Seni tradisional ini amat unik. Akan tetapi, tarian ini luput dari perhatian pemerintah selama berkalang tahun. Sanggar Seni Lesung Indatu sudah lama memendam cita-cita mengangkat tarian spesifik Aceh Utara ini ke tingkat nasional.
***
ENAM pria tanpa alas kaki berbaris di muka pentas Festival Seni se-Aceh di Terminal Labi-labi Lhokseumawe. Mereka menggenggam ale/alu terbuat dari pelepah bak jok/batang pohon enau setinggi empat meter lebih. Di depan mereka diletakkan empat leusong/lesung setinggi lutut, dua dihias dengan kertas warna hijau muda, sisanya merah muda/pink.
Keenam pria itu memakai pakaian teulok beulanga. Dua di antaranya, baju warna kuning , berdiri di ujung kanan dan kiri barisan, mengapit empat rekannya yang mengenakan baju biru, dipadukan celana panjang hitam, lengkap dengan kain songket melingkari pinggangnya. Kepala mereka dibungkus kain tengkulok/tengkuluk hitam. Enam pria itu adalah para penari Ale Tunjang
Tak lama kemudian muncul tiga pria lainnya yang terlihat lebih tua. Dua di antaranya berseragam hitam, sisanya kemeja putih. Tiga pria berpeci itu berdiri di belakang enam penari. Mereka merupakan para syahi atau vokalis yang akan mengiringi tarian Ale Tunjang.
Enam penari dan tiga syahi itu berasal dari Sanggar Seni Lesung Indatu, Buloh Blang Ara, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Pemerintah Lhokseumawe sebagai tuan rumah Festival Seni se-Aceh mengundang mereka memeriahkan pembukaan even tersebut, akhir April 2015. Grup tarian Ale Tunjang itu tampil memukau. Bunyi ale tunjang dimainkan para penari diiringi syair syahi dan irama seruling menghasilkan kombinasi amat unik.
Itu sebabnya, Wali Kota Lhokseumawe Suaidi Yahya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Reza Fahlevi, anggota DPD RI Sudirman (Haji Uma), para pejabat Muspida, dan ratusan masyarakat tampak sangat terhibur. Saya lihat salah satu kesenian masyarakat Aceh yang paling menarik, tapi jarang kita lihat seperti tarian Ale Tunjang yang ditampilkan tadi. Kita ingin itu dibangkitkan lagi, kata Suaidi.
Warga Lhokseumawe yang menyaksikan persembahan tarian Ale Tunjang turut merasa senang. Maklum, pementasan tarian tradisional itu teramat langka di Aceh. Tarian itu luar biasa, baru kali ini saya melihatnya. Dulunya hanya mendengar cerita orang-orang tua di kampung bahwa Ale Tunjang itu dari Buloh Blang Ara, ujar Armiadi, 34 tahun, warga Blang Poroh, Muara Dua, Lhokseumawe.
Pembina Sanggar Seni Lesung Indatu, T. Idris Thaib mengatakan pihaknya baru kali ini diundang kembali Pemerintah Lhokseumawe setelah diminta menyemarakkan pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) IV di Banda Aceh, 11 tahun silam. Ketika itu, di arena Taman Ratu Safiatuddin, 19 Agustus 2004, penari Ale Tunjang Sanggar Seni Lesung Indatu mewakili Pemerintah Lhokeumawe tampil di depan Presiden Megawati Soekarno Putri.
***
Seni tari Ale Tujang berasal dari permainan rakyat Buloh Blang Ara. Asal muasalnya dari Desa Krueng Manyang, Buloh Blang Ara, kata T. Idris Thaib. Masa silam, piasan ini dimainkan menjelang musim tanam padi di sawah yang diadakan di tanah lapang atau lapangan terbuka. Seusai masa panen, digelar di tempat ceumeulho ateuh jumpung lam blang (di atas jerami di sawah), ujar pria 50 tahun ini.
Pemain Ale Tunjang ketika itu kombinasi laki-laki dan perempuan. Nek Baren merupakan salah seorang mantan pemain Ale Tunjang di Buloh Blang Ara yang masih hidup. Beliau pernah disyuting TVRI untuk acara Nusantara Menari tahun 1986. Sekarang Nek Baren sudah uzur, kata Idris Thaib diamini Hamdani, Sekretaris Sanggar Seni Lesung Indatu, usai pembukaan festival seni di Lhokseumawe, kala itu.
Setiap penampilan/satu grup Ale Tunjang dahulunya melibatkan delapan pemain menggunakan delapan ale dan lima leusong. Permainan Ale Tunjang kemudian dikreasikan menjadi tarian sejak tahun 1980-an. Saat itu, masa Gubernur Aceh Ibrahim Hasan dan Bupati Aceh Utara Ramli Ridwan, seluruh kesenian tradisional dibangkitkan, setelah itu terlupakan, ujar Idris Thaib yang juga Imum Mukim Buloh Blang Ara.
Setelah piasan Ale Tunjang dikreasikan menjadi tarian, menurut Idris Thaib, biasanya tidak lagi melibatkan perempuan sebagai penari. Selain itu, jika dahulunya hanya mengandalkan bunyi ale dan leusong, kini dilengkapi dua syahi/vokalis yang melantunkan syair dan meniup seruling.
Dahulunya, rata-rata leusong terbuat dari batangan tualang. Belakangan, menurut Idris Thaib, ada juga bak panah (batangan nangka) lantaran tualang kini tergolong langka. Leusong dari batang tualang yang ditunjang dengan ale melahirkan bunyi sangat indah. Leusong terbuat dari batang nangka juga lumayan bagus bunyinya, tapi harus dipilih dengan kriteria khusus, katanya.