Nilam Cahya bergegas masuk. Ia menyeruak orang-orang yang berdesakan di pintu kapal. Tali tasnya yang tergelantung di punggung sesekali terkena lengan siapa saja di tangga besi berkarat. Bau asap kendaraan bermotor dan air laut bercampur di endusannya. Ia menutup hidungnya dengan sapu tangan kuning.
Setiba di atas geladak kapal, ia mengehela nafas sedalam-dalamnya. Dari arah laut terdengar deru angin kencang, seakan-akan itu jeritan dari kedalaman samudra.
Azimar yang dari tadi berada di geladak melambainya.
Untung kapal ini bisa berlayar. Aku ingin meugang dan puasa pertama dengan ibu dan ayah. Sudah beberapa bulan tidak bersama mereka, Azimar melirik jam tangannya.
Pukul 18.45 WIB, 19 Januari 1996.
Nilam Cahya melirik jam bertali ungu di tangan kawannya itu.
Kapal mulai bergerak.
Ini Jumat sore, 19 Januari 1996. Tiga hari lagi masuk bulan suci Ramadhan. Nilam Cahya melirik Azimar.
Berapa lama engkau akan di Sabang?
Sampai hari raya ke lima, Azimar melihat pelabuhan yang perlahan mulai mengecil dari pandangannya.
Dilihat dari laut, Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Aceh Besar juga indah, Nilam Cahya menunjuk pelabuhan.
Dalam khayalanku malah lebih indah dari ini.
Mereka pun tertawa.
Kata pamanku, kapal ini baru selesai diperbaiki sekira seminggu lagi, Nilam Cahya mengetatkan sanggul rambut keritingnya.
Kapal ini kuat juga, Azimar menghembus rambut lurusnya yang mengenai bibir.
Seharusnya kapal ini digudangkan sejak beberapa bulan lalu. Namun sudah berkali-kali pemerintah kita meminta kapal baru ke Jakarta. Diabaikan.
Kapal ini masih kuat. Ada sekira 378 orang yang di dalam kapal ini. 282 orang penduduk Sabang, sekira 200 orang dari luar Sabang, dan serta 16 Warga Negara Asing.
Kapal ini hanya diizinkan membawa 210 orang penumpang, itu di saat masih baru. Bagaimana bisa mengangkut orang sebanyak itu?
Sudah kukatakan bahwa kapal ini kuat.
Kawanan lumba-lumba melompat di kiri kanan lumbung kapal, mengiringi pelayar. Namun, setelah beberapa lama, sekawanan ikan itu melompat agak ke hadapan kapal seraya menjerit, persis jeritan dari kedalaman samudra tadi.
Nilam Cahya. Hanya ini kapal ke Sabang. Dan kita mahu menghadapi meugang puasa, Azimar berteriak, berusaha melawan deru angin dan suara mesin kapal.
Kapal ini sudah rusak berkali-kali, baru diambil dari gudang teknisi selesai benar diperbaiki, tidak akan sanggup berlayar, apalagi dengan beban lebih seperti ini, apa lagi ini musim angin kencang.
Ini kapal kuat.
Kuat bagaimana, Azimar?
Itu, selain puluhan orang lebih dinaikkan, masih sanggup memuat barang lebih beberapa ton. Ini kapal terkuat di dunia.
Kamu bercanda, kan? Nilam Cahya menatap wajah Azimar yang menggeleng perlahan.
Tidak. Itu kamu hitunglah sendiri. Muatan barang di kapal ini mencapai lima puluh ton. Ada sepuluh ton semen, delapan ton bahan bakar, lima belas ton tiang beton listrik, bahan makanan serta pakaian untuk orang Sabang. Dan dua belas kendaraan roda empat dan enam belas roda dua.
Celaka. Aku mahu turun. Kapal ini akan tenggelam.
Tetapi. Ini sudah satu mil di laut. Dan mulai gelap, Azimar memperhatikan air laut di antara orang-orang yang bersedakan di lantai atas kapal itu.
Mengapa mereka jalankan kapal ini. Ini pembunuhan terencana!
Angin kencang, air pun bergolak. Kedua kawan sepulau yang menjenguk orang tua mereka di Sabang itu terus berbicara.
Laut semakin gelap. Angin semakin kencang. Di ujung langit terlihat kilat membelah udara kelam dengan bunga cahaya yang aneh. Suara halilintar ikut mendebarkan jantung. Kapal semakin berayun-ayun, lebih dari satu setengah meter.
Kita akan tiba di Pelabuhan Balohan pukul 21.00 WIB, Azimar berusaha tersenyum. Namun tidak bisa menyembunyikan ketakutannya tatkala suara halilintar membentak apa saja di udara malam.
Ada sekitar empat sampai enam mil lagi ke Balohan. Aku tidak sabar bertemu ibu dan ayah. Mereka telah menungguku di sana, Nilam Cahya ikut berpura tersenyum, menyembunyikan ketakukannya.
Kapal semakin berguncang. Lalu tiba-tiba sunyi. Tidak ada suara halilintar. Tidak ada deru angin. Tidak ada cahaya kilat. Kapal dan laut tempatnya mengapung itu pun gelap gulita. Pecahan buih di sisi samping dan belakang kapal itu lenyap, suara mesin kapal pun menghilang.
Hening. Ombak pun semakin meninggi.
Azimar dan Nilam Cahya saling memandang. Orang-orang terdiam. Lalu berbisik-bisik. Wajah mereka pun pucat dalam temaram lampu kapal yang satu persatu padam.
Sunyi. Laut dan kapal gelap gulita.
