TERKINI
PROFIL

Aceh Perlu Memulihkan Perannya di Nusantara

SEBAGAI Wilayah yang pernah menjadi pusat peradaban di Asia Tenggara, Aceh diharapkan mengambil tanggung jawab dalam masalah regional, yang meliputi Sumatra, Semenajung Melayu, dan nusantara…

LIPUTAN6 Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 805×

SEBAGAI Wilayah yang pernah menjadi pusat peradaban di Asia Tenggara, Aceh diharapkan mengambil tanggung jawab dalam masalah regional, yang meliputi Sumatra, Semenajung Melayu, dan nusantara secara luas.

Hal itu perlu dilakukan meskipun di dalam wilayahnya, Aceh masih memiliki banyak masalah, seperti kemiskinan, pendidikan rendah, korupsi di pemerintah, dan sebagainya.

Adalah penting mengambil peran sebagaimana di masa kejayaaan meskipun dalam skala dan bidang berbeda. 

Sebagai contoh, secara tanpa terencana, Aceh telah menjadi penyelamat bagi bangsa Rohingya yang terusir. Mengapa rakyat Aceh berani melawan kebijakan Jakarta dalam kasus Rohingya? 

Hal itu disebabkan warisan sifat beradab masih kita miliki, karena para nelayan masih ikut adat dan adab laut Aceh. Biasnya, Indonesia dan dunia harus ikut Aceh untuk menyelamatkan bangsa Rohingya yang terusir.

Kita tidak bisa mengabaikan peran sebagai pelindung dan penghubung di kawasan ini (Sumatra, nusantara,  termasuk Semenanjung Melayu). 

Lupakan sejenak buruknya cara pikir dan kinerja pengurus pemerintahan di Aceh, sebab tanpa mereka, Aceh ini tetap ada dan beradab.

Lakukan saja sesuatu yang dapat meningkatkan rasa percaya diri Aceh, moga-moga ke depan akan ada orang bijaksana dan jujur yang memimpin Aceh, bukan yang berperangai “seumpama bajak laut” seperti sekarang.

Rohingya hanya contoh kecil. Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan oleh para intelektual dan masyarakat walaupun pemerintah tidak mendukungnya. Seperti, menjalin silaturrahim antara para ulama dan saudagar di kawasan.

Hal itu terlihat sudah mulai dilakukan oleh beberapa pihak seperti dayah dan sekumpulan anak muda pencinta masjid. Dan perlu lebih dari itu. Para bangsawan dan ulama Aceh di zaman kejayaan pun menjalin hubungan dagang yang baik, selain penguatan Islam.

Masalah umat Islam di Mandanau, Filipina, juga Patani di Thailand, Rohingya di Burma, Muslim di Papua, juga masalah umat Islam di Aceh. Mestinya kita mengirim bantuan moril dan materil untuk membantu mereka keluar dari masaalahnya.

Walaupun pemerintah kita sudah seburuk orang jajahan Belanda, namun kita masih punya peluang untuk tampil sebagai Aceh, yang dikenal dunia sebelum kalah perang dengan Belanda.

Jalinlah kerjasama imbang dengan organisasi bisnis dan pendidikan di kawasan nusantara, lupakan propaganda sentralistik Jakarta yang merugikan Aceh.

Hapuslah cap citra buruk seperti ganja Aceh, cambuk, korupsi, perang, dan sebagainya. Kembalikan citra Aceh sebagai Serambi Mekkah.

Lihat warisan orang Aceh di zaman kejayaan di manuskrip-manuskrip, artefak, dan kearifan dalam masyarakat dunia Melayu. Aceh adalah pusatnya.

Jangan ditipu oleh isu politik yang dikembangkan politisi kerdil di Aceh. Tetapi, bangkitlah, gukakan pikiran jernih. Berpikir positif dan bertindak, serta memulai dari diri sendiri adalah kuncinya.

Aceh (terserah apapun status politik teroterialnya) mesti kembali menjadi pendamai, penengah, dan pusat peradaban di Asia Tenggara.[]

Thayeb Loh Angen, penulis Novel Aceh 2025, pencetus Gerakan Intelektual Aceh Muda.

LIPUTAN6
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar