JAKARTA – Ketimpangan pendapatan penduduk di perkotaan, terus melebar. Angka gini rationya per September 2016 sebesar 0,409, lebih tinggi ketimbang gini ratio pedesaan 0,316.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengakui, gini ratio di perkotaan lebih tinggi ketimbang gini ratio pedesaan ataupun nasional. “Gini ratio, kalau dilihat tren dari waktu ke waktu, dari sejarah memang ketimpangan kota selalu lebih tinggi dari pada desa. Karena memang gap di antara lapisan penduduk di kota memang tinggi, jadi pedesaan relatif sama, karena sebagian besar bekerja di pertanian, agak beda dengan kota,” papar Kecuk di kantornya, Jakarta, Rabu, 1 Februari 2017.
Kecuk mengatakan, lebarnya jurang ekonomi antara si kaya dan si miskin di perkotaan, menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah. Kalau tidak, potensi terjadinya gejolak sosial di perkotaan, bisa semakin tinggi. “Ke depan kita memang harus brusaha menurunakn gini ratio di kota. Kuncinya untuk turunkan gini ratio, adalah menurunkan ketimpangan kesempatan. Kesempatan untuk akses pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, dan modal,” kata dia.
“Kalau itu bisa diturunakn artinya kita berikan equal access kepada masyarakat baik kota dan desa, maka itu bisa turunkan dua-duanya,” tambahnya.
Kecuk mengatakan, saat ini, Presiden Joko Widodo sudah membuat suatu program khusus guna mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial di masyarakat. Beberapa program yang dimaksud adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR), peningkatan keterampilan vokasional bagi pekerja unskill. “Intinya gimana kita berikan akses lebih kepada lapisan bawah baik pendidikan, kesehatan, modal, atau kesempatan kerja,” tandasnya.