Kapal hanya bergerak seperti diayun ombak dengan keras, berputar-putar. Orang-orang mulai berteriak, berlarian di geladak yang mulai miring.
Seperti kataku, kapal ini akan tenggelam, Nilam Cahya, gadis dari Keuneukai, mahasiswa teknik di sebuah universitas negeri Banda Aceh. Dara itu memegang erat tangan Azimar.
Bukan akan, tetapi memang mulai tenggelam, Azimar, gadis dari Gapang, mahasiswa tarbiyah di institut agama itu pucat.
Orang-orang mengucap nama Tuhan, termasuk orang yang tidak beriman. Siapa saja di kapal itu mengharapkan siapa pun yang diyakini bisa menjadi penyelamat. Namun, saat harapan itu menghilang, sebagian orang melompat ke laut. Sebagian lagi tidak sempat melompat. Mereka dihempas ombak, dan terpental ke laut.
Sudah kukatakan, ini kapal renta, Nilam Cahya mendesis di antara suara teriakan orang-orang yang tumpah ke laut bersama barang-barang. Sebagian lagi tidak sempat keluar, terjebak di dalam kapal yang hampir menghilang dari permukaan air.
Kapal ini tidak sekuat yang kupikirkan, Azimar terpelanting, namun sempat mencengkram besi di tepi kapal. Nilam Cahya menarik tangannya.
Engkau benar, Nilam Cahya. Ini pembunuhan terencana.
Aku tidak bisa menyelamatkan mereka semua, akan tetapi bisa menyelamatkanmu, Nilam Cahya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Apa itu, Azimar meraba tas Nilam Cahya. Sebuah ban truk besar.
Aku suka menyelam dan berenang. Selalu membawa ini apabila ke pantai, naik perahu atau kapal, Nilam Cahya meniup ban di tangannya, di atas geladak kapal yang tinggal seperlima di atas air itu.
Cepat, cepat! Azimar memeluk besi di tepi geladak.
Ini hanya cukup untuk kita berdua, tidak untuk barang-barang, Nilam Cahya membuang tas ke laut seraya masuk ke lingkaran ban.
Buang tasmu, masuklah ke sini! Teriak Nilam Cahya.
Tidak, dalam tas ini ada kue kesukaan ayahku, Azimar mencengkram besi sisi geladak, semakin kuat. Kapal itu mulai begerak miring, semakin miring. Perlahan, kapal itu pun tenggelam.
Kue itu tidak ada artinya kalau engkau tenggelam. Lepaskan besi itu. Buang tasmu. Cepat ke sini! Nilam Cahya berusaha meraih tengan Azimar.
Aku tidak berani.
Angin kencang muncul lagi, menyapu permukaan laut itu. Orang-orang dan pun barang tenggelam bersama kapal renta. Sebagian orang timbul lagi. Nilam Cahya ikut tenggelam, namun timbul lagi. Ia menelan beberapa teguk air asin dan dingin.
Ia berenang, mengayuh di atas ban, mencari Azimar dalam air bergelombang. Satu dua orang ditemukannya, telah meninggal dunia.
“Bukankah ini Pak Cikku, calon Wali Kota Sabang. Dan ini anaknya. Mengapa mereka bisa ada di kapal ini?” Nilam Cahya meninggalkan dua jenazah itu. Ia mengayuh ban lagi, berenang, terus mencari Azimar.
Teriakan orang-orang tidak lagi terdengar. Mereka telah tenggelam atau masih terapung tetapi pingsan. Yang masih hidup dan tersadar, tidak lagi berteriak, kehabisan suara.
Nilam Cahya menabrak seseorang, terapung. Ada tas di punggungnya. Ia mencoba mengenali tas, rambut, dan gaya baju orang yang berayun-ayun di atas air laut.
Untung engkau tidak membuang tas ini, aku menemukan dan mengenalimu, Nilam Cahya menarik Azimar ke atas ban. Dengan bersusah payah ia pun berhasil, lalu meniup mulutnya.
Laut sunyi. Tidak ada kapal patroli, tidak ada bantuan yang datang. Kapal Gurita pun meluncur cepat ke celah karang di sisi bawah Pulaw Weh, menguburkan apa saja yang bersamanya di sana.
Sayup-sayup terdengar teriakan dari orang yang masih hidup. Mereka berenang ke arah pelabuhan Balohan.
Walaupun berat, aku tidak akan membuang tasmu. Kalau hidup, biarlah kauberikan sendiri kue kesukaan ayahmu. Kalau engkau tidak lagi bernyawa, biarlah orang tuamu tahu bahwa engkau mencintai mereka.
Nilam Cahya mengayuh di atas ban. Sesekali, ombak melemparnya, mengapung, melayang, jatuh, tenggelam, dan timbul. Air laut semakin dingin. Gadis itu pun menggigil, pingsan.
Nilam Cahya tidak sempat menyaksikan, ada seorang yang berhasil berenang selama empat jam ke Balohan, memberitahukan pada orang-orang tentang tenggelamnya kapal yang mereka tumpangi. Keesokan harinya, ia menyadari dirinya berada di ruang gawat darurat Rumah Sehat.
Engkau salah satu dari empat puluh orang selamat. Lima puluh empat orang ditemukan meninggal dunia, dan dua ratus delapan puluh empat orang hilang bersama KMP Gurita yang tenggelam ke celah karang pulau, dasar laut. Tidak bisa diangkat lagi, kata perawat di sisi bangsalnya.
Bagaimana Azimar. Selamatkah ia? Nilam Cahya berkata tersendat-sendat. Ia berusaha bangun, namun tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Banda Aceh, 19 Januari 2016.
*Thayeb Loh Angen, Penulis Novel Aceh 2025