TERKINI
GAYA

Ale Tunjang Tak Dipandang

Seni tradisional ini amat unik. Akan tetapi, tarian ini luput dari perhatian pemerintah selama berkalang tahun. Sanggar Seni Lesung Indatu sudah lama memendam cita-cita mengangkat…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 7 menit
SUDAH DIBACA 1.5K×

Seni tradisional ini amat unik. Akan tetapi, tarian ini luput dari perhatian pemerintah selama berkalang tahun. Sanggar Seni Lesung Indatu sudah lama memendam cita-cita mengangkat tarian spesifik Aceh Utara ini ke tingkat nasional. 

***

ENAM pria tanpa alas kaki berbaris di muka pentas Festival Seni se-Aceh di Terminal Labi-labi Lhokseumawe. Mereka menggenggam ale/alu terbuat dari pelepah bak jok/batang pohon enau setinggi empat meter lebih. Di depan mereka diletakkan empat leusong/lesung setinggi lutut, dua dihias dengan kertas warna hijau muda, sisanya merah muda/pink.

Keenam pria itu memakai pakaian teulok beulanga. Dua di antaranya, baju warna kuning , berdiri di ujung kanan dan kiri barisan, mengapit empat rekannya yang mengenakan baju biru, dipadukan celana panjang hitam, lengkap dengan kain songket melingkari pinggangnya. Kepala mereka dibungkus kain tengkulok/tengkuluk hitam. Enam pria itu adalah para penari Ale Tunjang

Tak lama kemudian muncul tiga pria lainnya yang terlihat lebih tua. Dua di antaranya berseragam hitam, sisanya kemeja putih. Tiga pria berpeci itu berdiri di belakang enam penari. Mereka merupakan para syahi atau vokalis yang akan mengiringi tarian Ale Tunjang.

Enam penari dan tiga syahi itu berasal dari Sanggar Seni Lesung Indatu, Buloh Blang Ara, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Pemerintah Lhokseumawe sebagai tuan rumah Festival Seni se-Aceh mengundang mereka memeriahkan pembukaan even tersebut, akhir April 2015. Grup tarian Ale Tunjang itu tampil memukau. Bunyi ale tunjang dimainkan para penari diiringi syair syahi dan irama seruling menghasilkan kombinasi amat unik.  

Itu sebabnya, Wali Kota Lhokseumawe Suaidi Yahya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Reza Fahlevi, anggota DPD RI Sudirman (Haji Uma), para pejabat Muspida, dan ratusan masyarakat tampak sangat terhibur. “Saya lihat salah satu kesenian masyarakat Aceh yang paling menarik, tapi jarang kita lihat seperti tarian Ale Tunjang yang ditampilkan tadi. Kita ingin itu dibangkitkan lagi,” kata Suaidi.

Warga Lhokseumawe yang menyaksikan persembahan tarian Ale Tunjang turut merasa senang. Maklum, pementasan tarian tradisional itu teramat langka di Aceh. “Tarian itu luar biasa, baru kali ini saya melihatnya. Dulunya hanya mendengar cerita orang-orang tua di kampung bahwa Ale Tunjang itu dari Buloh Blang Ara,” ujar Armiadi, 34 tahun, warga Blang Poroh, Muara Dua, Lhokseumawe.

Pembina Sanggar Seni Lesung Indatu, T. Idris Thaib mengatakan pihaknya baru kali ini diundang kembali Pemerintah Lhokseumawe setelah diminta menyemarakkan pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) IV di Banda Aceh, 11 tahun silam. Ketika itu, di arena Taman Ratu Safiatuddin, 19 Agustus 2004, penari Ale Tunjang Sanggar Seni Lesung Indatu mewakili Pemerintah Lhokeumawe tampil di depan Presiden Megawati Soekarno Putri.

