Jakarta – Konsumen muslim bisa saja tanpa sengaja mengonsumsi bahan haram yang tersembunyi pada produk makanan. Hal ini akibat rantai pasokan yang kompleks.
Laporan “Addresing the Halal Ingredients Opportunity: Industry Developments” dariThomson Reuters dan DinarStandardmengklaim konsumsi produk yang dilarang syariah Islam tersebar luas di dunia muslim.
Laporan yang dipublikasikan bulan Juni itu menemukan bahwa produk haram paling umum dikonsumsi adalah gelatin, lemak babi, pepsin dan pewarna makanan. Food Navigator-Asia (15/06) menyebutkan juga bahan turunan alkohol.
“Babi, alkohol dan hewan yang haram, termasuk serangga, dan produk turunannya, telah dilarang konsumsinya dalam Islam. Meskipun demikian, penggunaan bahan-bahan haram dan konsumsi tak sengaja oleh muslim tersebar luas, dengan kurangnya kesadaran di kalangan konsumen muslim dan importir,” sebut penulis laporan, seperti dikutip dari Food Navigator-Asia.
Dalam laporan terdapat kutipan Abid Masood dari Halal Food Council Eropa. “Gelatin untuk konsumsi makanan termasuk salah satu kategori bahan yang paling bermasalah. Ini digunakan sangat luas dan sumbernya kemungkinan besar tidak halal, dan mungkin dari babi,” ujarnya.
Dari produksi gelatin senilai $2,7 milyar pada tahun 2015, sekitar 45% berasal dari babi dan 50% dari sapi. Laporan menyebut hanya gelatin bersumber dari ikan atau sapi yang disembelih secara halal secara Islam.
Gelatin haram juga dipakai dalam produk tak terduga yang jarang diketahui konsumen. Laporan mengutip Fe Jazzareen Mor Jappar Khan dari Persis Management yang mengatakan gelatin sering digunakan sebagai penyaring untuk jus apel.