TERKINI
FEATURE

Chokchai Farm, Agrowisata Nan Ciamik di Thailand

THAILAND telah menjadi destinasi wisata favorit di Asia, khususnya Asia Tenggara. Tidak hanya mengandalkan wisata berbelanja, nuansa artistik yang kental dari candi dan sungainya, namun…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.4K×

THAILAND telah menjadi destinasi wisata favorit di Asia, khususnya Asia Tenggara. Tidak hanya mengandalkan wisata berbelanja, nuansa artistik yang kental dari candi dan sungainya, namun juga tidak ketinggalan agrowisata yang menarik untuk dikunjungi. Dan Chokchai Farm menjadi salah satu referensi agrowisata andalan di Thailand.  

Chokchai Farm sendiri merupakan peternakan sapi perah yang dikemas begitu apik, yang memberikan hiburan dan edukasi pada pengunjung mengenai pemeliharaan sapi, proses pemerasan susu dan tentunya proses pengolahan susu.
Kehadiran di Thailand dalam rangka penelitian, saya manfaatkan untuk mengunjungi Chokchai Farm.

Berlokasi di Nongnamdaeng-Pakchong, Provinsi Nakhon Ratchasima, Chokchai Farm ini berjarak sekitar 159 km dari Bangkok. Setelah menempuh perjalanan darat kurang lebih 2,5 jam, sampailah saya di  Chokchai Farm. Chokchai Farm ini sendiri terletak dipinggir jalan raya atau jalan provinsi, sehingga tidak membutuhkan transportasi lain untuk menjangkaunya, begitu turun dari bus kita akan langsung melihat peternakan ini disisi jalan.

Untuk dapat masuk ke areal peternakan, pengunjung dikenakan tarif sebesar 300 Baht untuk dewasa atau 120 ribu rupiah (? 1 = Rp 400), sedangkan anak-anak 150 Baht. Melalui pintu masuk, saya dan pengunjung lainnya diarahkan ke gedung auditorium, untuk menyaksikan tayangan visual tentang sejarah dan perkembangannya. Ternyata Chokchai Farm mulai dibangun tahun 1957 dan menjadi salah satu peternakan sapi perah tertua di Thailand.

Setelah menyaksikan tayangan visual, pengunjung akan dibawa menuju kandang pemerahan sapi, namun sebelumnya setiap pengunjung disterilkan dengan membasuh tangan dan kaki dengan disemprotkan antiseptik. Di kandang pemerahan ini, pemandu tur menjelaskan tentang bagaimana proses pemerahan dilakukan.

Pemerahan sapi di peternakan ini telah menggunakan mesin pemerah susu otomatis yang susunya ditampung dalam tabung penampungan dan selanjutnya langsung dialirkan ke ruang pengolahan susu. Menariknya, bagi pengunjung anak-anak diberikan kesempatan untuk memerah susu secara manual.

Selanjutnya pengunjung akan dibawa menuju tempat pengolahan susu yang berada diseberang jalan dari kandang pemerahan. Disini pengunjung diperkenalkan cara-cara pengolahan susu, mulai dari pembuatan ice cream dan keju dengan berbagai varian rasa, dan setiap pengunjung diberikan kesempatan untuk sekedar mencicipinya.

Selepas dari ruang pengolahan, pengunjung diajak berkeliling peternakan menggunakan tiga gerbong  kereta yang ditarik sebuah traktor. Dalam perjalanan, saya dan pengunjung lainnya, dapat melihat-lihat ribuan sapi yang berada lapangan rumput yang terhampar luas. Dibahagian lapangan lain juga terlihat alat-alat berat pertanian seperti traktor, truk pengangkut dan mesin pemanen rumput sedang bekerja melakukan pemanenan dan penanaman rumput. 

Diakhir perjalanan berkeliling peternakan, pengunjung akan singgah di satu bangunan yang terbuka, yang menjadi tempat cowboy show. Disini ada ateraksi berkuda dari seorang koboi, permainan tali laso, dan juga atraksi memainkan senjata ala kobi. Ditempat ini juga tersedia permainan lain, serta dimana terdapat berbagai tempat permainan, kafe maupun menunggang kuda bagi pengunjung. Kelihatannya tempat ini menjadi favorit bagi pengunjung anak-anak, mereka sangat bersemangat dan ceria.

Diakhir tur, pengunjung dibawa ketempat penjualan sovenir. Disini berbagai sovenir dijual, mulai dari kaos yang bertuliskan Chokchai Farm, sampai dengan topi ala koboi, tali pinggang dan bahkan sepatu dan tas yang semua bernuansa ala koboi.

Menarik untuk dipelajari, bagaimana Chokchai Farm berhasil mengelola peternakan sapi menjadi salah satu pusat wisata edukasi peternakan. Setidaknya Aceh memiliki potensi untuk dapat mengembangkan agrowisata berbasis peternakan ini. Salah satunya, wilayah Saree-Aceh Besar mendukung dari segi kondisi alamnya, tinggal bagaimana kita memodifikasi sesuai dengan sosial budaya dan penyiapan infrastruktur pendukungnya. Semoga Aceh juga memiliki agrowisata yang tidak kalah ciamiknya dibandingkan dengan Chokchai Farm di Thailand.[]

Penulis: Hendra Saputra, Aparatur Sipil Negara (ASN) Aceh, sedang menyelesaikan Pendidikan Doktoral Pembangunan Pertanian di universitas Andalas Padang, melaporkan dari Nakhon Ratchasima, Thailand.

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar