Jai that kisah meunyoe ta ingat-ingat, han sep watee dua uroe dua malam meunyoe ta cerita, (banyak sekali kisah jika diingat-ingat, tidak cukup waktu dua hari dua malam jika diceritakan), seorang Panglima Sagoe di Lhok Drien, wilayah Sawang mulai membuka cerita.
Mengampu jabatan sebagai seorang legislator tak membuat ia lupa tentang sejarah perjuangan, ideologi dan cita-cita luhur yang dianutnya dulu. Anggota DPRA (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh) yang akrab disapa Teungku Di Payang ini bernama Tarmizi. Ia sekarang menjadi anggota komisi VI di gedung parlemen Aceh.
Hari itu pukul 16.20 WIB bertepatan dengan 15 Desember 2015 ia berkunjung ke kantor redaksi portalsatu.com. Dengan tujuan ingin bersilaturahmi dan berbicara santai dengan jajaran direksi dan redaksi ia mulai bercerita tentang perjuangan dulu dan perjuangan sekarang.
Thon 1998 long bergabung ngon GAM, watee nyan umu lon sekitar 20 tahun, (Tahun 1998 saya bergabung dengan GAM, waktu itu umur saya sekitar 20 tahun), ia mulai mengenang saat ia masih bergerilya di hutan. Sembari menyeruput kopi yang disediakan, ia kembali bercerita.
Tarmizi adalah seorang panglima sagoe di wilayah Sawang, Sagoe Lhok Drien, itu yang ia sebut saat mengenang kisah lama sebelum MoU Helsinki 15 Agustus 2005. Panggilan Teungku Di Payang menjadi sapaan akrabnya saat itu bahkan sampai sekarang. Sejenis nama sandi yang banyak dipakai oleh kombatan saat itu dan tentunya beraneka ragam.
Wate nyan, lam kawan long yang panyang, maka jih mungken di hei Panyang (Waktu itu, saya yang berpostur tubuh paling tinggi di antara kawan-kawan semarkas, karenanya saya dipanggil Panyang), kenangnya seraya tersenyum.
Tarmizi mengatakan bahwa alasan ia bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) adalah karena ideologi yang dibawa GAM saat itu adalah pemahaman tentang berpisah dari NKRI. Bagi Tarmizi muda, itu adalah hal yang sangat menarik. Ia pun mulai menampakkan minatnya, sampai akhirnya bergabung dan menjadi Panglima Sagoe.
Menarik, karena wate nyan ingin memerdekakan diri (Menarik, saat itu Aceh ingin memerdekakan diri), ucapnya sambil mengangguk pelan penuh khidmad.
Walaupun tidak memiliki keluarga dalam lingkungan GAM, Tarmizi muda tetap nekat ingin bergabung. Tak lupa, restu orangtua pun ia minta. Menurut Tarmizi doa orang tua sangatlah diperlukan dalam segala aspek kehidupan.
Ureung chik watee nyan geupeugah, doa sagai dari gob nyan (Saat itu, orang tua saya hanya mengatakan bahwa darinya hanya doa), kenang Tarmizi.
Tarmizi melanjutkan kembali ceritanya. Kisah yang paling membuatnya merasa sedih adalah ketika melihat tubuh temannya terbujur kaku di sampingnya, tak benyawa. Ia mengingat hal itu, sangat berat ketika ia mengatakan, sedih melihat temannya tak bernyawa diterjang peluru di hadapan mata.
Ta kalon ngon ka teu eh inan hana le nyawong, ka sedih teuh (Melihat kawan terbaring tidak bernyawa lagi, amat sedih rasanya), suara Tarmizi terdengar pelan, terdapat banyak cerita dalam nada suara itu.
Bergerilya dari satu hutan ke hutan lainnya membuat Tarmizi lebih mengenal diri. Baginya niat ikhlas dan suci menjadi modal utama perjuangannya. Jika tidak, semua yang ia lakukan akan menjadi sia-sia. Pemuda yang pernah menyantri ini mengaku sangat memegang teguh peraturan beragama.
Menyoe hana jeut keu GAM wate nyan, mungken lon ka jeut ke teungku, niet wate nyan cit ikhlas perjuangan (Kalau saya tidak masuk GAM saat itu, maka sekarang saya ini pasti menjadi teungku -orang alim), lanjutnya sembari menyeruput kembali kopi hitam yang mulai agak dingin itu.
Menjadi Legislator
Menjadi seorang anggota dewan yang terhormat bukanlah niat awal Tarmizi muda. Bahkan ia sama sekali tidak memikirkan tentang jabatan di pemerintahan. Oleh sebab itu, saat ditawari menjadi anggota DPRK Aceh Utara pada tahun 2009 ia menolak.
