LHOKSUKON – Rumah panggung tua itu dibangun atas swadaya masyarakat enam tahun silam. Di malam hari, dari sela-sela papan yang lapuk hanya terlihat bias cahaya temaram lampu teplok. Sejak puluhan tahun lalu keluarga ini belum merasakan terangnya lampu milik PT PLN.
Lantai rumah yang terbuat dari batang pohon pinang mulai lapuk dan berderit jika ada orang yang berjalan di atasnya. Di beberapa bagian bahkan ada yang patah dan bolong. Sebagian dinding rumah yang terbuat dari papan cor pun mulai dimakan rayap, sementara dinding lainnya terbuat dari bambu yang disusun sedikit jarang. Atap daun rumbia yang telah rusak ditempel dengan pelepah daun pinang tua (situek). Rumah itu hanya memiliki satu kamar tidur tanpa perabotan rumah tangga.
“Nyan keuh lage nyoe rumoh kamoe, nyoe pih lah pina dipeuget le ureung gampong. Rumoh awai ata ureung chik ka reubah,” kata Mariati, 45 tahun, saat ditemui portalsatu.com di rumahnya, di Gampong Asan Krueng Kreh, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara, Kamis, 16 Maret 2016 sore.
Saat ditanyakan perihal tidak adanya aliran listrik, wanita tua itu menjawab, “hana peng ngen ta pasang listrek, ek tamita keu pajoh manteng ka alhamdulillah. Menyoe malam kamoe tet panyet sagai. Magun manteung ngen kaye.”
Diceritakan Mariati, bocah perempuan berusia tiga tahun itu adalah cucunya dari almarhum anaknya, Masyitah yang meninggal sepekan setelah melahirkan. Sejak menantunya menikah lagi, ia tidak pernah datang menjenguk Rizma (cucu).