***

Seni tari Ale Tujang berasal dari permainan rakyat Buloh Blang Ara. “Asal muasalnya dari Desa Krueng Manyang, Buloh Blang Ara,” kata T. Idris Thaib. “Masa silam, piasan ini dimainkan menjelang musim tanam padi di sawah yang diadakan di tanah lapang atau lapangan terbuka. Seusai masa panen, digelar di tempat ceumeulho ateuh jumpung lam blang (di atas jerami di sawah),” ujar pria 50 tahun ini.

Pemain Ale Tunjang ketika itu kombinasi laki-laki dan perempuan. Nek Baren merupakan salah seorang mantan pemain Ale Tunjang di Buloh Blang Ara yang masih hidup. “Beliau pernah disyuting TVRI untuk acara Nusantara Menari tahun 1986. Sekarang Nek Baren sudah uzur,” kata Idris Thaib diamini Hamdani, Sekretaris Sanggar Seni Lesung Indatu, usai pembukaan festival seni di Lhokseumawe, kala itu.

Setiap penampilan/satu grup Ale Tunjang dahulunya melibatkan delapan pemain menggunakan delapan ale dan lima leusong. Permainan Ale Tunjang kemudian dikreasikan menjadi tarian sejak tahun 1980-an. “Saat itu, masa Gubernur Aceh Ibrahim Hasan dan Bupati Aceh Utara Ramli Ridwan, seluruh kesenian tradisional dibangkitkan, setelah itu terlupakan,” ujar Idris Thaib yang juga Imum Mukim Buloh Blang Ara.

Setelah piasan Ale Tunjang dikreasikan menjadi tarian, menurut Idris Thaib, biasanya tidak lagi melibatkan perempuan sebagai penari. Selain itu, jika dahulunya hanya mengandalkan bunyi ale dan leusong, kini dilengkapi dua syahi/vokalis yang melantunkan syair dan meniup seruling.

Dahulunya, rata-rata leusong terbuat dari batangan tualang. Belakangan, menurut Idris Thaib, ada juga bak panah (batangan nangka) lantaran tualang kini tergolong langka. “Leusong dari batang tualang yang ditunjang dengan ale melahirkan bunyi sangat indah. Leusong terbuat dari batang nangka juga lumayan bagus bunyinya, tapi harus dipilih dengan kriteria khusus,” katanya.

Pelepah pohon enau untuk ale juga punya kriteria tertentu yang dipilih dengan keahlian khusus. Misalnya, menurut Hamdani, dijemur sebulan sebelum digunakan, sehingga akan melahirkan bunyi indah saat ditunjang ke dalam leusong.

Berdasarkan data teknis Ale Tunjang dipublikasikan acehmusician.org, pembuatan peralatan itu digunakan bahan baku dari kayu nangka dan  batang mane untuk dan lesungnya. Sedangkan untuk alu dibuat dari pelepah enau atau sejenis kayu lembut/lunak. Ale penuh dengan ukiran-ukiran spesifik semacam hiasan urat-urat yang melingkar, dan ornamen-ornamen lain yang menarik dan memesonakan. Lesung biasanya dibuat ukiran cantik dan spesifik Aceh berupa dimensi-dimensi lengkung dan motif seperti bunga-bungaan.

“Ale Tunjang biasanya tidak dicat atau diwarnai. Paling-paling dipelitur dengan warna coklat tua ataupun dipernis, karena bahan kayu yang terpilih dari batang nangka atau mane biasanya lambat laun akan berwarna coklat dan kalau sering-sering dimainkan atau dipegang-pegang otomatis akan menjadi licin dan berkilat”.

Adapun lesungnya terdiri dari satu lesung aneuk sempom dibuat dari bahan batang nangka, satu lesung syup syup dari batang nangka atau batang mane, dua atau tiga lesung rempah, dan dua alu dibuat dari pelepah enau dan dari jenis kayu yang lembut.

