AKU duduk dan membuang pandang ke jalan raya. Menyaksikan lalu lalang kendaraan dari meja kerjaku. Matahari mulai bersujud. Pertanda sebentar lagi hari akan gelap. Sesekali kupandangi kotak masuk di email. Ada banyak pesan yang masuk dari sebuah nama. Sudah dua hari ini, setiap kali memandangi kotak masuk di email, hatiku selalu bergerimis. Nyeri. Perih. Sakit.
Seperti saat ini. Tanpa sadar mataku kembali menjadi basah saat melihat nama itu di deretan pesan masuk. Hatiku bergemuruh. Emosiku menjadi tak karuan. Perbincangan dua hari lalu dengan pemilik nama itu kembali terngiang. Seolah seperti hantu yang terus membayangi dan memunculkan wajahnya. Ya, percakapan melalui email. Percakapan yang bisu namun telah meruntuhkan perasaan dan harapanku.
Email-email itu dari Juan (nick name). Lelaki bergelar kekasih yang sudah lebih sepuluh tahun bersamaku. Waktu yang teramat lama untuk mendefinisikan sebuah perasaan, cinta dan juga kesetiaan. Aku mencintainya lebih dari diriku sendiri. Menyebut namanya lebih banyak daripada menyebut namaku sendiri. Aku tak pernah alpa mengingatnya, atau merinduinya. Bahkan hingga sepuluh tahun lebih kebersamaan kami, perasaanku padanya tak pernah berubah. Sering kukatakan padanya kalau aku selalu tergila-gila padanya.