BANDA ACEH – Sejak awal pelaksanaan proyek pelebaran Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh, saya sudah meyakini bahwa pemerintahan Aceh saat ini sama sekali tidak menghargai warisan sejarah dan lingkungan.

Pernyataan bernada protes tersebut disampaikan Teuku Kemal Fasya, terkait penebangan pohon Glumpang yang dikenal juga dengan sebutan pohon Kohler, di halaman depan masjid kebanggaan masyarakat Aceh itu, Jumat (20/11/2015).

Menurut Antropolog Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe itu, proyek ini bukan saja sdh mengakibatkan kerusakan lingkungan dan kultural di wilayah MRB yang luar biasa.

“Tapi juga menutup semua peluang untuk menjelaskan sejarah dan ingatan MRB pada generasi kini,” katanya.

Pembangunan itu, sebut Kemal, bukan sudah menyalahi AMDAL dan tataruang terkait cagar budaya. “Kalau mereka memerlukan uang untuk ongkos politik bisa merusak tempat lain, jangan situs sejarah,” ujarnya.

Kemal juga sangat menyesalkan mengapa justru para pemimpin Aceh era sekarang ini tidak mendengarkan suara rakyat, yang menginginkan agar pohon yang menjadi satu ikon sejarah perjuangan rakyat Aceh dalam melawan penjajah Belanda tempo doeloe, tidak dihilangkan dari tempatnya.

Rakyat Aceh, kata Kemal, sekarang sedang berhadapan dengan era pemimpin yang egois dan punya sakit sejarah menahun.

“Saya pikir masyarakat Aceh akan menangisi lama atas daya rusak ini yang tidak bisa diperbaiki kembali,” tutup Kemal.[] sumber: serambi indonesia