SIGLI- Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat untuk Penegerian Unigha (AMPUH) akan gelar pementasan seni bertajuk Pada Angin Kami Mengadu, pada Minggu 14 Februari 2016, pukul 15.00 WIB s/d selesai.
Sejumlah pementasan yang akan ditampilkan adalah teatrikal pada angin kami mengadu, pembacaan hikayat, seumapa, musikalisasi puisi, dan pementasan akustik.
Koordinator lapangan untuk pementasan seni ini, Wahyu Puasana, mengatakan acara ini adalah salah satu medium pihaknya menyampaikan kritik terhadap intrik di dalam tubuh pengelola serta yayasan, dan kebobrokan di Universitas Jabal Ghafur. Sekaligus untuk mengkampanyekan penegerian Unigha yang hingga kini masih menjadi lips service di kalangan rektorat dan yayasan.
Kami ingin kerja nyata dari yayasan dan rektorat. Jangan hanya jual isu saja untuk mengamankan posisi mereka. DPRK Pidie dan Pemkab Pidie digiring ke arah yang tak jelas oleh mereka,” katanya.
Padahal, kata Wahyu, Pemkab Pidie dan DPRK Pidie telah memiliki political will untuk menegerikan Unigha. Namun, sebutnya, tertahan dengan intrik-intrik di yayasan dan rektorat.
Kebobrokan itu, kata Wahyu, tampak dari keadaan kampus yang kacau-balau, drama pemblokiran bank, dan putusan Komisi Informasi Aceh (KIA) yang menunjukkan bahwa selama ini memang tidak ada laporan keuangan di Unigha.
Alasannya konflik, ya seharusnya bapak-bapak kami itu, termasuk orang-orang tua kami yang sudah ujur di yayasan, tunjukkanlah kedewasaan, jangan kekanak-kanakkan, dengan saling menyalahkan dan mencari kambing hitam, kata mahasiswa Jurusan Pendidikan bahasa Inggris itu.
Adapun tema acaraPada Angin Kami Mengaduberdasarkan satu kondisi di mana masyarakat dan mahasiswa di Unigha telah lelah dan tak tahu lagi mengadu ke mana untuk menyelesaikan permasalahan di Unigha yang bertahun-tahun terkatung-katung.
Solusinya, ya, Cuma negeri. Yayasan dan rektorat, dengan semua privasitasi Unigha dan pengelolaan mereka selama ini secara terang-terangan telah menunjukkan mereka amoral, ujar Wahyu.
Unigha adalah milik masyarakat Pidie, didirikan di atas tanah adat warga dan secara swadaya, bukan milik segelintir pihak yang selama ini membawa Unigha ke arah kehancuran.[]