Jakarta – Perkenalkan, namanya Alijullah Hasan Jusuf (65). Dia menyebut dirinya sebagai 'Lurah Paris'.
“Orang-orang menyebut saya 'Lurah Paris'. Saya sudah 45 tahun tinggal di Paris,” ujar Ali saat memperkenalkan dirinya kepada detikcom di sela-sela pemotretan Baju Dauky produk Elhijab, di depan Museum Lovre, Paris, Jumat (22/4/2016).
Ali merupakan warga Blang Paseh, Sigli, Aceh. Dia merupakan pensiunan KBRI Paris. Setelah pensiun dia membantu WNI yang ingin berkeliling Paris. Terakhir yang dia temani yakni bakal Cagub DKI Sandiaga Uno. Sandiaga datang pada 14-21 April 2016.
“Pak Sandiaga baru saja menyelesaikan studi S3-nya di Sorbonne, Prancis,” kata Ali.
Selain Sandiaga, Ali juga pernah bertemu Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Namun pertemuan bukan di Paris melainkan di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, setahun lalu. Staf Balai Kota sempat menolak permintaannya untuk bertemu Ahok. Namun dia berhasil menemui setelah mencegat Ahok.
Pertemuannya dengan Ahok ingin bertukar pikiran. Bertahun-tahun tinggal dan tahu seluk-beluk Paris, Ali kemungkinan bisa memberikan masukan agar Jakarta lebih baik kepada Ahok.
“Pak Ahok! Pak Ahok!” panggil Ali saat mencegat Ahok.
“Siapa kamu?” tanya Ahok.
“Saya Lurah Paris,” jawab Ali.
“Ya ya sini silakan masuk,” respons Ahok.
Akhirnya Ali berhasil menemui Ahok. Betapa senangnya hatinya saat itu. Ali sempat mengusulkan sungai di Jakarta dibuat seperti Sungai Seine di Paris. Namun Ahok menyatakan gagasan tersebut sangat sulit diterapkan di Indonesia.
“Orang Indonesia ketemu sungai malah buang sampah. Sulit membandingkan Paris dengan Indonesia,” ucap Ali menirukan Ahok.
Setelah bertukar pikiran, Ali tidak lupa berfoto bersama Ahok sambil menunjukkan buku yang sudah dikeluarkannya. Cheese!
Ali juga telah menelurkan sebuah buku bertajuk 'Penumpang Gelap, Menembus Eropa Tanpa Uang' di Jakarta. Buku setebal 300 halaman ini ditulisnya sendiri sejak 1974. Mula-mula tulisan itu ditulis tangan dan kemudian dipindahkan ke mesin tik.
Kisahnya untuk menuju Eropa sangat menarik disimak. Semua ini berawal dari mimpi.
Ali berhasrat merantau sejak kecil. Dia berangkat dari kampungnya di Blang Paseh, Sigli, Aceh dengan menumpang kereta menuju Brandan, lalu nyambung ke Medan. Kemudian dia menyeberang ke Pulau Jawa dengan kapal laut.
Di Jakarta, Ali menamatkan sekolah menengah di Budi Utomo. Selama di Jakarta dia bertahan hidup dengan menjadi penjaja koran dan tidur di peti rokok. Dia juga mengikuti demonstrasi pelajar saat terjadinya gelombang demontrasi di Jakarta.