BANDA ACEH – Tim Balai Arkeologi Medan melakukan ekskavasi untuk menelusuri jejak sejarah Kerajaan Majapahit di Kampung Masjid, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang. Kegiatan yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Aceh Tamiang ini dilaksanakan selama 10 hari, terhitung sejak 19 Desember 2016.
“Ini baru tahap awal ya, dan dari pengamatan awal (temuan situs) masih jauh dari masa Majapahit,” kata Koordinator Tim Balar Medan, Lucas Partanda Koestoro menjawab portalsatu.com, Kamis, 29 Desember 2016 siang.
Adapun tenaga ahli yang melakukan ekskavasi di kawasan Manyak Payed tersebut adalah Lucas Partanda Koestoro, Ketut Wiradyana, Tarno Purnawibawa, Taufiqurrahman Setiawan, dan Baskoro Daroetjahjono.
Lucas menyebutkan ada beberapa titik ekskavasi yang dilakukan tim, dibantu tenaga Disbudparpora dan warga lokal. Salah satunya adalah dasar kolam yang ada di Masjid Syuhada, Kecamatan Manyak Payed. Di tempat tersebut, Lucas mengaku mengambil sampel kayu untuk diboyong ke laboratorium.
“(Pengamatan awal) kalau ke arah-arah sini itu masih sekitar abad 18 dan belum mengarah ke Majapahit,” kata Lucas.
Selain kawasan Masjid Syuhada, Tim Balar Medan juga menggali kawasan benteng dan kuburan tua yang ada di daerah tersebut.
Menurut Lucas, ada catatan di beberapa naskah yang menyebutkan adanya aktivitas orang-orang dari Majapahit di kawasan tersebut. Sehingga penamaan Manyak Payed tersebut merujuk ke sejarah keberadaan orang-orang Majapahit tersebut.
“Dating (penanggalan) untuk sampel kayu itu dibutuhkan waktu dua bulan. Kalau pastinya periode situs di sana kita belum tahu ya, tapi pengamatan awal sekitar abad-abad ke 18. Sementara untuk Majapahit itu sekitar abad 13-15 Masehi. Masih jauh. (Penelitian) itu baru awal sekali (untuk hasil) karena ada beberapa lokasi lain yang harus digali,” kata Lucas seraya menyebutkan besok akan ada seminar mengenai aktivitas ekskavasi ini di Aula Sekdakab Kuala Simpang.
Sebagai catatan, berdasarkan pengakuan warga lokal diketahui Kampung Masjid tersebut sebelumnya bernama Kampung Mojopahit. Namun penamaan desa itu berubah pada era 1960-an. Selain itu, warga setempat juga meyakini daerah tersebut pernah bersentuhan dengan budaya Kerajaan Majapahit dengan dibuktikan keberadaan makam tua yang memiliki nisan arsitektur Hindu. Warga setempat juga mengaku bahwa dulunya di Masjid Kampung ini dulunya terdapat ukiran tulisan Mojopahit pada sepotong papan berjenis merbo. Namun, kayu itu telah lama hilang. (Baca juga: Sejarah Majapahit dan Dongeng Menaklukkan Nusantara).
Konon berdasarkan sejarah tutur dan cerita masyarakat setempat, Panglima Majapahit yang terkenal melalui Sumpah Palapa, Gajah Mada, juga tewas di kawasan Manyak Payed. Saat itu, Gajah Mada sedang melaksanakan misinya menyatukan kerajaan-kerajaan di Nusantara di bawah kendali Majapahit. Namun nahas, sang patih yang dikenal hebat tersebut tewas saat hendak masuk ke Aceh.[]