***

Idris Thaib berharap Pemerintah Aceh Utara memberi perhatian serius untuk membangkitkan kembali tarian Ale Tunjang. Sebab, menurut dia, tarian ini spesifik Aceh Utara. Ia menilai Seudati dan Ranup Lampuan bukan lagi spesifik kabupaten/kota lantaran sudah umum Aceh.

“Aceh Utara spesifiknya Ale Tunjang dan Poh Kipah, seharusnya itu yang jadi andalan Aceh Utara, karena tidak ada di kabupaten lain di Aceh. Kalau tingkat nasional maupun internasional meminta Pemerintah Aceh Utara menampilkan tarian klasik, jangan Seudati atau Ranup Lampuan yang dikirim, tapi Ale Tunjang atau Poh Kipah. Dan seni tari tradisonal ini harus dipatenkan agar tidak diambil pihak luar,” ujarnya.

Menurut Idris Thaib, setelah berakhirnya masa jabatan Gubernur Ibrahim Hasan dan Bupati Ramli Ridwan, hampir tidak ada lagi perhatian untuk pengembangan tarian Ale Tunjang dari Pemerintah Aceh Utara dan Pemerintah Aceh. “Kalau misalnya pemerintah tidak tahu, mengapa tidak cari tahu, atau tahu tapi mengabaikan. Jadi, apakah tidak tahu atau tidak mau tahu,” Idris Thaib mempertanyakan.

Jika mendapat dukungan pemerintah, kata Idris Thaib, Sanggar Seni Lesung Indatu Buloh Blang Ara optimis mampu mewujudkan cita-cita untuk memperkenalkan Ale Tunjang ke tingkat nasional. “Dan kami yakin akan mendapat satu nilai tambah, karena ini betul-betul klasik. Jika tarian lainnya banyak tampil di mana-mana, Ale Tunjang benar-benar langka,” katanya.

Anggota DPD RI asal Aceh Sudirman alias Haji Uma minta Pemerintah Aceh dan Pemerintah Aceh Utara menyelamatkan dan melestarikan seni tari Ale Tunjang yang terancam punah lantaran semakin langka. “Ale Tunjang itu sangat unik, sehingga harus dibangkitkan kembali dan dilestarikan melalui regenerasi para pemain tarian tradisional tersebut. Karena itu, dinas terkait jangan tidur, tapi perlu keseriusan mengembangkan seni budaya Aceh yang cukup bernilai,” ujar Haji Uma, usai menyaksikan penampilan tarian Ale Tunjang.

Kepala Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Aceh Utara Nurliana mengatakan pihaknya tengah mendata semua jenis seni tradisional yang berasal dari kabupaten ini, termasuk Ale Tunjang. Informasi ia peroleh ada beberapa Sanggar Seni Tari Ale Tunjang di Aceh Utara. “Kendala saat ini agak susah mendapatkan bahan baku kayu untuk peralatannya, sehingga Ale Tunjang susah bangkit. Tapi pelan-pelan kita tetap akan lestarikan,” katanya saat  dihubungi pertengahan 2015.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Reza Fahlevi mengakui tarian Ale Tunjang sudah langka. Ia menolak jika kondisi tersebut disebabkan kurang perhatian dari pemerintah. “Kadang kala ketersediaan pemain itu sendiri yang sangat terbatas, sehingga mereka masih sedikit yang menguasai kesenian tersebut, maka kadang-kadang tampilannya tidak sesering yang modern,” ujarnya.

Akan tetapi, Reza Fahlevi sepakat pemerintah perlu memfasilitasi dan memberi wadah kepada para pegiat seni di Aceh agar mereka dapat menampilkan karya-karyanya.

Menurut Idris Thaib, sebagai praktisi Ale Tunjang, ia punya kewajiban untuk mendidik generasi muda agar tarian spesifik Aceh Utara ini tidak punah. “Jangan sampai ketika hidup kami berakhir, tidak ada lagi yang meneruskan Ale Tunjang”.[] (idg)

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar