BANDA ACEH – Ahli kelauatan internasional asal Amerika Serikat, Todd Capson, mendorong Aceh memiliki kebijakan untuk pengelolaan kawasan perlindungan laut dan pengelolaan perikanan berkelanjutan untuk melindungi sumber daya lautnya.
Hal itu disampaikannya dalam diskusi bertema Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Berkelanjuatan yang diselenggarakan oleh Konsulat Amerika Serikat untuk Sumatera dan WWF Indonesia di Hotel Arabia Banda Aceh, Selasa, 31 Oktober 2017. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Panglima Laot, dan sejumlah aktivis lingkungan yang bekerja di bidang kelautan.
Todd Capson dalam lawatannya di Aceh juga berkunjung ke Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Fakutas Perikanan dan Kelautan Unsyiah. Kegiatan ini merupakan agenda pertama Todd Capson di Indonesia.
Untuk mendukung Konferensi Kelautan yang akan diselenggarakan oleh Indonesia pada tahun 2018, Kedutaan Besar Amerika Serikat menghadirkan Todd Capson di Aceh, Pariaman, Jakarta dan Ambon. Todd berbicara tentang isu pengelolaan dan perencanaan sumber daya laut yang seimbang dengan melindungi lingkungan; solusi pembiayaan inovatif untuk taman laut dan kawasan lindung; memberikan studi kasus serta studi ilmiah untuk mengelola dan mengurangi ancaman lokal terhadap lautan, terumbu karang, dan perikanan karang seperti penangkapan ikan yang berlebihan, IUU Fishing, polusi, dan pembuangan di lautan.
Dia memaparkan pengalamannya selama 21 tahun bekerja di berbagai negara terkait konservasi kelautan dan pengembangan kapasitas riset ilmiah di Amerika Latin dan Afrika. Todd menyampaikan bagaimana strategi menghadapi menurunnya sumber daya laut di seluruh belahan dunia.
Kawasan Perlidungan Laut atau Marine Protecting Area (MPA) dan pengelolaan perikanan berkelanjutan adalah dua strategi penting untuk dilakukan dalam rangka melindungi sumber daya laut, katanya.
Keberadaan MPA terbukti meningkatkan sumber ikan di dalam dan di sekitar kawasan sehingga itu akan menguntungkan nelayan. Di seluruh dunia, kata dia, saat ini ada 3 juta hektar MPA dengan target ideal 14 juta hektar. MPA adalah managemen perlindungan kawasan dimana di dalam kawasan ini semua spesies laut dilindungi karena mereka memiliki arti penting bagi ekosistem.
Todd mengatakan Indonesia khususnya Aceh bisa mengakses pembiayaan pengelolaan MPA dari donatur internasional. Harus kreatif. Tunjukan keunikan MPA disini dan harus diiringi dengan penguatan komunitas.