TERKINI
HEALTH

Bulan Safar (III): Safar Al-Khair dan Mitos Rabu Abeh

Tanpa terasa umat Islam saat ini telah memasuki dan menjelang akhir bulan yang kedua dalam kelender Islam yakni Safar. Allah SWT menjadikan setiap bulan sesuai…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 992×

Tanpa terasa umat Islam saat ini telah memasuki dan menjelang akhir bulan yang kedua dalam kelender Islam yakni Safar. Allah SWT menjadikan setiap bulan sesuai dengan wajah tasmiah (alasan penamaan). Umpamanya bulan yang diharamkan untuk berperang dinamai dengan bulan Muharam, bulan saat pepohonan berduri dikenal dengan Rajab, begitu juga dengan Safar. Wajah tasmiah Safar disebabkan pada bulan itu orang Arab meninggalkan rumah-rumah mereka dalam keadaan kosong (kitab Hawasyi Syarwani, jld 3, hal 371).

Allah SWT menjadikan Safar juga sebagai salah satu bulan yang mulia atau yang lebih dikenal dengan nama Safarul khairi. Namun dalam bulan Safar terdapat satu hari yang dikenal oleh sebagaian masyarakat dengan hari pembawa sial tepatnya hari Rabu. Masyarakat Aceh menyebutnya dengan Rabu abeh (Rabu terakhir bulan Safar), di Jawa populer dengan Rabu wekasan dan masih banyak di tempat lainnya.

Salah satu prinsip dasar yang wajib diyakini bahwa berbagai bencana, musibah dan marabahaya yang terjadi di dunia ini semuanya berdasarkan qada dan qadar sang Khalik yakni Allah SWT. Penyebab turunnya berbagai musibah pada Rabu terakhir Safar (Rabu abeh) itu bukan dari Rabu abehnya, juga bukan bulan Safarnya serta tangan-tangan lain ghairullah, tetapi semuanya telah ada pada qada dan qadar Allah SWT.

Rasulullah SAW jauh-jauh hari telah memperingatkan umatnya untuk tidak memercayai dan menyakini bahwa suatu penyakit itu disebabkan dan ditularkan oleh penyakit itu sendiri, namun wajib menyakini itu semua dari ketentuan dan ketetapan Allah SWT.

Hadist tersebut berbunyi: “Dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya beliau bersabda: “Tiada kejangkitan, dan juga tiada mati penasaran, dan tiada juga Shafara”, kemudian seorang badui Arab berkata: “Wahai Rasulullah SAW, unta-unta yang ada di padang pasir yang bagaikan sekelompok kijang, kemudian dicampuri oleh seekor unta betina berkudis, kenapa menjadi tertular oleh seekor unta betina yang berkudis tersebut?” Kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Lalu siapakah yang membuat unta pertama berkudis (siapa yang menjangkitinya)?” (HR Buhari dan Muslim)

Dalam hadis di atas kata “tiada kejangkitan” (la al’adwa) sebagai sanggahan Rasulullah terhadap kaum Arab Badui terdahulu yang menyakini bahwa unta yang sehat itu sakit disebabkan oleh unta lain yang berkudis, sehingga baginda Nabi sosok uswatun hasanah tidak langsung menyanggahnya dengan ungkapan menafikannya. Tetapi memberi jawaban dengan balik bertanya sehingga sang Arab Badui dapat memahami dan menyadarinya dengan persepsi bahwa berkudisnya unta sehat bukan disebabkan oleh unta lain yang berkudis, namun semua itu karena qada dan qadar Allah SWT.

Allah telah menjelaskan hal tersebut dalam banyak firman-Nya, diantaranya dalam surat al-Hadid ayat 22 berbunyi: “ Setiap bencana yang menimpa di bumi dan apa yang menimpa dirimu sendiri semuanya telah tertulis di dalam kitab (lauh Mahfudh) sebelum Kami meujudkannya”. (QS. Al-Hadid: 22). Dalam hadist Rasulullah SAW juga disebutkan: “Allah telah menulis semua makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi lima puluh ribu tahun”.(HR. Muslim no. 2653).

Sedangkan ungkapan Rasulullah “la haamata” (tiada mati penasaran) untuk menolak argumentasi kaum jahiliyah yang berasumsi bahwa mereka yang telah meninggal dunia, para arwah bergetanyangan karena penasaran sehingga berterbangan laksana burung dan juga menganggap arwah mayit berpindah pada tubuh binatang serta akan mengalami reinkarnasi (dihidupkan kembali).

Tentu saja pemahaman semacam ini sangat kontradiksi dengan penjelasan Rasulullah SAW dalam hadis lain yang berbunyi: “Allah menjadikan ruh mereka dalam bentuk seperti burung berwarna kehijauan. Mereka mendatangi sungai-sungai surga, makan dari buah-buahannya, dan tinggal di dalam kindil (lampu) dari emas di bawah naungan ‘Arasyi.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).

Para ulama menyebutkan terjadi perbedaan pendapat tentang keberadaan roh setelah manusia meninggal.[]

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar