BANDA ACEH Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) menggelar Seminar dan Workshop Bisnis Sosial di Kampus UUI Banda Aceh, Selasa, 1 Maret 2016. Seminar ini menghadirkan praktisi dan juga akademisi dalam bidang Bisnis Sosial, Prof Madya Masud Ibn Rahman dari Daffodil Internasional University, Bangladesh.
Kegiatan yang dibuka Wakil Rektor III UUI Donny Arief Sumarto ST MT dihadiri seratusan peserta dari kalangan dosen dan mahasiswa UUI.
Doni dalam sambutannya mewakili Rektor UUI, Prof Adjunct Marniati, M.Kes, mengajak mahasiswa UUI untuk menyerap pengetahuan dalam bidang bisnis sosial. Dia berharap mahasiswa UUI ke depan akan lebih banyak berperan dalam bidang entrepreneur.
Menurut Doni pelaksanaan seminar dan workshop ini merupakan bagian dari implementasi kerjasama antara UUI dan Daffodil.
Prof. Masud dalam paparannya mengatakan konsep bisnis sosial sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bisnis pada umumnya. Hanya saja, yang menjadi tumpuan utama bisnis sosial adalah untuk menjawab berbagai masalah sosial yang ada di masyarakat.
Bisnis sosial juga bertujuan untuk profit, tetapi profitnya itu tidak untuk dinikmati oleh orang perorang. Profit itu diinvestasikan kembali untuk kemanfaatan masyarakat, sehingga dampak sosialnya kepada masyarakat cukup besar, kata Masud, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Social Business Cell Daffodil Internasional University ini.
Dia juga mengutip pernyataan pelopor bisnis sosial, yang juga peraih Hadiah Nobel asal Bangladesh, Prof. Muhammad Yunus, yang menyatakan menghasilkan uang adalah satu kebahagian, tetapi membahagiakan orang lain itu superbahagia. Dia menyebutkan tentang kepeloporan Prof. Yunus dalam bidang sosial bisnis.
Pasca keberhasilan mengembangkan Grameen Bank, sebagai lembaga pembiayaan mikro tanpa agunan di Bangladesh, kini Prof. Yunus terus mengampanyekan kegiatan sosial bisnis di sejumlah Negara, seperti Amerika Latin, Jepang, Eropa dan kawasan Asia.
Ketika menjawab pertanyaan mahasiswa mengenai kemungkinan mengembangkan bisnis sosial di Aceh, Prof Masud mengatakan sangat memungkinkan. Pasalnya, bisnis sosial ini dikembakan berdasarkan permasalahan sosial yang ada di masyarakat. Dari itu, kata dia, kemudian para pelaku sosial bisnis dapat mengembangkan ide bisnis untuk memberikan solusi kepada masyarakat.
Mulailah dengan bisnis berskala kecil, fokuslah untuk mengembangkannya. Di Daffodil, kami berhasil menciptakan dua ribuan entrepreneur muda yang bergerak dalam bidang bisnis ini, kata pria yang juga Anggota Komisi Hak Azasi Manusia Bangladesh dalam bidang Perlindungan Anak.
Sejumlah contoh bisnis sosial yang sukses dikembangkan adalah porduksi susu yogurt bagi masyarakat miskin. Produk berlabel Shakti Yogurt ini dijual tanpa branding dan kemasan berbeda dengan produk sejenis yang dipasarkan secara komersil, sehingga harganya terjangkau untuk masyarakat miskin. Produk ini disasar untuk menjawab masalah malnutrisi bagi kalangan anak-anak dan balita di Bangladesh.[](bna)