TERKINI
NEWS

Cerita JK tentang Perundingan Damai: Jangan Memakai Kata Takluk

BANDA ACEH – Wapres RI Muhammad Jusuf Kalla (JK) yang baru saja menerima gelar doktor kehormatan bidang perdamaian dan kemanusian dari Unsyiah,  menyebut penandatangan MoU…

ADI GONDRONG Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1.4K×

BANDA ACEH – Wapres RI Muhammad Jusuf Kalla (JK) yang baru saja menerima gelar doktor kehormatan bidang perdamaian dan kemanusian dari Unsyiah,  menyebut penandatangan MoU antara GAM dan RI di Helsinki 10 tahun silam adalah win win solution yang tidak merugikan pihak manapun.

Pasalnya, JK menganggap bahwa dengan penandatanganan perjanjian damai yang tidak dilakukan di Indonesia itu, tidak ada pihak yang merasa kalah atau takluk.

“Selama masa perundingan saya perintahkan untuk seluruh pihak yang bersangkutan untuk tidak memakai kata takluk, pelucutan senjata, kalah atau menyerahkan diri, karena dalam penandatangan MoU tidak ada pihak yang kalah maupun pihak yang menang,” ucap JK saat menjadi pembicara pada Konfereni Internasional 10 Tahun Perdamian Aceh, di Hotel Hermes, Banda Aceh, Sabtu, 14 November 2015.

JK mengatakan perundingan damai dilakukan dengan sangat rahasia dan hati-hati. Karena JK menganggap kalau perundingan damai dilakukan dengan terbuka dan tidak hati-hati maka akan berakibat fatal yang berujung pada ketidaksepahaman pendapat.

“Kesepakatan damai jika dilakukan secara terbuka maka akan ada pihak yang tidak ingin kesepakatan ini terjadi, maka harus dilakukan secara hati-hati dan sangat rahasia,” ucap JK.

JK mengatakan bahwa persoalan MoU damai antara GAM dan RI tidak diketahui siapa pun.  Kecuali, kata JK, dirinya dan SBY yang saat itu menjabat sebagai Presiden RI dan beberapa orang yang terlibat dalam proses perdamaian.

“DPR nanya ke saya tentang perdamaian ini waktu itu, saya bilang, ini urusan pemerintah bukan urusan DPR,” kata JK.[]

ADI GONDRONG
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar