JAKARTA – Sembilan perempuan asal Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, siang nanti akan berunjuk rasa di depan Istana Negara. Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng, Gunretno, mengatakan sembilan perempuan dan sejumlah warga Kendeng menolak pembangunan pabrik semen di wilayah mereka.

“Sebagai bentuk protes, sembilan perempuan akan menyemen kaki mereka di depan Istana Presiden,” ucap Gunretno melalui pesan pendek, Selasa, 12 April 2016.

Aksi menolak pendirian pabrik semen ini bukan yang pertama kalinya. Setahun lalu, ibu-ibu dari Pegunungan Kendeng berunjuk rasa dengan membunyikan lesung sebagai tanda bahaya di depan Istana Presiden.

Menurut Gunretno, aksi menyemen kaki kali ini merupakan simbol bahwa pabrik semen membelenggu hidup dan masa depan warga Pegunungan Kendeng. Para ibu, ujar Gunretno, sungguh berharap Presiden Joko Widodo mau bertemu dan berdialog soal pendirian pabrik semen yang diyakini bakal merusak lahan pertanian dan lingkungan. 

Pegunungan Kendeng meliputi sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Rembang, Pati, Blora, dan Grobogan. Di Rembang, misalnya, berdiri pabrik PT Semen Indonesia. Investigasi Tempo menunjukkan analisis dampak lingkungan (amdal) Semen Indonesia janggal.

Hasil kajian tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang salinannya diperoleh Tempo menyatakan amdal PT Semen Indonesia tak memaparkan kondisi lapangan sebenarnya. Misalnya ada daerah resapan air alias ponor, mata air, dan gua yang tidak dicantumkan di amdal PT Semen Indonesia.

Direktur Utama PT Semen Indonesia Suparni saat ditemui Tempo tahun lalu membantah pembangunan pabrik dan penambangan tak sesuai dengan aturan. “Kami pastikan bahwa kami melakukan (penambangan) di situ sesuai dengan RTRW (rencana tata ruang wilayah). Alat kontrolnya ada di Badan Lingkungan Hidup Jawa Tengah,” tuturnya. Suparni juga mengklaim amdal perusahaannya sudah sesuai dengan fakta di lapangan. “Hal-hal penting sudah dimasukkan. Ini adalah studi akademik dan saintifik.” | sumber : tempo