TERKINI
NEWS

Cerita Petani Miskin Saat Rumah Roboh Diterjang Puting Beliung

LHOKSUKON - Ramli, 44 tahun, warga Gampong Matang Teungoh, Kemukiman Ara Bungkok, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, hanya bisa pasrah saat melihat rumahnya roboh diterjang angin puting…

SUDIRMAN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 723×

LHOKSUKON – Ramli, 44 tahun, warga Gampong Matang Teungoh, Kemukiman Ara Bungkok, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, hanya bisa pasrah saat melihat rumahnya roboh diterjang angin puting beliung, Selasa, 28 Februari 2017 pukul 03.00 WIB. Saat ini ia tidak punya tempat tinggal lagi. Untuk sementara waktu, ia tidur di pos Partai Aceh (PA) yang ada di gampong setempat.

Amatan portalsatu.com, rumah Ramli berdinding papan dan beratapkan daun rumbia. Rumah yang dasarnya hanya berukuran sekitar 4×5 meter tersebut berlantai tanah pekat. Meski telah roboh, masih terlihat bahwa di rumah itu hanya ada satu kamar dengan lantai karpet yang digelar di atas tanah. Di dalam rumah hanya terlihat sebuah rak piring, tidak ada pelaralatan elektronik sama sekali.

Rumah Ramli hanya berjarak beberapa meter dari belakang rumah Ketua Komisi D DPRK Aceh Utara. Jalan yang harus dilalui untuk mencapai rumah tersebut juga sangat becek, mengingat hujan mengguyur sejak semalam.

“Saya sudah tinggal di rumah ini sejak tahun 2002 lalu. Rumah ini saya bangun alakadar di atas tanah orang lain. Saya juga sudah membeli tanah sendiri beberapa tahun lalu, tapi tidak punya uang untuk bangun rumah. Makanya saya tempati yang ini saja, meski pun sudah tidak layak. Tiang rumah memang sudah lapuk, demikian juga dengan dinding papan. Atap juga sudah bocor. Jika hujan, di dalam rumah seperti kubangan,” ujar Ramli, saat portalsatu.com menemuinya, di rumahnya.

Ia menambahkan, untungnya saat kejadian, tiga anaknya tidak ada di rumah. “Anak sulung saya yang berusia 17 tahun tinggal di Dayah Babussalam, Matangkuli. Begitu juga anak kedua, 14 tahun, juga di dayah yang sama. Sementara anak bungsu saya yang berusia 10 tahun, tinggal di rumah neneknya,” kata Ramli.

Saat kejadian, Ramli sedang terlelap. Suara patahan kayu membangunkannya. Sontak dia keluar untuk menyelidiki dari mana suara berasal.

“Ternyata itu suara tiang penyangga rumah yang patah. Tak lama berselang, rumah pun roboh,” kisahnya.

Dalam keseharian, simpatisan Partai Aceh (PA) itu bekerja serabutan, termasuk menjadi buruh tani. Sebelumnya ia sempat mengadu nasib ke luar kota, tetapi akhirnya memilih kembali ke kampung halaman.

“Beginilah kondisi saya yang memang tidak mampu. Meski miskin, tapi anak saya yang duduk di bangku kelas IV MIN Lhoksukon, tidak pernah mendapatkan beasiswa. Anak saya tidak pernah menerima beasiswa apapun,” kata Ramli. []

SUDIRMAN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar