negri Linge menuju ke ujung Aceh. hHal ini dilakukan untuk dipersembahkan kepada Raja Aceh.
Konon ceritanya dalam perjalanan, tiba-tiba gajah berhenti dan merebahkan badannya ke tanah karena keletihan. Usaha untuk membangunkannya telah berulang kali dilakukan dan dengan berbagai cara, tapi gajah putih tersebut tetap saja tidak bergerak.
Namun, hasil inisiatif Sangeda, para pengikutnya mencoba mendendangkan lagu dengan kata-kata enti dong, enti dong, enti dong, artinya jangan berhenti. Selanjutnya, dalam perkembangan dialeknya, kata-kata enti dong, enti dong, enti dong tersebut berubah menjadi Didong yang bermakna berdendang atau alunan nyanyian.
Sosok yang bernama Sangeda dalam perjalanan di atas menurut pandangan AR. Latief merupakan seorang raja pertama berasal dari Kerajaan Bukit yang berdiri pada abad XV (± 1580 M). Kerajaan tersebut letaknya di atas sebuah bukit yang datar, dengan jarak tempuh ± 2 km dari Kota Takengon (Ibu Kota Kabupaten Aceh Tengah). Raja Sangeda sendiri merupakan putra dari Raja Linge XIII, yang bernama Bukit. (AR. Latief, Pelangi Kehidupan Gayo dan Alas,1995)
Syair-syair yang dipersembahkan dalam seni Didong banyak mengandung nilai-nilai religius, nilai-nilai keindahan, nilai-nilai kebersamaan, dan lain sebagainya. Dalam ber-Didong para Syeh tidak hanya dituntut untuk mampu mengenal cerita-cerita religius, tetapi juga bersyair, memiliki suara yang merdu, serta dituntut ber-akhlakul karimah dan berbudi pekerti yang mulia.
Di antara penggalan syair seni Didong Gayo, yang isi dan makna terkandung di dalamnya, sarat dengan muatan nilai-nilai dan pesan moral yang relegius.
Berikut penulis utarakan beberapa bait syair dimaksud.
Sara ketike pada sara saat
Bewene lat batat hancur binasa
Langit nge gelep bumipe nge seput
Nge kalang kabut umet atan donya
Bewene si morip nge murasa takut
(Suatu ketika pada suatu saat
Semua makhluk hancur binasa
Langit kian gelap dan bumi pun selput
Sudah kalang kabut umat manusia
Semua yang hidup merasa ketakutan)
Pesan yang terekam dalam butiran bait syair di atas merupakan sebuah pesan yang menggambarkan keadaan manusia ketika hari kiamat tiba. Gaya bahasanya singkat dan padat, tetapi mampu menggambarkan berbagai keadaan, mulai dari proses terjadinya kiamat sampai pada keadaan umat manusia yang kalang kabut dalam ketakutan yang tiada perumpamaannya.
Esensi dari pesan dalam syair tersebut tidak lain adalah untuk mengingatkan umat manusia agar mempersiapkan dirinya sebaik mungkin untuk menghadapi hari esok yang kekal, yakni hari kiamat.
Hal ini sebagaimana digambarkan dalam Al-Quran surat Al-Zalzalal (bumi yang digoncangkan/QS:99:1-8)). Kita dituntut untuk memperbanyak amal ibadah dan memperkuat keimanannya dan ketakwaannya kepada Allah swt. untuk meraih kebahagiaan yang abadi kelak.
Melestarikan nilai-nilai budaya daerah juga bagian dari memperjuangkan nilai-nilai syariat lewat kearifan lokal dan budaya yang tidak menyimpang dari norma syariat itu sendiri. Seperti yang telah dirintis dan dikembangkan oleh masyarakat Gayo, khususnya dan Aceh pada umumnya.
Namun generasi muda penerus saat ini, kian hari melupakan produk dan warisan endatu sendiri dan lebih senang dan pede meniru budaya Barat yang lebih mengarah kepada degradasi moral dan nilai-nilai positif.
*Helmi Abu Bakar El-Langkawi Staf pengajar Bahasa dan Sastra di Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga dan IAIA Al-Aziziyah Samalanga.