BANDA ACEH – Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry, Herman Syah, menilai alangkah baiknya mengenang kejadian 1873 di Masjid Raya Banda Aceh secara menyeluruh. Artinya, bukan sekadar mengenang simbol pada Kohler, melainkan juga dari pihak pejuang Aceh dan Imam Masjid Raya Baiturrahman yang juga syahid pada peristiwa tersebut.
Pendapat ini disampaikan oleh Herman Syah menyikapi pemotongan pohon geulumpang (Aceh) atau Sterculia Foetida (Latin) yang berada di halaman depan Mesjid Raya Baiturrahman.
“Kenapa simbol-simbol perjuangan Aceh tidak tampak di sana untuk mengenang jasa mereka mempertahankan masjid,” ujar Herman kepada portalsatu.com, Minggu, 22 November 2015 malam.
Menurut ahli filologi Islam ini, fenomena tersebut diakibatkan oleh penghilangan situs sejarah Aceh oleh Belanda pada abad ke-19. Karenanya, dia menilai penghilangan situs sejarah saat ini juga akan berakibat buruk ke masa depan. “Antaranya melunturkan identitas Aceh dan sejarah budayanya itu sendiri,” katanya.
“Saya memahami dampak dari perluasan Masjid Raya, itu juga terjadi pada era Belanda tahun 1915, saat Belanda membangun dan memperluas area masjid itu. Namun Belanda menanam kembali untuk mengenang sejarahnya di Aceh,” katanya.
Dia mengatakan hal yang sama juga dilakukan di banyak tempat. Di sisi lain, khazanah Aceh juga disimpan baik oleh Belanda untuk mengenang kisah perangnya di Aceh.
“Jadi kenapa kita tidak membuat memorial untuk syuhada Aceh di Masjid Raya seperti museum sehingga informasi bisa didapatkan oleh pengunjung dan orang-orang yang hadir ke masjid,” katanya.
“Masih ada yang lebih penting untuk dikenang, terutama Imam Masjid dan syuhada Aceh sebagai warisan intelektual dan identitas Aceh masa depan,” ujarnya lagi.[]