TAKENGON — Pria itu berjalan pincang, kulitnya hitam, dan berjanggut. Mengenakan peci dan 'bermodalkan' selembar kertas, pria itu mendatangi toko-toko yang ada di Kota Takengon, Aceh Tengah. Dari gelagatnya sudah bisa ditebak apa profesinya. Namun bahasa yang ia ucapkan terdengar aneh di telinga.
Belakangan diketahui, pria itu ternyata pengungsi asal Myanmar. Si manusia perahu yang selamat saat mengarungi lautan maha luas dari Rakhine, Myanmar dan terdampar di Aceh pertama kalinya pada 2010 silam. Ia sudah mengantongi id card dari United Nation High Commisioner for Refugees atau UNHCR. Di kartu identitas tersebut tertera namanya Ashorozaman. Berusia 58 tahun.
“Uang ini mau saya kirim untuk istri dan dua anak di Banglades,” ujarnya kepada portalsatu.com dengan bahasa Indonesia yang kurang fasih, Sabtu, 2 September 2017.
Ia mengaku, keberadaannya di Takengon sudah berlangsung selama tiga hari. Sejumlah masjid menjadi tempat istirahatnya kala malam tiba.
Ia menceritakan, sudah tinggal di Indonesia sejak tujuh tahun yang lalu saat ia terdampar ke perairan Aceh pertama kali. Nama Aceh begitu melekat di ingatannya. Negeri julukan Serambi Mekkah ini merupakan penyelamat bagi mereka ketika negara lain kala itu menolak mereka.
Ia mengaku memiliki lima orang anak. Satu di antaranya tewas digorok militer Myanmar. Almarhum merupakan Muhammad Ismaen, sosok bapak dari anak-anaknya yang berusia 31 tahun kala itu.