BANDA ACEH – Bihun Drumband, “Ci cuba rasa dile, meuhambo hawa lom“. Slogan itu disematkan Hafnita, saat menjual bihun bakulannya kepada pelanggan yang rata-rata dari kalangan mahasiswa. Ia merupakan salah satu anggota tim Drum Corps Aceh yang berhasil meraih dua mendali perak dan satu perunggu pada PON XI Jawa Barat September 2016 lalu.
“Saya namakan Bihun Drumband, karena kebetulan saya anggota drumband dan kebetulan teman-teman se-drumband pun ikut mendukung. Nama Bihun Drumband sebenarnya kurang disukai ibu saya, katanya itu nama yang aneh,” kata Hafnita, 22 tahun, mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Syiah Kuala Banda Aceh itu kepada portalsatu.com, Kamis, 24 November 2016.
Melalui pesan Blackberry Messenger (BBM), Tata, demikian ia kerap disapa, menyebutkan, dirinya tinggal bersama ibunya di Banda Aceh. Sebagai usaha sampingan, salah satu teman ibunya mengajak untuk jualan mi lidi yang lebih dikenal dengan istilah mie caluk. Sempat dijalani selama tiga hari, ternyata tidak terlalu mendapat respon dari konsumen. Terlebih harga cabai merah saat ini sangat mahal.
“Kami beralih ke bihun, ibu yang memasak dan saya yang menjual. Secara kebetulan kantin Unsyiah juga mengizinkan saya untuk menitipkan dagangan saya. Selain di kampus, bihun juga saya titip di kawasan Darussalam, Warkop Lampaseh dan Prada, tepatnya di dekat BRI,” ujarnya.
Kata Tata, ia memulai usahanya bermodalkan Rp200 ribu. Saat ini modalnya terus bertambah dan mulai merambah orderan kue bolu uroe raya. Orderan untuk bolu lumayan banyak di kalangan mahasiswa yang rata-rata anak perantauan. Menurut mereka, rasa bolunya mengobati kerinduan akan kampung halaman.
Satu hal yang membuat dara berkulit hitam manis ini sedih, saat bihun masakan ibunya itu ada yang tinggal atau tidak laku. Awalnya ia sempat down dan ingin berhenti menjual bihun karena kurang laku. Namun support yang diberikan teman-teman dan orang terdekatnya, membuat Tata kembali menemukan semangat. Ia pun bertekad melanjutkan usaha sampingannya dengan keyakinan akan membuahkan hasil yang baik.
Tata menjalankan usahanya dibantu promosi dari teman-teman drumband. Untuk harga terbilang sangat terjangkau di kocek anak kuliahan, hanya Rp5 ribu dan Rp3 ribu, tergantung porsi.
“Ayuk, bagi yang tinggal di kawasan Banda Aceh, coba rasakan sensasi bihun bakulan saya. Selain murah, rasanya juga dijamin enak dan bikin nagih. Tampilan sederhana, rasa luar biasa. Bihun Drumband, ci cuba rasa dile, meuhambo hawa lom,” pungkas Tata yang juga memiliki hobi di bidang fotografi itu.[]