Dakwah yang diperankan para ulama terdahulu hendaknya menjadi acuan kita dalam meneladani baik metode atau manajemennya. Dalam hal ini Abu Lueng Ie dalam kesehariannya mencoba berdakwah dengan kombinasi pengajian dan zikir.
Abu Lueng Ie semasa hidupnya sebagaimana diungkapkan putra beliau, Abon Tajuddin, sangat giat dan gencar dalam mensosialisasikan tarekat Naqsyabandiah ke seantero Aceh, baik Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie dan lainnya. Konsep Abu Lueng Ie di samping mengajarkan kepada masyarakat ilmu syariat baik fiqh, tauhid dan tasawuf juga mengimplementasikan nilai amaliah dengan bertawajuh.
Bahkan, menurut Abon Tajuddin, Abu kalau hanya sebatas pengajian saja tanpa tawajuhan, kurang lengkap dalam dakwahnya. Kegigihan dan tanpa pamrihnya Abu Lueng Ie dalam memperjuangkan syariat dan tarekat patut kita teladani. Beliau walaupun satu atau dua orang jamaah yang hadir dalam pengajian di luar dayah ke beberapa daerah, tetap hadir dan menyampaikan misi dakwahnya.
Di dayah Lueng Ie, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar setiap Selasa, Abu membuka pengajian umum. Jamaah yang datang pada masa Abu dulu sungguh sangat banyak. Di seputaran jalan Ulee Kareng, para jamaah yang kebanyakan berusia lansia dan dewasa berjejeran di jalan dengan jalan setapak dan lainnya. Pemandangan putih sangat kontras terlihat di kawasan seputaran Ulee Kareng dengan mereka jamaah berjalan dan bekendaraan saat itu.