LHOKSUKON – Masa depannya terancam terputus seiring dengan sakit yang dideritanya. Satu persatu anggota tubuhnya melemah, bahkan kini ia sudah tidak bisa berjalan atau pun berbicara. Ia kesulitan menelan makanan, sehingga bobot tubuhnya turun drastis. Tak banyak yang ia harapkan saat ini, jika memang sudah tidak bisa disembuhkan, cukuplah bantuan kursi roda untuk meringankan sedikit deritanya.
Remaja berkulit hitam dengan tubuh kurus ceking itu bernama Khairil Anwar, 14 tahun, warga Gampong Tanjung Glumpang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Setahun lalu, ia masih tercatat sebagai siswa kelas I SMP Swasta Dayah Darul Mutaalimin milik Teungku Darkasih di Gampong Matang Pantang, Kecamatan Baktiya Barat.
Kini ia tinggal bersama ibu, kakak dan keponakannya, sedangkan ayahnya telah meninggal dunia saat musibah tsunami 2004 silam. Selama ini, ibunyalah yang berperan sebagai tulang punggung keluarga. Namun setelah ia sakit, sang ibu mulai kesulitan mencari nafkah. Kini mereka mulai menggantungkan hidup dari tangan para dermawan.
“Saat awal sakit di dayah, pipi kiri dan kanan terlihat tidak seimbang naik turun. Lalu berlanjut tangan kanan mulai gemetaran. Selang satu bulan kemudian hal serupa juga terjadi pada tangan kirinya. Saya putuskan membawanya kembali pulang ke rumah karena sudah tidak bisa menulis lagi,” kata Syamsiah Yusuf, 43 tahun, ibu kandung Kairil Anwar saat ditemui portalsatu.com di rumahnya, Sabtu 21 Mei 2016.
Setelah itu, Syamsiah membawa anaknya ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) Lhokseumawe. Kala itu dokter mendiagnosa anaknya mengalami gangguan saraf di kepala.
“Bukannya membaik, kini kondisi anak saya semakin parah. Untuk melanjutkan pengobatan saya terkendala dana. Kini ia selalu mengeluhkan sakit dengan menangis, tapi saya bingung tidak tahu sakitnya di mana. Ia sudah tidak bisa berbicara atau berjalan, bahkan berdiri saja sulit,” ujarnya menitikkan air mata.
Syamsiah berharap ada perhatian dari Pemerintah Aceh Utara atau Pemerintah Aceh untuk biaya pengobatan anaknya, termasuk bantuan kursi roda. Maklum, Aceh Utara adalah daerah kaya sumber daya alam dan “kaya” APBK. Pemerintah Aceh juga punya APBA melimpah.
“Saat ini hampir setiap hari saya bawa Khairil ke tukang urut. Untuk meringankan sakit sarafnya. Jika tidak diurut, setiap malam tiba ia tidak bisa tidur dan menjerit kesakitan. Hal itu mengusik kenyamanan tetangga. Saya bawa ke dukun kampung katanya anak saya kesambet setan 'meurampet jen'. Saya tidak tahu mana yang benar,” ucapnya kebingungan.
Syamsyiah mengatakan, Marhadi, abang kandung Khairil sempat meminta bantuan kursi roda dari anggota DPRA asal Aceh Utara. Kala itu ia diarahkan untuk membuat proposal permintaan pengadaan kursi roda. “Anak saya sudah berupaya memperjuangkan ke Dinas Sosial Provinsi Aceh, tapi hingga kini tidak ada hasil. Saya mohon kepada pemerintah, tolong bantu anak saya. Agar ia bisa sekolah lagi,” pintanya.
Sementara itu, Geuchik Gampong Tanjung Glumpang, Syamaun Yusuf membenarkan Khairil Anwar sudah setahun terakhir sakit. Ia juga membenarkan mereka berasal dari keluarga tidak mampu alias miskin.
“Mereka sangat membutuhkan uluran tangan. Ayah anak ini juga sudah meninggal saat tsunami. Sejak itulah keluarga ini kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya.[]


