Zulfahmi yang berasal dari keluarga miskin hanya mengenyam pendidikan sampai kelas empat sekolah dasar. Ia kini menjadi ustaz di gampongnya, mengajarkan anak-anak mengaji pada malam hari. Siang harinya, pemuda ini mulai mengolah potongan kaca bekas menjadi akuarium, celengan, dan miniatur rumah hias. Bagaimana ceritanya?
Lahir di Gampong Baro, Kecamatan Julok, Aceh Timur, 21 Agustus 1990 silam, Zulfahmi adalah anak pertama dari tiga bersaudara pasangan (almarhum) Abdul Muthaleb dan Syamsyiah. Gampong Baro berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat pemerintahan kabupaten pimpinan Hasballah M. Thaib-Syahrul Syama'un.
Zulfahmi telah yatim sejak ia berumur 13 tahun. Setelah bapaknya meninggal dunia, ia berusaha menjadi tulang punggung keluarganya yang hidup dalam kubangan kemiskinan di tengah kekayaan Aceh melimpah ruah.
Saat saya kunjungi pada tahun 2007 silam, keluarga miskin itu tinggal di rumah berkonstruksi kayu dengan dinding bolong-bolong. Semen lantai rumah itu terlihat banyak yang retak. Bagian kamar dan dapur hanya terbentang tirai sebagai pengganti pintu.
Zulfahmi lantas hidup berpindah-pindah tempat. Statusnya perantau. Beberapa wilayah di Aceh telah dijelajahinya untuk mencari penghasilan. Namun rezeki yang ia peroleh hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sosok berkulit hitam dan rambut keriting itu kemudian pulang ke kampung halamannya. Ia memutuskan untuk mondok di Dayah Darussa'adah di Kecamatan Julok. Dayah itu berjarak sekitar 5 kilometer dari rumahnya. Ketika itu, ia dikenal sebagai santri yang cerdas, sehingga teungku/ustaz alias guru pengajian sangat bangga sekaligus menyayanginya.
Lebaran kali ini, saya kembali mengunjungi Zulfahmi yang telah menjadi seorang ustaz. Ia membantu membimbing mengaji anak-anak di dayah tadisional di gampongnya. Peci dan sarung terus melekat di tubuh kurusnya itu. “Jai that mantong aneuk mit hanjeut dibeut (Masih banyak bocah yang tidak bisa ngaji),” kata Zulfahmi.
Kehidupannya kini tidak banyak berubah. Tempat tinggalnya bahkan semakin memprihatinkan. Dari sisi depan, rumah itu tampak miring ke kiri. Lantai semen yang dahulu retak, kini tinggal tanah. Ada satu gubuk kecil lain di sisi kanan rumah itu. Gubuk terbuat dari triplek itu dibangun oleh Zulfahmi sebagai tempat berteduh baginya. Sementara ibu dan dua adiknya masih menempati rumah tua.