Nasihat bagi para Raja

Dalam “Kalilah wa Dimnah” ada satu ungkapan hikmah. Saya (Musafir Zaman, red) terjemahkan beberapa baris buah pena Ibn Al-Muqaffa' ini semampu saya:

“Orang yang tidak pernah puas memiliki bagian yang mencukupinya dari dunia ini maka matanya selalu menyimpan gairah kepada yang lebih dari itu, dan ia tidak pernah merasa khawatir dengan akibat yang akan ditanggungnya. Dia persis seperti lalat yang tidak rela dan tidak pernah merasa puas dengan pepohonan buah dan kembang-kembang yang wangi, lantas memburu air yang mengalir dari telinga gajah. Tapi apa hendak dikata, gajah memukulinya dengan kipasan telinga, dan ia pun akhirnya mati binasa.”

Ungkapan tersebut, saya memahaminya begini—semoga tidak keliru:

Nafsu atau keinginan pribadi yang telah mengalami mutasi dan berubah menjadi sesuatu yang seolah-olah merupakan kebutuhan, lantas demi meraihnya berbagai alasan Machiavellis diberikan, tentu saja suatu hari, itu akan berbuntut risiko yang mengenaskan. Manusia dapat kehilangan segala-galanya gara-gara secuil nafsu yang dituruti. Pengalaman ini sesungguhnya saban zaman berulang tapi manusia yang kalap atau dipanikkan oleh tekanan keinginan dan kerakusan luput menuai pelajaran.

Kekuasaan memiliki pesona yang amat memikat begitu pula harta kekayaan. Kilauannya menarik, menggiurkan, sangat menggoda!

“Aku seperti lebah singgah di bunga Nailafur,” kata Shatarbeh dalam Kalila dan Dimna, “tertawan oleh harum bunga, namum ketika senja tiba dan bunga terkatup, lebah terperangkap di dalamnya. Ia terkejut, panik lalu mati.”

Ya, di ujung pesona dunia dan kekuasaan, ada belati tersembunyi siap menikam jantung, ada racun mematikan mengendap di dasar gelas, dan ketika itulah buah penyesalan pun harus ditelan meski demikian pahitnya.

“Siapa saja yang sesat dalam kekuasaannya, niscaya menjadi rendah dalam kemegahannya,” begitu petuah para raja masa lalu yang disalin Imam Al-Mawardi (W. 450 H/1057 M) dalam karyanya “Nashihatul Muluk” (Nasihat Kepada para Raja).

Dalam nasihatnya bagi para raja, Imam Al-Mawardi juga menukilkan nasihat seorang bijak kepada seorang penguasa:

“Hai raja, dunia ini sesungguhnya negeri amal dan akhirat adalah negeri balasan. Maka, barangsiapa tidak beramal, ia tidak akan memperoleh balasan. Karena itu, bawalah dirimu berlalu di hadapan kesenangan hidup dunia tanpa sekali pun menoleh dan membelalakkan matamu padanya. Camkanlah olehmu, hai raja, bahwa tali kekang keselamatan berada dalam genggaman bencana; leher kesentausaan terkapit di bawah sayap kepunahan; dan pintu ketentraman selalu dikawal oleh hal yang menakutkan. Karena itu, apabila engkau berada dalam keadaan selamat, sentausa dan tentram, janganlah pernah lupa memperkirakan lawan-lawannya, dan janganlah kautempatkan dirimu pada sasaran panah kehancuran. Waktu adalah lawan manusia, maka siagalah menghadapi lawanmu dengan banyak melakukan amal.”

“Apabila itu engkau lakukan, sungguh engkau tidak perlu lagi apapun wejangan!” demikian orang bijak itu mengakhiri kalimatnya sebagaimana dinukilkan dalam Nashihatul Muluk.

Apabila itu engkau lakukan, engkau pasti tahu bahwa memakan harta anak yatim, menyalahgunakan harta umum, melakukan praktik korupsi, sogok-menyogok, dan apa pun harta yang diperoleh dari menipu, mencuri serta berbagai tindak kejahatan dan kebatilan lainnya, semua itu telah dinyatakan oleh Tuhan sebagai “Huban Kabiran”; sebuah dosa yang teramat besar. Dan, engkau juga pasti akan tahu bahwa Tuhan Yang Maha Adil tentu tidak akan membiarkan begitu saja suatu hal yang telah dinyatakan-Nya sebagai dosa yang besar. Andai kata engkau tak mau perduli, Tuhan-Mu juga tidak butuh kepedulianmu untuk menyatakan keadilan-Nya, dan Dia pun tidak akan mempedulikanmu ketika menjatuhkan hukuman-Nya.

