TERKINI
EKBIS

Beras Aceh Dijual ke Luar Daerah, Mengapa?

Blangpidie  - Persatuan Pengusaha Pengilingan Padi dan Beras (Perpadi) menyatakan, para pedagang di Aceh Barat Daya (Abdya) lebih senang menjual beras ke luar daerah, ketimbang…

MAISARAH Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.1K×

Blangpidie  – Persatuan Pengusaha Pengilingan Padi dan Beras (Perpadi) menyatakan, para pedagang di Aceh Barat Daya (Abdya) lebih senang menjual beras ke luar daerah, ketimbang ke Bulog, karena harga pembelian pemerintah (HPP) lebih rendah dengan pasaran.

Ketua Perpadi Abdya Darwis di Blangpidie, Minggu, 28 Februari 2016, mengatakan, untuk saat ini para pedagang kilang padi di daerah lebih cendrung menjual beras ke luar daerah dari pada ke Bulog.

“Pembelian di Bulog, jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan harga pasaran, makanya para pedagang lebih memilih ke luar daerah dengan harga tinggi,” katanya.

Darwis menambahkan, untuk saat ini para pengusaha kilang padi di daerahnya menjual beras kualitas medium ke pasaran rata-rata Rp10 ribu per kilogram, sedangkan Bulog masih membeli dengan harga HPP lama yakni Rp7.300 per kilogram.

“Inilah sebabnya, para pegusaha kilang padi Abdya lebih memilih untuk menjual beras ke luar daerah, seperti ke Sumatera Utara, Kabupaten Aceh Singkil, Kota Subulussalam, Kabupaten Simeulue dan sebagian ke Kabupaten Gayo Lues dan Aceh Tenggara,” katanya.

Menurut dia, selain faktor HPP yang rendah, pada saat memasuki musim panen padi, banyak petani Abdya yang menjual gabahnya ke pedagang luar daerah karena pedagang lokal tidak mau menampung disebabkan panen pada musim hujan.

“Kilang padi yang menggunakan dryer di Abdya cuma satu unit, yakni kilang Laris di Blangpidie, sementara kilang-kilang padi lain belum memiliki alat jemur itu, jadi sudah tentu Laris tidak mampu menampung semua padi yang basah,” katanya.

Oleh karena itulah, kata dia, banyak padi asal Kabupaten Abdya terpaksa di bawa keluar daerah, selain tidak memiliki kilang padi yang berstantar nasional, harga pembelian pemerintah pun lebih rendah dari harga pasaran di masyarakat.

“Kita berharap, pemerintah dapat meningkatkan HPP itu dan memberikan bantuan dryer kepada pengusaha kilang padi di Abdya, supaya semua hasil panen padi dan beras di lagi dijual ke luar daerah,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bulog Subdivre Blangpidie Armia Darsyah mengaku tidak bisa mengantisipasi persoalan penjualan beras ke luar daerah, karena Bulog hanya membeli sesuai HPP, sedangkang harga pasaran sekarang melebihi harga pembelian pemerintah.

“Memang Bulog pasok beras ke gudang menggunakan sistem mitra dengan pengusaha kilang. Jadi, pengusaha kilang tentu tidak mau jual berasnya dengan harga murah, mereka pasti lebih memilih jual di luar untuk meraup untung lebih banyak,” katanya.

Ia juga mengakui, kilang padi yang memiliki alat penjemur otomatis hanya satu unit di Kabupaten Abdya, sehingga, bila waktu panen pada musim hujan tentu banyak hasil panen padi yang basah ditampung oleh pihak luar.

“Pun demikian, kita masih punya stok beras di gudang sekitar 2.100 ton, cukup empat bulan ke depan untuk Kabupaten Abdya, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Kota Subulussalam,” demikian Armia Darsyah.[] Sumber:
aceh.antaranews.com

MAISARAH
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar