Api dari cerobong ladang Arun menerangi sawah kami pada musim ceumeulho malam. Kami tak harus menghidupkan petromak. Kami bisa bermain sampai larut malam sambil membantu seuminteueng.
Sepulang sekolah mengembala lembu, dari Meunasah Meucat sampai ke Jalan Line (jalan EMOI). Sore melihat bus ber AC membawa pulang karyawan ke Bukit Indah. Rerata mereka tak bisa bahasa Aceh. Beberapa orang kampung saya bekerja sebagai satpam, supir dan buruh kontrak. Hidup mereka jauh lebih sejahtera. Sekali kali saya dapat hadiah ikan kaleng dari tetangga yang supir di sana.
Ketika aktif sebagai wartawan dalam masa darurat militer, saya pernah berkali kali menulis tentang ladang gas ini. Suatu ketika saya memasang foto Keude Aron, jaraknya sekitar 50 meter dari pagar Emoi. Juga foto keude Blang Jruen, kedua pasar itu masih berkontruksi kayu tahun 50-an.
Saya menulis bahwa bukti gas Arun tidak membawa kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Gegara tulisan itu Humas EMOI Deva Rahman memprotes saya. Saya juga dikomplain rekan rekan wartawan di Lhokseumawe. Bahkan Humas Aceh Utara secara khusus memanggil dan memprotes. Repetan Deva Rachman berakhir saat saya marahi dia via hand phone. “Kamu kerja sama kafir jangan akal-akal kayak kafir,”. Setelah itu beberapa kawan wartawan menjauhi saya.