TERKINI
EKBIS

Begini Cara Meningkatkan Produksi Kopi Gayo

Peningkatan suhu juga berimplikasi timbulnya penyakit penggerek buah.

DATUK HARIS MOLANA Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 5.2K×

TAKENGON – Ketua Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo, Mustafa Ali, memberitahukan cara meningkatkan produksi kopi Arabica Gayo. Pasalnya saat ini banyak yang mengkhawatirkan penurunan produktivitas kopi Gayo akibat meningkatnya suhu global.

“Secara umum iklim di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, meningkat 0,67 derajat dari normalnya yang biasa berada pada suhu rata-rata 23 derajat celcius,” kata Mustafa. 

Menurutnya, peningkatan suhu tersebut bisa mengakibatkan produktivitas kopi menurun 10 hingga 30 persen dari biasanya. Peningkatan suhu juga berimplikasi timbulnya penyakit penggerek buah yang sebelumnya hanya terdapat pada wilayah relatif lebih rendah. Dia mencontohkan seperti di wilayah Kecamatan Rusip Antara dan Celala atau berada pada ketinggian di bawah 1000 meter dari permukaan laut.

“Kalau sekarang penyakit penggerek buah sudah ditemukan di wilayah yang relatif lebih tinggi,” katanya.

Mustafa juga mengajak semua pemangku kepentingan untuk lebih peduli terhadap produktivitas kopi Gayo. Menurutnya, penurunan produksi turut berimbas pada penghasilan petani.

Dia mengatakan ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk tetap menjaga produksi kopi atau bahkan meningkatkannya. Salah satunya adalah menekankan pentingnya penyuluh pertanian untuk mengawal para petani, di samping kesadaran petani untuk meningkatkan produksi.

Selain itu, petani juga perlu menanam sengon di pinggiran atau batas antar kebun kopi. Sengon ini bertujuan untuk memecah angin sehingga proses pembuahan tanaman kopi tidak terganggu.

“Peningkatan persentase tanaman pelindung Petai China atau Lamtoro sebesar 30 hingga 40 persen dari jumlah tanaman kopi juga menjadi perhatian untuk meningkatkan produktivitas,” katanya.

Dia mengatakan ada yang sudah mampu memproduksi 2 hingga 3 ton kopi per hektar per tahunnya bagi petani yang rajin.

“Jadi mindset petani harus diubah, penyuluh harus lebih sering melakukan bimbingan langsung ke kebun-kebun kopi, harus ada target minimal satu batang kopi dapat menghasilkan 2 kilo green bean. Jadi kalau ada 1000 batang pohon dapat menghasilkan 2 ton kopi,” kata Mustafa.

Sebagai catatan, Kabupaten Aceh Tengah saat ini memiliki luas tanam kopi Arabica terbesar di Indonesia yaitu mencapai 48.300 hektar, dengan produksi rata-rata 720 kilogram per hektar per tahunnya.[](bna)

DATUK HARIS MOLANA
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar