Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) telah lahir. Bahkan kepala lembaga itu telah dilantik oleh Menteri ESDM. Lembaga kolaborasi SKK Migas dengan Pemerintah Aceh ini bertugas mengurus semua kegiatan migas di teritorial Aceh. Lembaga ini lahir atas amanah MoU Helsinki dan UUPA. Ini sebuah implementasi atas perjanjian damai RI dan GAM.
Walau telah lebih 10 tahun perdamaian terjadi, ada banyak kewenangan Aceh yang belum berwujud. Ada sejumlah konsensi yang dijanjikan sebagai kekhususan Aceh masih mandek. BPMA lahir selama rezim Zikir. Artinya, ini salah satu sukses story rezim ini dalam menperjuangkan kekhususan Aceh.
Sepanjang perdamaian ini hanya pelembagaan politik yang mengemuka dalam kekhususan Aceh. Sedangkan kewenangan lain terus saja dikebiri. Nah, rezim Jokowi-JK tampaknya lebih peduli dan sedang ingin beres-beres pekerjaan rezim SBY. Sukses story BPMA, baru secara lahirnya kelembagaan. Baru melahirkan seorang kepala.
Pascalahir lembaga ini kemudian muncul kritik terkait proses perekrutan pimpinannya. Awalnya, dibuka secara transparan. Dalam prosesnya kemudian terkesan ditutup-tutupi. Bahkan legislatif minus dilibatkan. Setelah dilantiknya Marzuki Daham ada optimisme bahwa beliau profesional. Melihat dari track record beliau di dunia migas. Ini juga nilai positif bagi gubernur. Walau prosesnya tidak kapabel ternyata hasilnya cukup akuntabel. Tentu saja waktu yang akan menjawab kinerja lembaga ini.
Namun bak disambar petir. Sebuah surat bocor ke publik. Surat usulan anggota Komisi Pengawas BPMA. Pasalnya, salah satu orang yang diusul untuk menjadi anggota Komisi Pengawas adalah adik kandung gubernur yaitu Muhammad Abdullah. Munculnya nama ini amat melukai perasaan publik. Nama ini sudah malang melintang dalam banyak persoalan usaha Pemerintah Aceh.
Masih ingat dengan gagalnya alias sampai saat ini belum terealisasinya bagian Pemerintah Aceh dalam pembagian saham PT Perta Arun Gas? Begitu juga dalam kasus bongkar pasang direksi PDPA. Begitu pula dalam persoalan penyerahan Blok Pase kepada perusahaan sakit Triangle. Semua persoalan itu selalu dikaitkan dengan nama Muhammad Abdullah. Kita tidak tahu apakah benar ada perannya?