Anda sudah pasti tak asing lagi dengan nama-nama bulan dalam kalender Masehi, yaitu Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember. Tentu saja nama bulan-bulan itu diingat semua orang karena di setiap bulan itulah para pegawai negeri sipil atau karyawan-karyawan menerima rupiah, hasil jerih payah selama sebulan.
Selain bulan-bulan Masehi, ada pula bulan-bulan Hijriah, yaitu Muharam, Safar, Rabiulawal, Rabiulakhir, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, Zulhijjah. Nama ini mungkin tak semuanya menghafal karena bulan ini fungsinya tak seperti nama-nama bulan Masehi yang dipakai untuk membayar gaji.
Beberapa bahasa daerah di Indonesia memiliki nama khusus untuk bulan-bulan seperti yang disebutkan di atas. Sebut saja misalnya bahasa Jawa. Dalam bahasa ini ada nama-nama bulan, yaitu Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulut, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, (Arwah, Saban), Pasa (Puwasa, Siyam, Ramelan), Sawal, Sela (Dulkangidah, Apit), Besar (Dulkahijjah).
Sebagian nama bulan dalam bahasa Jawa itu diambil dari kalender Hijriah, dengan nama-nama Arab, tetapi beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sanskerta seperti Pasa, Sela dan kemungkinan juga Sura. Adapun nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu (http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Jawa).
Bahasa Aceh ternyata juga punya koleksi nama bulan. Seperti bahasa Jawa, nama-nama bulan dalam bahasa Aceh juga berasal dari beberapa bahasa, salah satunya bahasa Aceh itu sendiri.
Dalam bahasa Aceh, bulan disebut juga buleuen. Buleuen merupakan nama bulan dilangit yang selalu memberi cahaya terang, simbol inspirasi manusia, bahkan sumber pedoman dalam menghitung kegiatan kehidupan sehari-hari, seperti menentukan pilihan, waktu yang tepat untuk pernikahan, pelaksanaan kegiatan pertanian, upacara-upacara peringatan keagamaan, dan turun ke laut.