TERKINI
TAK BERKATEGORI

Cerita Ibu dari Korban Pelecehan Seksual Oknum Guru di Aceh Utara

LHOKSUKON – S, ibu kandung M, korban pelecehan seksual yang dilaporkan dilakukan dua oknum guru salah satu SMA di Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, menyatakan tidak…

NUSI P SEURUNGKENG Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 3.8K×

LHOKSUKON – S, ibu kandung M, korban pelecehan seksual yang dilaporkan dilakukan dua oknum guru salah satu SMA di Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, menyatakan tidak terima dengan perbuatan tak senonoh tersebut. S menyekolahkan anaknya agar memeroleh pendidikan yang baik. Namun, kata dia, kenyataannya malah mendapat perlakukan tidak terpuji yang meninggalkan trauma bagi anaknya.

“Sabtu anak saya pulang sekolah sambil menangis, saya tanya ada apa tidak dijawab. Minggu malam sehabis magrib anak saya bilang rapornya banyak yang merah. Saya diminta datang ke sekolah menemui YZ dan ZL. Saya tanya ada apa, malah dijawab, datang saja ke sekolah mak, biar tahu masalahnya,” kata S kepada portalsatu.com, Jumat, 8 April 2016.

Senin lalu, S menemui kepala sekolah, akan tetapi diminta menunggu sesaat karena sedang pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Setelah seluruh siswa peserta UN pulang, S dibawa ke salah satu ruangan.

“Kepsek (kepala sekolah) tiba-tiba bilang: ‘saya pikir sudah selesai masalah karena sudah didamaikan di sekolah’. Sebagai orang tua saya tidak terima, bagaimana bisa dibuat perdamaian, sedangkan wali tidak dipanggil. Dijawab kepsek: ‘bagaimana tidak sah, sedangkan siswa bersangkutan sudah teken’. Saya minta lihat surat damainya, kata kepsek tidak ada karena guru yang pegang surat itu tidak datang,” ujar S.

Lalu, S melanjutkan, kepsek mengatakan, “bagaimana jadi buk, di sekolah kan tidak ada penjaranya, jadi tidak bisa kami hukum”. Mendengar itu, S langsung menjawab, “tidak usah susah pak, di luar sekolah banyak penjara”.

“Surat tuntutan disuruh cabut, rapor anak saya yang ‘merah dihitamkan’ kembali. Bahkan anak saya dijanjikan mau masuk kelas manapun akan diizinkan. Tapi saya tetap tidak terima dan langsung lapor polisi, Selasa, 5 April 2016,” kata S.

Dalam kasus ini, S mengaku tidak mau berdamai. Selain itu, ia juga menyerahkan kepada pihak keluarga, mengingat suaminya bekerja di luar kota.

“Sekarang ini M lebih banyak diam dan melamun, dia memang sedikit tertutup. Pergi sekolah saya antar, pulang saya jemput. Saya sempat heran mengapa belakangan ini anak saya malas belajar. Ternyata ini sebabnya,” ucap S.[] (idg)

NUSI P SEURUNGKENG
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar