TUMBUHAN liar di halaman bangunan mirip deretan toko itu mencapai setinggi pinggang hingga sebahu orang dewasa. Sampah juga berserakan di muka dan belakangan bangunan tersebut, 30 September 2016. Kondisi itu menunjukkan bangunan di sisi kiri Stadion Tunas Bangsa Lhokseumawe tersebut sudah cukup lama terbengkalai.
Bangunan permanen yang memiliki puluhan pintu itu terkesan mubazir. Sebagian besar pintu bangunan tersebut tampak terkunci. Di atas pintu-pintu itu tertulis nama-nama orang. Satu pintu satu nama. Belum diketahui pasti, apakah nama-nama yang tertulis di atas pintu-pintu bangunan tersebut sebagai pemilik atau penyewa.
Merujuk isi tulisan pada kertas putih yang ditempelkan di dinding bangunan itu, setiap pintu atau ruangan diperuntukkan untuk kios. Berhubung kios ini tidak ada yang tempati maka disewakan. Hub: Dispenda Kota Lhokseumawe. Demikian bunyi tulisan itu yang tampaknya semacam pengumuman.
Di sisi kanan dan kiri depan bangunan kios-kios permanen itu tampak beberapa pelaku usaha kecil. Ada penjual air tebu, ada pula pedagang yang membangun kios berkonstruksi kayu miliknya sendiri untuk menjual rokok, minuman dan makanan ringan.
Saya tidak tahu mengapa (bangunan kios-kios permanen itu) sampai sekarang difungsikan. Tapi dua pintu (dari puluhan kios) ada pemakainya, disimpan mesin penggiling tebu milik penjual air tebu, kata seorang pemuda yang menjual rokok di kios berkonstruksi kayu.
Kepala Dinas Pendapatan (Dispenda) Lhokseumawe Amiruddin mengatakan, bangunan kios-kios permanen itu dibangun oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag).
Pengumuman untuk disewakan (kios-kios itu) ditempel di sana oleh staf saya beberapa waktu lalu. Kita ingin bangunan itu berfungsi sebagaimana mestinya agar ke depan menghasilkan PAD (pendapatan asli daerah), ujar Amiruddin dihubungi portalsatu.com, 1 Oktober 2016, sore.