Sabda Nabi Shalla-Llahu 'alaihi wa Sallam: “Orang yang tidak mau perduli dari mana ia memperoleh harta, maka Allah pun tidak peduli kepadanya ketika ia dicampakkan ke dalam neraka.” (Hadits riwayat An-Nasa'i dan Al-Bukhari dalam bab “Buyu' [Jual Beli]”)

Apabila itu engkau lakukan, engkau pasti akan tahu, hai raja, baik kecil maupun besar kerajaanmu, bahwa kepemerintahan dan kepemimpinan penghulu kita, Nabi Muhammad Shalla-Llahu 'alaihi wa Sallam serta para Khulafaurrasyidin sesudah beliau, adalah untuk memelihara agama Allah dan kemaslahatan kaum Muslimin. Kabarnya, engkau juga meyakini Nabi dan mencintai para sahabat beliau. Karena itu, timbang-timbanglah olehmu, hai tuan raja, apakah hal-hal yang engkau lakukan selama ini termasuk dalam memelihara agama Allah dan kemaslahatan Muslimin?!

Apabila itu engkau lakukan, kau pasti tahu, hai raja, bahwa rakyat akan mengikutimu, membelamu, mendukungmu, apabila hatimu bersama mereka, dalam suka dan duka mereka, dalam tawa dan tangis mereka, dalam canda dan murung mereka. Maka berusahalah untuk sedikit bertenggang rasa dengan hidup mereka yang bersahaja, dengan mimpi-mimpi mereka yang bersahaja.

Dunia pasti akan berlalu

“Kekuasaanmu tidak akan abadi selamanya, wahai Sultan, tidak juga pikiran-pikiran Ar-Razi,” ujar Al-Imam Fakhruddin Ar-Razi (W. 606 H/1210 M) di suatu ketika kepada seorang pemimpin legendaris Islam, Sultan Syihabuddin Al-Ghuri (W. 602 H/1206 M).

“Kita semua akan kembali kepada-Nya,” tegas Al-Imam Fakhuddin Ar-Raziy mengingatkan.

Ucapan itu, meski kerap didengar, namun tetap saja menggetarkan jiwa Sultan Al-Ghuriy yang bening. Sultan tak mampu membendung air matanya yang kemudian mengucur deras, dirasakan betapa kecil dan rendahnya ia di hadapan Tuhan sekalipun sejarah telah menyaksikan sepak terjangnya yang tidak mengenal lelah dalam mengembangkan dan meninggikan agama Allah di anak benua India yang luas.

Pesan serupa telah pula disampaikan oleh para pendahulu tanah bertuah ini kepada anak cucu mereka yang mungkin adalah kita—enggan rasanya untuk memastikan!

Pada batu-batu nisan para sultan Samudra Pasai terpahat indah bait-bait syair yang pernah diucapkan Al-Mu'tamid bin 'Abbad (wafat 488 H/1095), sultan Bani 'Abbad terakhir di Sevilla (barat daya Spanyol): (Berikut terjemahannya):

Kematian ibarat sebuah gerbang, setiap orang pasti memasukinya

Oh andai saja kutahu negeri apa yang akan kujelang setelah gerbang itu!

Negeri itu adalah syurga 'adnin apabila perbuatanku diperkenan Tuhan

Namun jika tidak, maka ke nerakalah aku dilontarkan.

Di sana hanya ada dua negeri, tak ada yang ketiga bagi orang-orang

Maka tiliklah wahai diri, negeri yang mana kaujatuhkan pilihan!

Tiada lain bagi para hamba selain syurga Firdaus apabila mereka berakal

Tapi jika mereka tergelincir, maka Tuhan adalah Maha Pengampun.

Bait-bait syair ini kerap dijumpai terpahat pada batu-batu nisan peninggalan sejarah di Aceh. Salah satunya adalah pada batu nisan Sultan Zainal 'Abidin Bin Mahmud yang wafat Kota Sumatra (Samudra Pasai), hari Selasa, 18 Muharram 923 Hijriah (9 Februari 1517).

Selengkapnya baca: mapesaaceh.com