JAKARTA – Orang tua mana yang tak ingin punya anak jujur? Dalam buku berjudul Nurture Shock: New Thinking About Children karya Po Bronson dan Ashley Merryman dikemukakan hasil penelitian selama lebih dari 20 tahun. Hasilnya, jujur adalah karakter yang paling diinginkan orang tua untuk dimiliki anak.
Hasil penelitian itu juga mengungkap bahwa lebih dari 95 persen anak memahami keinginan orang tua agar mereka menjadi pribadi yang jujur dan mengerti bahwa berbohong adalah tindakan yang salah. Namun, 96 persen dari mereka mengaku pernah berbohong kepada orang tua.
Lalu, apa yang perlu diperhatikan para orang tua ketika mengetahui anak tidak berbicara jujur? Berikut hasil temuan Po Bronson dan Ashley Merryman:
Reaksi berlebihan yang memicu kebohongan
Orang tua mungkin mengklaim telah menanamkan nilai-nilai kejujuran kepada anak sedini mungkin. Namun faktanya, anak-anak mulai berbohong di usia 3-4 tahun. Penelitian menunjukkan anak usia 4 tahun berbohong setidaknya sekali setiap 2 jam. Anak usia 6 tahun berbohong setiap 1 jam.
Kebohongan anak tidak lepas dari sikap kontradiktif orang tua. Di satu sisi meminta anak jujur, di sisi lain bereaksi berlebihan terhadap anak yang mengakui kesalahannya; marah, membentak, dan memberi hukuman. Ini ditemukan Bronson dan Merryman bahkan pada lebih dari 99 persen orang tua! Ketika menyadari anak berbohong pun, fokus kemarahan mereka tetap ada pada kesalahan anak, bukan kebohongannya.
Anak yang kelihatannya anak baik-baik pun pernah mengatakan sesuatu yang tidak sesuai fakta. Berikut beberapa alasan mendasar yang mendorong anak balita berbohong:
– Mereka melihat berbohong sebagai cara mudah dan cepat untuk lari dari masalah. Misalnya ketika mereka mengelak, Bukan aku yang merusak mainannya, Bunda.
– Berbohong akan memudahkan mereka mendapatkan yang diinginkan. Misalnya dengan mengatakan sudah menyelesaikan tugas sekolah agar bisa segera menonton acara TV kesukaan.
– Mereka tahu yang mereka lakukan salah, tetapi mencoba melempar kesalahan kepada orang lain.
– Atau, mereka hanya memahami kebenaran dengan cara berbeda. Ambil contoh ketika orang tua menanyakan, Apakah kamu sudah makan? Maksudnya, apakah ia sudah makan siang atau belum. Anak bisa saja menjawab sudah, karena merasa sudah makan di pagi hari, padahal belum makan siang.
Walk the talk
Maksudnya, buktikan apa yang Anda bicarakan. Jangan hanya menggurui, orang tua harus mampu menghargai kejujuran dan menghindarkan hukuman berlebihan terhadap anak. Tempatkan nilai kejujuran di atas segalanya. Ketika anak berbuat salah, namun jujur mengakuinya, hargai kejujurannya. Soal kesalahan yang diperbuatnya, berikan konsekuensi yang logis.
Penting pula untuk menerapkan kejujuran lewat tindak-tanduk Anda. Robert Fulghum, penulis buku All I Really Need to Know I Learned in Kindergarten, mengatakan, Jangan khawatir jika anak tidak pernah mendengarkan Anda, khawatirlah karena mereka selalu meniru Anda.
Percuma saja Anda selalu berpidato soal kejujuran pada anak, tetapi Anda mengatakan, Ibu akan pergi sebentar saja, padahal Anda seharian meninggalkan mereka di rumah. Sebutkan waktu yang relevan terkait kepergian Anda. Alih-alih bilang akan pergi sebentar, katakan saja, Ibu akan pulang jam 6 sore nanti.
Tepati janji Anda
Ironisnya, hampir semua orang tua pernah mengatakan kebohongan kepada anak. Dari survei Warburtons, perusahaan roti dan kue terkemuka di Britania Raya, terhadap 2 ribu orang tua, hasilnya 90 persen orang tua mengatakan white lies atau berbohong demi kebaikan terhadap anak-anak. Berbohong trik yang paling sering dilakukan pada waktu makan, terutama kepada anak yang sulit makan.
Ayo makan bayam, agar ototmu besar seperti Popeye! misalnya. Dalam survei yang sama, lebih dari 50 persen orang tua meyakini, berbohong demi kebaikan merupakan rahasia kesuksesan pola asuh mereka. Jadi, ketika anak-anak juga berbohong demi kebaikan mereka, siapa yang patut dipersalahkan?[]TABLOIDBINTANG.COM/tempo.co