BANDA ACEH – Gempa dan Tsunami di penghujung 2004 membuat Aceh semakin dikenal di nusantara hingga dunia dari berbagai aspek, termasuk bidang seni musik etniknya (kolaborasi vokal khas dipadu suara perkusi tradisi rapai dan seureune kalee). Siapa tidak kenal dengan Rafly dan grup Kandenya, suara khas pria yang kini menjadi anggota DPD RI tersebut sangat membumi.
Kemudian, muncul grup-grup Aceh etnik lainnya, seperti Bidjeh, Cupa, Saleum Grup, Suwa dan sejumlah grup lainnya membuat dunia musik Aceh semakin ramai. Baru-baru ini kembali muncul seorang vakolis berbakat, Asrul Halim alias Acun Lhok vokalis La Geunta Band, memiliki vokal sangat mirip Rafli, tapi tidak ingin disebut meniru Rafli.
Bagi musisi di Aceh, walau baru muncul, nama Acun Lhok sudah tidak asing lagi. Debutnya pertama dimulai dari mendirikan grup band etnik Meurandeh di Sabang. Tidak hanya mampu melantunkan lagu Aceh dengan baik, pria yang kini berumur 34 tahun itu juga apik membawakan dendang Melayu. Terutama lagu-lagu Melayu populer ciptaan P Ramlee. Bahkan hampir seluruh lagu dari penyanyi legendaris Malaysia itu mampu dibawakan dengan indah oleh Acun.
Ditemui portalsatu.com di sebuah studio musik di Banda Aceh, Sabtu, 12 November 2016, pria asli Matangkuli, Aceh Utara itu mengaku sudah menekuni dunia tarik suara sejak kecil, berawal dari mendengar syair dari radio lokal. Kemudian coba dinyanyikan dengan memainkan gitar milik kakaknya. Awalnya, bakat khas itu sempat ditentang keluarga, tapi akhirnya diaminkan oleh orang tua.
Saat kuliah ke Banda Aceh, Acun bertemu dengan sejumlah musisi Aceh. Setelah lulus menjadi Pegawai Negeri Sipil di Badan Lingkungan Hidup Kota Sabang, dia mulai mencoba bernyanyi dari kafe ke kafe, kemudian mencoba peruntungan di beberapa even festival musik Aceh dan jazz.
Tahun 2014 lalu, bersama rekannya Budi, dia berhasil menyabet juara dua lomba cipta lagu daerah tingkat nasional dengan lagunya Meurandeh, artinya Seberang. Lalu, bersama dengan rekan-rekannya diundang untuk mengisi beberapa acara di luar Kota Sabang, seperti di Lhokseumawe, Takengon, dan Banda Aceh.