Thon 2009 na i lake jeut ke anggota DPRK tapi han lon teurimeung, hana siap dan memang hana cita-cita keu nan (Pada tahun 2009, pernah diminta menjadi anggota DPRK Aceh Utara, tidak saya terima karena memang tidak ada niat untuk itu), katanya.
Namun, setelah memperhatikan kondisi politik dan kehidupan di Aceh selama lima tahun terakhir, membuat Tarmizi sadar bahwa perjuangannya belum selesai. Ia harus kembali berjuang, berjuang dengan cara yang berbeda. Mungkin tak memanggul senjata, tapi membawa amanah.
Akhirnya, saat pencalonan wakil rakyat, ia menerima untuk dicalonkan. Dengan niat perjuangan hak rakyat ia menuju gedung parlemen.
Wate na info bahwa dibutuhkan anggota DPRA dari Sawang long peugah ceu nan long di pencalonan DPRK, kon peurle rayeuk tapi bah sigoe ku ba (Ketika ada kabar bahwa dibutuhkan anggota DPRA dari Sawang, maka saya tegaskan, coretlah nama saya di calon anggota DPRK Aceh Utara supaya sekalian saja, katanya.
Ia sangat menyadari bahwa menjadi anggota dewan yang terhormat tidaklah mudah. Banyak hal yang harus diperhatikan. Bahkan ia sangat menyadari bahwa menjadi anggota DPRA memiliki beban yang sangat banyak. Dan dalam hal ini pun ia tetap meminta izin dari orang tuannya dan dari gurunya.
Awai hana geubi le ureung chik dan guree long seubab geu tupu beban yang long ba semakin rayeuk (Awalnya dilarang oleh orang tua dan guru pengajian saya karena mereka tahu bahwa beban yang akan saya tanggung semakin besar), kenang Tarmizi.
Namun, ia menjelaskan kembali maksud dan tujuannya untuk menuju ke parlemen. Mendengar penjelsan Tarmizi, akhirnya orang tua dan gurunya dapat menerima dan melepas pergi Tarmizi menuju ranah politik.
Pada masa kampanye, ia mengaku tidak memiliki modal khusus. Hanya beberapa tim suksesnya yang membuat beberapa baliho dan spanduk selebihnya ia mengatakan bahwa tidak ada modal khusus apalagi sampai berlebihan untuk mengkampanyekan diri.
Cuma moto Avanza silver nyan saboh ngon wet wet, kadang na spanduk inoe, ka hana ideuh, wate jilake le ngon ka hana (Cuma mobil Avanza silver itu saja untuk berkeliling, kadang ada panduk di satu tempat, tapi di tempat lain tidak ada, ketika kawan memintanya, tidak ada), ucapnya sembari tersenyum.
Akhirnya pada tahun 2014 silam ia terpilih menjadi anggota DPRA. Hal itu semakin memantapkan niatnya untuk membangun Aceh. Oleh sebab itu ia membidik komisi II dan IV karena berhubungan langsung dengan pembangunan. Namun ia harus menerima ditempatkan di komisi VI. Pun demikian, niat awalnya ingin memperjuangkan nasib rakyat tak berhenti. Dengan segala akses dan tenaga yang ia miliki, Tarmizi berbuat sebagamana mestinya.
Peluang untuk ta bantu meunyoe di DPRA leubeh rayek (peluang untuk membantu, kalau di DPRA lebih besar), lanjut Tarmizi.
Saat menjabat sebagai anggota dewan ia merasa bahwa ada perbedaan yang sangat besar antara saat di rimba dulu dengan saat di parlemen sekarang. Tetapi ia memfokuskan diri untuk belajar dan beradaptasi. Sampai akhirnya mengenal lebih banyak dunia politik.
Beda that dari rimba u parlemen (Berbeda sangat dari rimba ke parlemen), itu kata yang terucap dari seorang Panglima Sagoe. Ia mulai memahami bahwa perubahan iklim tersebut tidak boleh membuatnya menyerah.
Lee that PR tanyoe jino, na gampong yang mantong golom na jalan, na tempat di peulosok yang golom na rumoh saket, jadi menyoe na yang dari mantan kombatan jeut keu DPR, jeut ke bupati, gubernur, nyan menyoe tuwo u likot, long hana seutuju, tegas Tarmizi.
Baginya, perjuangan tak hanya persoalan mengangkat senjata, namun berjuang adalah bagaimana berperan dengan maksimal untuk kesejahteraan bersama dan kemakmukran Aceh khususnya.[](tyb)