SUBULUSSALAM – Memasuki awal tahun baru 2017 terasa menyenangkan bagi ribuan petani kepala sawit di wilayah Kota Subulussalam. Pasalnya, harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani mengalami kenaikan dari Rp1.400 menjadi Rp1.600 per kilogram atau naik Rp200 per kilogram sejak sepekan terakhir.

“Awal tahun yang baik harga sawit tingkat petani Rp1.600 per kilogram. Harapan kami sebagai petani harga sekarang ini bisa bertahan dalam jangka waktu lama,” kata Majikran Manik, salah seorang petani di Kota Subulussalam kepada portalsatu.com, Senin, 2 Januari 2017.

Majikran Manik yang juga sebagai agen pengumpul menjelaskan, harga TBS naik seminggu menjelang tahun baru disebabkan produksi buah sawit mengalami penurunan sekitar dua bulan terakhir.

Petani mengaku tidak tahu penyebab pasti menurunnya produksi buah sawit. Sistem perawatan dan pemupukan juga dilakukan seperti sebelumnya.

“Jumlah buah sawit menurun, makanya TBS naik. Tidak tahu apa penyebab produksi buah sawit menurun, karena rata-rata kebun juga mengalami hal yang sama. Padahal petani tetap merawat kebun seperti biasa, mungkin sudah musimnya,” katanya.

Ia berharap harga TBS bisa bertahan sepanjang tahun 2017, termasuk ketika sawit kembali mengalami peningkatan produksi nantinya.

“Karena mayoritas kita di Subulussalam ini usaha kebun sawit, jadi terasa sekali jika sawit rendah, banyak warga tidak punya uang, mau pinjaman pun kita susah, harga sawit sangat menentukan perekonomian petani, karena usaha ini sumber mata pencarian kami,” ungkapnya.

Hal sama juga disampaikan petani sawit lainnya, Rahmin Bancin. Pria yang sudah memasuki usia lanjut ini berharap tahun 2017 menjadi awal kebangkitan perekonomian petani sawit di daerah ini.

Pasalnya, sepanjang tahun 2016 harga sawit tidak pernah stabil dan mengalami naik turun. Akibatnya ekenomi petani sempat terancam saat harga sawit anjlok.

“Awal tahun 2017 harga TBS Rp1.600 per kilogram itu harga yang sangat bagus. Ini awal yang baik bagi petani. Semoga ini menjadi  kebangkitan ekonomi petani ke depannya,” kata Rahmin.

Menurutnya, kondisi ini berbeda saat awal tahun 2016 lalu, kala itu harga TBS hanya berkisar antara Rp1.100-1.200 per kilogram. Namun, awal tahun 2017 harga sawit tergolong mahal dan ini yang menjadi harapan petani Subulussalam selama ini.

“Semoga harga TBS ini bertahan dalam jangka waktu yang lama, apalagi jika harga jual sawit di tingkat petani mencapai Rp2.000 per kilogram, itu sangat kami harapkan, mengingat harga barang kebutuhan pokok masih mahal,” katanya.[]